Berapa Keuntungan Pelayaran Jika Bisa Pertahankan Tariff yang Ada Saat Ini?

Kendati pandemi covid-19 cukup menggerus volume industri pelayaran selama semester pertama tahun ini (H1), Januari – Juni, namun kinerja keuangan dari hampir semua pemain besar pelayaran kontener global, sangat positif. Rata-rata semua menuai kenaikan laba bersih. Padahal, hampir semua mengalami penurunan volume.

Menurut data sejumlah lembaga analis dan konsultan pelayaran, pada H1 2020, penurunan volume berkisar antara 15-20%. Sementara laba bersih naik cukup signifikan, bahkan ada pelayaran menuai kenaikan hingga double digit. Ini berkat tariff (freight rate) yang sangat terjaga baik, jauh lebih tinggi dari tahun lalu.

Memang, sejak Maret, hingga berlanjut ke kuartal kedua (Q2), keuntungan juga terbantu oleh menurunnya biaya operasional menyusul turunnya harga bahan bakar, padahal pemasukan dari fuel surcharge sebagai kompensasi dari kewajiban penggunaan bahan bakar rendah sulfur cukup mendongkrak pendapatan pelayaran. Dan Ketika harga bahan bakar turun hingga 50% dari harga awal tahun, fuel surcharge masih berlaku, belum dicabut.

Memasuki semester kedua (H2) tahun ini, kelihaian perusahaan pelayaran akan diuji. Apakah mereka mampu untuk menjaga stabilitas harga di tengah pertumbuhan volume yang belum menentu. Menurut lembaga analisis dan konsultan pelayaran Sea-Intelligence Maritime Consulting, jika pelayaran mampu menjaga stabilitas tariff dan tidak terjebak dalam perang tariff, keuntungan mereka pada tahun ini akan semakin membesar. Tetapi sebaliknya, jika mereka terjebak perang tariff, mereka akan kehilangan potensi tersebut.

Lalu berapa besaran tambahan keuntungan jika bisa mempetrtahankan tariff saat ini dan berapa potensi kehilangan jika mereka terjebak dalam perang tariff? “Pelayaran akan menuai tambahan keuntungan sebesar US$9 miliar jika bisa pertahankan tariff saat ini. Tetapi, jika mereka terjebak dalam perang tariff yang menyebabkan turunnya freight rate, mereka bisa kehilangan potensi keuntungan hingga $7 miliar,” kata Alan Murphy, CEO of Sea-Intelligence Maritime Consulting, sebagaimana ditulis IHS Media.

Bahkan, menurut Alan Murphy, keuntungan akan semakin bertambah jika mereka bisa terus berupaya menaikkan tariff seperti trend yang terjadi dalam beberapa pekan terakhir.

Alan Murphy mengakui di tengah turunnya volume pelayaran pada semester pertama tahun ini, kinerja keuangan sangat di luar dugaan. Menurutnya, kinerja keuangan perusahaan pelayaran yang sangat positif benar-benar di luar dugaan dan prediksi, termasuk prediksi Sea-Intelligence. “Semua akan memperbaiki perdiksi nya,” kata Alan Murphy.

Menyusul merebaknya covid-19 yang menyebabkan turunnya volume perdagangan yang cukup signifikan, sejumlah lembaga memprediksi industri pelayaran akan mengalami kerugiaan yang cukup besar pada 2020. Ada yang memprediksi kerugian pelayaran pada tahun ini akan tembus angka $23 miliar. Hal ini berdampak pada menurunnya laba bersih. Perhitungan ini didasarkan karena maraknya blank sailing (penagguhan jadwal pelayaran). Banyak yang memprediksi sejumlah pelayaran akan mengalami kebangkrutan.

“Tetapi melihat situasi saat ini di mana kinerja keuangan sangat positif, tidak ada sedikitpun indikasi adanya potensi bangkrut di sektor pelayaran kontener. Memang sebelumnya ada skenario pesimisme, di mana, pelayaran akan terpuruk karena penurunan volume. Namun hal ini kelihatannya tak terbukti. Kinerja keuangan pelayaran tetap positif setidaknya sampai semester pertama. Dengan skenario yang optimis, kinerja pelayaran akan semakin membaik kendati volume turun, jika tetap bisa pertahankan tariff saat ini,” jelas Alan Murphy.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *