Kontainer Langka, Harga Kedelai Mahal, Tempe Pun Susah Didapat

Oleh: Bambang Sabekti, Pelaku Usaha dan Praktisi Maritim

Hari Minggu yang lalu, saya sama keluarga ke warung soto kwali ‘Mbak Yati” di daerah sekitar Taman Mini Indonesia Indah. Ketika istri saya bertanya “Mana tahu dan tempe gorengnya?”, si penjual soto bilang “Tidak ada,  karena pemasok tahu dan tempenya lagi pada mogok”. Saya dan istri bingung. Apa maksud pemasok tahu dan tempe pada mogok.

Pulang ke rumah, saya melihat salah satu siaran televisi nasional, mengabarkan para produsen atau pengrajin tempe dan tahu di beberapa daerah pada mogok, karena harga kedelai naik signifikan. Harga kedele naik dari Rp 7,300 menjadi 9.200/kg. Kenaikan yang fantatis, lebih dari 30%.  

Alasan kenaikan harga kedelai yang melangit karena faktor global. Harga komoditas ini mengalami kenaikan , sehigga harga kedelai impor ke Indonesia juga naik tajam. 

Sudah bertahun tahun kita mengimpor kedelai dari Amerika Serikat, Kanada dan Malaysia. Sungguh ironis memang, sebagai negara agraris, kita masih mengimpor bahan baku tahu dan tempe. 

Saya jadi ingat dua puluh tahun yang lalu ketika saya masih bekerja di peruasahaan pelayaran internasional yang berkantor pusat di Amerika Serikat. Setiap bulan, ratusan kontainer berisi kedelai dari Amerika Serikat diangkut perusahaan tersebut untuk dibongkar di Tanjung Priok dan Tanjung Emas. Tentu saja saya “take care” banget terhadap importernya yang berkantor di Jalan Percetakan Negara  Jakarta Pusat tersebut. Apalagi “term of shipment” nya adalah Free on Board (FOB) dimana importernya yang menentukan perusahan pelayaran yang dipakai  untuk pengapalannya dan membayar “ Ocean Freight”nya. 

Ternyata pengimporan kedelai terus berlangsung sampai sekarang, hingga saya punya cucu.  Swasembada pangan gampang diucapkan untuk jualan kampanye politik tetapi susah dilaksanakan.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, impor kedelai Indonesia sepanjang semester-I 2020 mencapai 1,27 juta ton atau senilai 510,2 juta dollar AS. Dengan kurs Rp 14.200/USD, ini setara dengan Rp 7,24 triliun. Dari volume impor tersebut, sebanyak 1,14 juta ton berasal dari Amerika Serikat (AS). 

Kelangkaan Kontainer

Penyebab kenaikan harga kedelai juga karena permintaan jauh melebihi pasokannya. Dan juga kesulitan penjual di AS untuk mengapalkan kedelainya ke Indonesia karena kelangkaan peti kemas/container secara global. 

Pengusaha pelayaran global lebih memilih mengalokasikan kontainernya untuk jalur China dan USA. China juga pengimpor kedelai terbesar dari AS. Pada bulan Desember lalu, permintaan kedelai China naik dua kali lipat  dari 15 (lima belas) juta ton menjadi 30 (tiga puluh) juta ton. Maka, adalah wajar, untuk hitung-hitungan bisnis, mending mengirim kedalai ke China yang kontainernya dapat digunakan untuk kebutuhan ekspor dari China ke USA (Trade Balance)  daripada mengirim ke Indonesia. Kelangkaan container di beberapa pelabuhan di AS (loading port) seperti  Los Angeles dan Long Beach berdampak pada pengiriman kedelai ke Indonesia.

Kita mesti hati-hati, kenaikan harga dapat terjadi pada bawang putih, mengingat selama ini kita mengimpor komoditas ini dari China. Dapat saja impor bawang putih kita terganggu karena kelangkaan container. Perusahaan Pelayaran Global memilih mengalokasikan kontainernya untuk ekspor dari China ke AS daripada untuk ekspor dari China ke Indonesia. 

Saat ini kita memang masih melihat ratusan container yang berisi bawang putih dibongkar di Tanjung Priok dan Tanjung Perak. 

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, nilai impor barang konsumsi Indonesia selama November 2020 mencapai US$ 1,30 miliar. Realisasi ini naik 25,52% dibandingkan Oktober 2020.

So, hati-hati, bukan hanya iklim yang mempengaruhi harga komoditas, tetapi kelangkaan container juga dapat membuat harga bawang dan kedelai meroket.

Terakhir, selamat tahun baru 2021 semoga di tahun ini kita dapat lebih berprestasi untuk negeri. 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *