Pelayaran Global Akan Rugi $23 Miliar Jika Gagal Pertahankan Tarif: Sea-Intelligence

Perusahaan pelayaran gobal akan mengalami kerugian yang sangat besar jika gagal mempertahankan tariff (freight rate) yang ada saat ini. Dengan asumsi ada penurunan volume sebesar 10%, kuntungan pelayaran global hanya akan turun sebesar $6 miliar dari tahun lalu. Tetapi jika gagal mempertahankan tariff yang ada saat ini dan menyentuh level terendah pada tahun lalu (2019), keuntungan pelayaran akan turun sebesar $23 miliar.

Demikian disampaikan sejumlah lembaga analisis dengan melihat trend penurunan volume yang menyebabkan semakin tingginya kapal yang idle pada kuartal ke-2 tahun ini.

Menurut laporan konsultan Sea-Intelligence, perusahaan pelayaran membatalkan sebanyak 212 jadwal pelayaran pada perdagangan minggu lalu yang berakhir pada Jumat, 17 April, naik sebesar 228% dari minggu sebelumnya sebanyak 45 jadwal. Hal ini, menurut konsultan Sea-Intelligence, berdampak pada penurunan kapasitas angkut. Untuk rute Asia Eropa misalnya, terjadi penurunan kapasitas sebesar 29 hingga 34%.

Menurut Sea-Intelligence, pembatalan-pembatalan tersebut disebabkan karena menurunnya volume impor dari negara-negara Eropa dan Amerika.

Sebagaimana dilaporkan sebelumnya, pada tanggal 1 April, Aliansi pelayaran The Alliance yang beranggotakan Hapag-Lloyd, Yang Ming, Ocean Express Network, dan Hyundai Merchant Marine, mengumumkan pembatalan 32 jadwal pelayaran selama bulan April.

“Menurut analisis kami, pembatalan atau penangguhan pelayaran tersebut disebabkan karena adannya penurunan permintaan sebesar 20 hingga 30%,” kata Direktur Sea-Intelligence Andy Lane.

Sebelumnya, organisasi perdaganagan dunia WTO (World Trade Organisation) meprediksi volume perdagangan global akan turun 13 hingga 32% pada tahun ini (2020) karena merebaknya pandemi covid-19.

WTO juga masih sanksi apakah aktivitas ekonomi bisa pulih secara total pada tahun depan (2021). Keraguan WTO disebabkan karena sifat penyebaran pandemi ini yang susah diprediksi, sementara pada sisi lain langkah-langkah untuk menghentikannya sangat bergantung pada sejauh mana efektivitas penanggulangannya pada masing-masing negara.

Turunnya volume container juga sangat berdampak pada produktivitas Pelabuhan. Seaport Alliance, sebuah konsorsium operator pelabuhan di Pelabuhan Kontener Kwai Tsing (Hong Kong), terkena dampak akibat ada penurunan throughput sebesar 11% pada periode Januari-Februari tahun ini.

Dalam situasi seperti ini, perusahaan pelayaran harus lebih hati-hati dalam pengambilan kebijakan, termasuk soal pentarifan, agar tetap bisa survive. Menurut Sea-Intelligence, penurunan volume pasti terjadi, walau belum ada angka yang pasti. Agar pelayaran bisa tetap survive dalam situasi seperti ini, perlu ada kebijakan tarif yang lebih hati-hati.

Tanpa ada kebijakan tariff yang ketat, pelayaran akan mengalami kerugiaan besar. Menurut analisa Sea-Intelligence Jika tarif bisa dipertahankan pada level saat ini, maka dengan asumsi volume turun sebesar 10%, keuntungan industri pelayaran akan turun sebesar US$6 miliar dari keuntungan tahun lalu (2019).

Akan tetapi, kerugian akan semakin membesar jika tariff tidak bisa dipertahankan atau melemah. Jika tarif turun hingga pada level terburuk pada tahun lalu (2019), total kehilangan keuntungan industri pelayaran akan mencapai $23 miliar.

Menueurt Drewry, freight rate (spot freight rates) pada bulan April 2020 lebih tinggi 20% dibanding bulan yang sama tahun lalu (2019). Jika hal ini bisa dipertahankan, akan sangat membantu industri pelayaran dari kerugian yang lebih besar.

Menurut catatan Lane, pada tahun 2019, total keuntungan top-15 perusahaan pelayaran tahun lalu mencapai $5,9 miliar.

“Berdasarkan laporan kinerja keuangan pada 2009, krisis pada tahun 2008 menyebabkan perusahaan pelayaran mengalami peurunan keuntungan sebesar 26% dari tahun sebelumnya. Jika dampak krisis tahun ini sama dengan dampak krisis 2008, maka total kerugian perusahaan pelayaran sama dengan akumulasi keuntungan mereka selama delapan tahun terakhir,” kata Lane.

Hal yang sama diungkapkan lembaga analis industri pelayaran Alphaliner. Menurut Alphaliner hingga akhir Maret, terdapat 338 kapal kontener yang idle dengan total kapasitas mencapai 2,12 juta TEU. Ini setara dengan 9.1% dari total kapasitas global. Bahkan, Alphaliner memperkirakan total idle akan mencapai 3 juta TEU pada bulan Mei.

“Jika pada gelombang pertama kapal idle karena turunnya volume perdagangan dengan China, pada gelombang kedua ini kapal idle disebabkan karena adanya sejumlah pembatalan hampir pada semua rute karena penurunan volume perdagangan,” kata konsultan Alphaliner Tan Hua Joo.

Hal yang sama disampaikan Drewry. Han Ning, Direktur Drewry untuk China, mengatakan pada kuartal kedua (April-Juni), kapasitas pelayaran akan turun sebesar 20 hingga 25% untuk rute Asia-Eropa (Far East- Europe/Mediterranean) dan sebsar 17 – 20% untuk rute Asia-Amerika (Far East-US).

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *