Pelayaran Mulai Cemas Aturan Penggunaan Bahan Bakar Rendah Sulfur Berpotensi Kurangi Keuntungan

Penerapan aturan baru IMO (International Maritime Organization) terkait kewajiban penggunaan bahan bakar rendah sulfur pada level maksimum 0,5%, dari 3,5% sebelumnya, berpotensi menurunkan pendapatan mereka. Pasalnya, harga bahan bakar dengan kandungan sulfur rendah (low sulphur fuel oil/LSFO) jauh lebih mahal.

Sejumlah perusahaan pelayaran sudah secara terbuka mengemukakan hal tersebut. Harga bahan bakar LSFO yang lebih tinggi dari bahan bakar yang lazim mereka gunakan selama ini (high sulphur fuel oil/HSFO) menambah beban pengeluaran mereka.

Hampir semua perusahaan pelayaran besar global, termasuk Pelayaran German Hapag-Lloyd, mengakui aturan baru tersebut membuat mereka merogoh kocek lebih dalam. Dan ini tentu berdampak pada keuntungan yang akan mereka peroleh.

“Ini tentu tidak mudah bagi kami untuk mendapatkan kentungan yang lebih besar di tahun ini (2020),” kata Rolf Habben Jansen, CEO Hapag-Lloyd sebagaimana ditulis Reuters.

Menurut Habben Jansen, tingginya pengeluaran perusahaan pelayaran tidak hanya disebabkan harga bahan bakar yang lebih mahal, tetapi juga karena biaya yang dikeluarkan untuk memodifikasi kapal agar bisa sesuai dengan bahan bakar yang baru.

Memang ada potensi peningkatan pendapatan dari membaiknya tarif freight yang diperkirakan akan meningkat tahun ini, plus pendapatann dari fuel surcharge yang akan dikenakan kepada pemilik barang. Tetapi, menurut Habben Jansen, untuk tahun perdana pelaksanaan aturan ini, kenaikan pengeluaran masih lebih besar, sehingga berpotensi pada pernurunan keuntungan.

Kendati demikian, Habben Jansen tetap optimis hal ini tidak akan berdampak besar terhadap kinerja pelayaran ini secara menyeluruh. Apalagi, pertumbuhan volume Hapag-Lloyd tetap positif pada setahun terakhir. Pada tahun lalu, perusahaan terbesar ke-5 di dunia tersebut mengalami pertumbuhan sekitar 1.5%, atau menangani sekitar 9,01 juta TEUS sepanjang 2019.

“Pertumbuhan volume yang kami tangani masih lebih tinggi dari pertumbuhan industri global yang diperkirakan sebesar 1%,” jelas Habben Jansen.

Organisasi Maritim Internasional (IMO/International Maritim Organization) mewajibkan kepada setiap negara anggotanya untuk menerapkan penggunaan bahan bakar rendah sulfur pada industri pelayarannya mulai tahun depan. Aturan mandatori tersebut mulai berlaku sejak 1 Januari 2020.

Menurut aturan baru IMO, kapal harus menggunakan 0,5% atau lebih rendah bahan bakar sulfur. Artinya, high sulphur fuel oil (HSFO) harus diganti dengan low sulphur fuel oil (LSFO).

Program ini dinilai dapat memberi dampak positif bagi lingkungan. Sebab, menurut IMO, penurunan kandungan sulfur pada bahan bakar dari 3,5% menjadi 0,5% dapat membuat emisi dari kapal berkurang sekitar 77%.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *