Gangguan pada rantai pasok kontainer yang terjadi saat ini diperkirakan akan berlanjut hingga 2022, dengan ketepatan jadwal pelayaran merupakan faktor kunci. Hal tersebut dilontarkan Hans Nagtegaal, Direktur Containers Port of Rotterdam
Jika keadaan normal, peningkatan volume tahun ini (sedikit di atas level 2019) sebenarnya tidak menciptakan chaos (gangguan) dalam rantai pasok (supply chain). Namun, efek dari merebaknya Covid-19 yang memicu terganggunya jadwal pelayaran, menyebabkan terjadinya chaos rantai pasok.
Menurut Emile Hoogsteden, Wakil Presiden Komersial Pelabuhan Rotterdam, peningkatan volume pada tahun ini tercermin dalam data throughput hingga kuartal 3, termasuk di Pelabuhan Rotterdam. Volume kontainer pada Pelabuhan terbesar di Eropa tersebut, 7,8% dalam tiga kuartal pertama tahun 2021, sementara dari sisi tonase naik 4%. Pertumbuhan ini berlanjut hingga Oktober meskipun pada tingkat yang lebih lambat karena volume sudah mulai meningkat lagi pada bulan yang sama tahun lalu paska-lockdown Covid-19.
“Kami senang melihat volume yang kami miliki sekarang berada di atas level 2019 dan kami berharap akan berlanjut hingga 2022,” katanya dalam briefing media online baru-baru ini. Pelabuhan Rotterdam menangani 11,5 juta TEU dalam tiga kuartal pertama 2021 dibandingkan dengan 11,2 juta TEU pada periode yang sama pada 2019.
Pertumbuhan ini dilatarbelakangi oleh masalah reposisi kontainer kosong, peristiwa seperti penyumbatan Terusan Suez oleh Ever Given, dan penutupan sebagian besar Pelabuhan Yantian karena wabah Covid-19 yang menyebabkan meningkatnya kemacetan pelabuhan dan dislokasi rantai pasok secara global.
Hans Nagtegaal, Direktur Containers Port of Rotterdam, menyoroti bahwa ketepatan jadwal jalur kontainer selalu rendah tahun ini. Menurut analis, ketepatan jadwal jalur kontainer global Sea-Intelligence mencapai 34% pada bulan September dengan rata-rata di 34 perdagangan yang berbeda.
“Kami melihat bahwa waktu tunggu dan juga waktu sandar di terminal semakin meningkat dan itu menciptakan antrian besar. Sebagai conton di Rotterdam, waktu sandar rata-rata untuk sebuah kapal kontainer naik dari empat menjadi sekitar tujuh hari,” jelas Nagtegaal.
Dia mengatakan situasi pelabuhan seperti ini akan berlanjut hingga 2022. Nagtegaal menganalogikan rantai pasok dengan gear yang dikencangkan dan membutuhkan pelumas untuk memungkinkan mereka berjalan lancar lagi.
“Kami benar-benar membutuhkan pelumas, dan pelumas yang kami butuhkan adalah ketepatan jadwal. Itu akan menjadi langkah pertama di mana kita melihat perubahan global sebagai efek dari ini. Kami membutuhkan tempat dimana ketepatan jadwal dapat dijalankan,” katanya.
Namun, ia mencatat bahwa itu tidak membantu bahwa 25% dari kapasitas kapal kontainer global pada dasarnya keluar dari pasar menunggu di luar pelabuhan untuk berlabuh dan menyayangkan ketepatan jadwal mereka yang buruk dalam hal keterlambatan dan kemacetan di pelabuhan.

