Aksi Konsolidasi Pelayaran Gagal Naikkan Tariff/Freight Rate

Dalam beberapa tahun terakhir, industri pelayaran global, terutama pelayaran container, beramai-ramai melakukan konsolidasi melalui kegiatan merger, akuisisi, dan pembentukan aliansi baru (alliance). Di samping untuk meningkatkan ekspansi pasar dan pengurangan biaya operasional, banyak yang berharap dan memperkirakan konsolidasi tersebut dilakukan untuk menciptakan stabilitas tariff (freight rate) dan bahkan memberikan pricing power yang lebih kuat bagi pelayaran dalam menentukan dan menaikkan harga. Apakah hal tersebut terwujud?

Kalau menilik perkembangan indeks freight rate pada beberapa rute dalam beberapa tahun terakhir, jawabannya adalah tidak. Konsolidasi mungkin mampu menurunkan operational cost, tetapi tidak memiliki pricing power dalam menaikkan freight rate.

Indeks global dari beberapa rute sebagaimana ditunjukkan Freightos Baltic Daily Index, freight rate tidak mengalami kenaikan pasca masif konsolidasi dalam beberapa tahun terakhir. Pada periode 1 Januari 2017 hingga 1 Januari 2020, global index (SONAR: FBXD.GLBL) tidak mengalami perubahan, bahkan turun 1%.

Memang ada beberapa rute yang mengalami kenaikan. Dalam tiga tahun terakhir indeks China – Northern Europe (SONAR: FBXD.CNER) meningkat 5%. Sementara itu, pada periode yang sama, indeks China – North American West Coast (SONAR: FBXD.CNAW) turun sebesar 10%.

Dalam periode setahun terakhir, trendnya juga tidak membaik. Pada 1 Januari 2019 hingga 1 Januari 2020, Freightos global index turun 7%. China-North America West Coast mengalami penurunan yang drastis sebesar 31%, sementara rute China-North Europe mengalami kenaikan, kendati hanya sebesar 1%.

Banyak pihak menilai, penurunan tariff rute China-Amerika terutama disebabkan oleh perang dagang China-Amerika yang berdampak pada turunnya impor US dari China. Namun apapun alasannya, konsolidasi sejumlah pelayaran tidak mampu menjaga stabilitas tarif, apalagi menaikkannya.

Trend ini juga terlihat dari indeks hasil kompilasi data mingguan yang di-release Drewry. Lembaga analisis market yang berbasis di London ini juga menunjukkan trend mingguan yang cendrung turun. Selama tujuh tahun terakhir (2013-19), Global Composite Index (SONAR: WCI.GLOBCOMP), menurut Drewry, turun 27%, dengan rincian rute Shanghai-Los Angeles (SONAR: WCI.SHALAX) dengan indeks penurunan mencapai 29% dan rute Shanghai-Rotterdam (SONAR: WCI.SHARTM) turun 14%.

Indeks tarif tersebut tentu sangat di luar dugaan mengingat masifnya aksi merger, akusisi, dan pembentukkan aliansi baru pada beberapa tahun terakhir.

Trend ini masif dimulai sejak 1 Januari 2013 yang diawali aksi merger antara COSCO dengan China Shipping dan membentuk China COSCO Shipping. Menyusul kemudaian perusahaan hasil merger ini membeli OOCL. Beberapa perusahaan kemudian melakukan aksi pembelian, termasuk Hapag-Lloyd yang membeli CSAV dan United Arab Shipping; Hamburg Sud membeli CCNI dan kemudian Maersk membeli Hamburg Sud.

Tak mau kalah dengan para pesaingnya, perusahaan pelayaran milik Perancis CMA CGM juga melakukan hal yang sama. Perusahaan pelayaran terbesar ke-3 secara global ini membeli NOL.

Melihat aksi para pelayaran besar Eropa dan China tersebut, sejumlah pelayaran besar dari Negeri Matahari Terbit, Jepang, juga tidak mau kalah. Tiga pelayaran terdepan di negara tersebut (“K” Line, MOL, dan NYK) melakukan aksi merger dan membentuk Ocean Network Express (ONE), sebuah mega pelayaran baru yang langsung menduduki top-5 dari sisi market.

Belum cukup dengan aksi merger dan akuisisi tersebut di atas dalam menguasai pasar, para pelayaran global tersebut juga gencar membangun aliansi baru. Pelayaran yang menduduki posisi pertama dan kedua secara global, Maersk dan MSC, membentuk 2M Alliance. Aksi ini direspons CMA CGM, China COSCO Shipping, dan Evergreen dengan membentuk Ocean Alliance dan oleh Hapag-Lloyd, ONE, dan Yang Ming dengan THE Alliance. Keanggotaan THE Alliance kemudian bertambah tahun lalu dengan bergabungnya HMM.

Aksi-aksi tersebut di atas tidak mampu memberikan keuntungan bagi para perusahaan pelayaran melalui kenaikan freight rate. Yang menikmati justru para pemilik barang karena harga freight dalam beberapa tahun terakhir cendrung menurun. (Kompilasi dari sejumlah sumber)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *