‘Pekerjaan Rumah’ Integrasi Pelindo

  • by

Integrasi PT Pelabuhan Indonesia I, II, III dan IV tinggal menghitung hari. Berbagai persiapan sudah dilakukan. Salah satunya pembentukan sub holding berdasarkan klaster. Yang sudah terpublikasi, klaster peti kemas, multipurpose, logistik dan peralatan.

Jika melihat operasional berdasarkan kluster, proses integrasi diperkirakan bakal mulus. Pasalnya, sejauh ini Pelindo II sudah terlebih dahulu menginisiasi dan melaksanakannya. Sejumlah kegiatan bongkar muat peti kemas di pelabuhan-pelabuhan cabang sudah di-handle IPC TPK.

Begitu juga untuk non peti kemas sudah dilakukan PTP Multipurpose. Sedangkan CFC, depo dan lapangan di luar lini 1 dikerjakan MTI IPC Logistics. Untuk maintenance dan equipment dikelola PT JPPI. Di luar itu ada IKT yang khusus menangani bongkar muat kendaraan, dan juga JAI yang melayani pandu tunda.

Alhasil, dengan pengalaman menjalankan sistem klaster, business as usual yang dilakukan Pelindo selama ini tentunya tetap berjalan normal. Terlebih lagi, potensi gejolak sudah diantisipasi terlebih dahulu. Misalnya saja tak ada rasionalisasi karyawan, hitungan mas kerja dan lain-lain. Diskusi dengan para pentolan serikat pekerja di pelabuhan menunjukan proses integrasi mengarah pada soft landing.

Hemat kita, pembentukan holding pelabuhan tidak semata berhenti pada meningkatnya valuasi perusahaan. Lebih dari itu, harus menjadi trigger percepatan menurunnya ongkos logistik.

Pelabuhan memang sudah banyak berubah. Proses digitalisasi terus digenjot yang muaranya pada semakin efektifnya pelayanan. Dengan cara itu diharapkan efisiensi logistik bisa dilakukan.

Memang perlu data komprehensif untuk bisa memastikan sejauh mana dampak penurunan biaya logistik tersebut. Sebab menghitung ongkos logistik tak bisa parsial, tapi harus secara holistik.

Tapi karena isu yang diangkat soal integrasi Pelindo, harapan besar penurunan ongkos logistik terutama di Kawasan Timur Indonesia juga tersematkan pada holding tersebut.

Maka sekadar menyegarkan ingatan, gagasan membuat international hub port harus digaungkan lagi. Tentu konsepnya berbeda dengan diskusi tak berkesudahan tentang klaim-klaim pengelola pelabuhan sebelumnya tentang hub port.

Maksudnya, international hub port harus dibangun dengan mengenyampingkan nuansa kepentingan dari masing-masing pengelola pelabuhan. Toh, sistem logistik nasional sudah lama menyebut Kuala Tanjung dan Bitung (atau Sorong?) sebagai International Hub Port.

Karena itu alangkah baiknya jika holding Pelindo fokus pada pembangunan international hub port tersebut.

Pada gilirannya nanti, biarlah pelabuhan-pelabuhan eksisting menjadi hub domestik. Jika pun melayani internasional, hanya untuk direct call yang sudah berjalan.

Ada beberapa keuntungan. Pertama, mengurangi ketergantungan terhadap pelabuhan Singapura atau Malaysia. Kedua, menghidupkan jalur logistik yang pada gilirannya akan memicu tumbuhnya kawasan-kawasan ekonomi baru.

Ketiga, mengantisipasi ukuran kapal yang makin besar dan tentu membutuhkan dermaga makin panjang dan draft makin dalam. Apalagi ada kecenderungan perusahaan-perusahaan pelayaran internasional membentuk konsorsium dan mengoperasikan kapal yang makin besar. Akan sulit jika pelabuhan eksisting yang digadang-gadang sebagai hub port ‘disuntik’ terus-menerus agar bisa menyesuaikan dengan ukuran kapal.

Keempat, memberi peran lebih besar pelayaran nasional agar berjaya kembali sebagaimana dimaksud sebagai asas cabotage.

Karena itu keberadaan international hub port dalam pengertian sebenarnya amat dibutuhkan. Kapal-kapal milik perusahaan pelayaran internasional hanya berlabuh di situ. Selanjutnya kapal milik pelayaran nasional yang akan ‘mendistribusikan’ barang-barang ke pelabuhan-pelabuhan domestik. Masih ingat konsep pendulum nusantara? Seperti itulah nanti fungsi pelabuhan tersebut.

Pada gilirannya, holding pelabuhan punya peran yang lebih besar bukan semata membawahi sub-sub holding. Tapi juga agen perubahan dari penurunan biaya logistik. Mudah-mudahan ini pun jadi pekerjaan rumah holding pelabuhan untuk bisa dituntaskan.*

Bandung, 220921
Mang KF

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *