TI Prediksi Usaha Forwarding Global Tahun Ini Minus (- 10,2%)

Usaha bisnis forwarding global pada tahun ini (2020) diperkirakan akan tumbuh – 10,2% dari tahun lalu (2019), demikian disampaikan lembaga research global Transport Intelligence (TI). Menurut TI, ini merupakan kinerja terburuk sektor ini sejak krisis finansial pada 2008-2009.

Pada semester 1 (Januari-Juni) 2020, sektor forwarding global tumbuh – 11,6% dibanding semester yang sama tahun lalu. TI memperkirakan kinerja semester 2 (Juli-Desember) 2020 akan lebih baik dibanding semester 1 seiring pelonggaran lockdown aktivitas ekonomi pada periode tersebut, sehingga secara keseluruhan, nilai kontraksi tahunan akan lebih kecil dari semester 1.

Secara ringkas, hasil analisis TI adalah sebagai berikut:

  • Usaha freight forwarding semester 1: – 11,6%
  • Usaha freight forwarding global 2020 : – 10,2%
  • Sea freight forwarding (angkutan laut) 2020: – 6,4%
  • Air freight forwarding (udara) 2020 : -13,9%

Menurut TI, forwarding angkutan udara (air freight forwarding) adalah sub-sektor yang mengalami kontraksi terdalam, yakni sebesar -13,9%. Hal ini menjadikan air freight forwarding untuk kedua kalinya secara berturut-turut mengalami kontraksi. Pada thaun lalu (2019), air freight forwarding mengalami pertumbuhan negative, yakni -4,1%, terutama dipicu karena perang dagang China-Amerika.

Seperti trend umumnya pada sektor ini, kontraksi keseluruhan air freight forwarding pada tahun 2020 lebih bagus dibanding pada semester 1, dengan persentasi pertumbuhan sebesar – 15,3%. Namun, kendati adanya pelonggaran lockdown pada paruh kedua tahun ini (semester 2), tidak akan menjamin sub-sektor ini akan tumbuh signifikan.

Trend yang sama juga terjadi pada sea forwarding market (angkutan laut), kendati masih lebih baik dibanding angkutan udara. Pada semester 1, sea forwarding market tumbuh -7,6%, sedangkan secara keseluruhan pada tahun 2020 diperkirakan tumbuh – 6,4%.

Mengomentari kinerja tersebut, analis TI Andy Ralls mengatakan rontoknya kinerja usaha freight forwarding tersebut tidak mengherankan, karena baik volume (demand) maupun kapasitas (supply) di bidang perdagangan mengalami penurunan yang cukup besar sebagai dampak dari berhentinya aktivitas ekonomi, khususnya manufacturing, selama merebaknya pandemi covid-19.

Sejak awal merebaknya virus tersebut di China, hasil produksi manufacturing terus mengalami kemerosotan. Hal ini berdampak pada menurunnya volume ekspor impor, baik yang sifatnya regional maupun lintas benua.

“Ini situasi yang sangat menantang, baik untuk para pelaku air freight forwarding maupun sea freight forwarding. Para pelaku dipaksa untuk melakukan berbagai strategi, termasuk menaikkan tariff kepada pemilik barang, sehingga keseimbangan kinerja keuangan tetap terjaga,” kata Andy Ralls dalam press release yang diterima Indonesia Shipping Gazette.

Andy Ralls mengakui soal ketidakpastian kapan sektor ini mulai bangkit karena masih belum jelas kapan ekonomi global mulai recovery.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *