Hanya Tiga Perusahaan Pelayaran Container Global Dalam Zona Aman: Drewry

Disrupsi aktivitas ekonomi dan perdagangan selama semester pertama tahun ini (2020) sebagai dampak dari merebaknya coronavirus (covid-19) akan berdampak pada menurunnya kinerja industri pelayaran kontener (container shipping) dalam waktu yang cukup lama, bahkan hingga tahun depan.

Demikian pandangan yang disampaikan Drewry, sebuah lembaga analis dan konsultan pelayaran yang berbasis di London.

Bahkan, jika aktivitas ekonomi dan perdagangan tidak segera pulih dan masih berlangsung hingga akhir tahun, dampaknya bagi industry container shipping akan lebih lama. Tidak hanya itu, Drewry bahkan dengan berani memprediksi sebagian pemain sektor ini terancam bankrut dan hanya sebagian kecil yang bisa bertahan.

Direktur Bidang Supply Chain Drewry Philip Damas dan Senior Manager Bidang Container Research Simon Heaney memaparkan sejumlah kemungkinan yang akan terjadi. Menurut mereka, peluang terbaiknya adalah industri dan perdagangan akan segera pulih memasuki semester kedua. Jika demikian yang terjadi, maka penurunan kinerja sektor ini pada tahun 2020 hanya sekitar 8%. Namun, jika disrupsi yang terjadi masih berlanjut, kinerjanya akan lebih buruk, bisa turun hingga 12%.

Simon Heaney mengatakan pada semester kedua (H2) 2020 total throughput pelabuhan global diperkirakan turun 16% dibanding periode yang sama tahun lalu (H2 2020). “Ini akan menjadi kinerja terburuk industri ini sejak krisis finansial pada 2009,” katanya.

Menurut Simon Heaney, jika pandemi ini masih berlanjut dan berefek pada semakin turunnya aktivitas ekonomi dan perdagangan, industri container shipping akan semakin terpuruk. Sektor ini diperkirakan akan turun hingga 12% pada tahun ini (2020). Bahkan penurunan industri ini akan berlanjut ke tahun depan. “Jika situasinya terus seperti ini, tahun depan (2021), sektor ini akan turun sekitar 6%,” tegasnya.

“Efeknya akan separah itu. Ini menuntut pelaku industri ini mengambil langkah-langkah yang lebih radikal untuk bisa keluar dari krisis, lebih dari sekedar melakukan penyesuaian seperti kebijakan pembatasan pengoperasian kapal (blank sailing) sebagaimana yang marak terjadi saat ini,” tegasnya.

Namun, Simon Heaney juga mengingatkan agar tidak gegabah dalam pengambilan langkah-langkah radikal tersebut. “Tak diragukan akan banyak kapal yang idle, pengurangan tenaga kerja, dan bahkan ancaman kebangkrutan jika langkah yang diambil tidak tepat,” jelasnya.

Drewry baru saja menganalisis 11 perusahaan raksasa global terkait ketahanan keuangan mereka dalam situasi saat ini. Hasil analisis dengan metode Z-score menempatkan delapan dari 11 perusahaan tersebut berada dalam zona tidak aman (Z score’s financial distress zone).

“Hanya ada tiga perusahaan yang masih berada pada zona aman,” tegas Philip Damas, Direktur Bidang Supply Chain, Drewry. Dia menjelaskan analisis Z scores Drewry didasarkan pada data keuangan perusahaan pada akhir 2019. Sayangnya, Drewry tidak merinci nama-nama dari perusahaan tersebut.

“Jadi, dengan mempertimbangkan penurunan market saat ini, Z-scores perusahaan-perusahaan tersebut akan semakin memburuk. Dan bukan tidak mungkin ada beberapa perusahaan yang akan mengalami kebangkrutan,” lanjutnya.

Menurut Philip Damas, penurunan volume sebesar 8% dalam industri ini ekuivalen dengan kehilangan pendapatan sebesar US$18 miliar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *