Saat ini, ada rata-rata 700 kapal dry bulk yang mengangkuat komoditas ekspor baik dari Rusia maupun Ukraina. Bagaimana nasib mereka nantinya jika perang benar-benar pecah dan menghentikan ekspor dari kedua negara tersebut?
Dalam beberapa tahun terakhir, Rusia dan Ukraina telah menjadi eksportir utama komoditas curah kering. Rusia terutama mengekspor batu bara, biji-bijian, produk baja dan pupuk, sementara Ukraina mengekspor biji-bijian, biji besi, dan juga sama seperti Rusia, produk baja. Ketegangan yang sedang berlangsung antara kedua negara dapat berubah menjadi perang skala penuh, yang berpotensi menghambat ekspor komoditas tersebut.
Setiap bulannya, ada lebih dari 700 kapal curah kering mengangkut produk-produk tersebut dari Rusia dan Ukraina. Bagaimana nasib kapal-kapal tersebut jika perang benar-benar pecah dan menghentikan aktivitas ekspor dari kedua negara tersebut?
Kapal-kapal ini pasti akan pindah, mencari pasar lain. Tentu saja ini akan berdampak pada ketidakseimbangan pasar. Pasar curah kering akan menghadapi pukulan ganda. Pada satu sisi supply akan naik sementara pada sisi lainnya demand akan turun.
Rusia memasok 42% dari total impor batubara negara-negara Uni Eropa pada tahun 2021 dan 16% dari kebutuhan batubara global. Jika perang yang akan datang menghentikan ekspor batu bara Rusia, pasokan global tidak akan cukup untuk menutupi berhentinya pasokan dari Rusia. Akibatnya, harga batubara akan melonjak, membatasi permintaan dari banyak negara Asia, yang selanjutnya mempengaruhi permintaan perdagangan dan pengiriman batubara.
Bertahun-tahun, mayoritas, negara-negara Eropa telah menghindari tenaga nuklir dan beralih pembangkit listrik berbahan bakar gas untuk kebutuhan listrik domestik. Rusia memasok sepertiga dari kebutuhan gas UE dan sebagian besar gas datang melalui pipa yang melewati Ukraina. Jika terjadi perang, pasokan gas juga akan terpengaruh, kenaikan harga gas yang akan menekan batu bara karena UE akan terpaksa beralih ke pembangkit listrik berbahan bakar batubara.
Selain itu, UE telah mengatakan bahwa pipa Nordstream 2 tidak akan mendapatkan persetujuan jika Rusia menginvasi Ukraina.
China baru-baru ini meningkatkan impor batubara (coking dan non-coking) dari Rusia di tengah ketegangan perdagangan sebelumnya dengan Australia. Jika Rusia tidak dapat memasok batubara ke China, China mungkin terpaksa membeli batubara Australia, yang jaraknya lebih jauh.
Sementara itu, Ukraina mengekspor sekitar 40% biji-bijiannya ke Timur Tengah dan Afrika Utara. Negara-negara ini sangat bergantung pada pasokan jagung dan gandum dari negara tersebut. Jika krisis memburuk, apalagi jika perang pecah, banyak kapal pengangkut komoditas tersebut, baik kapal Handysize, Supramax dan Panamax akan kehilangan angkutan.
Ukraina mengekspor sekitar 36,5 juta ton bijih besi pada tahun 2021, di mana lebih dari 60% diekspor ke China. Jika ekspor Ukraina berhenti, alternatif-nya adalah impor dari Australia. Namun, bisa dipastikan kebutuhan China yang begitu besar tak akan tertutup dengan impor dari Australia. Jaraknya pun lebih jauh. Yang pasti, hal tersebut akan berdampak signifikan terhadap volume angkutan komoditas biji besi global.
Intinya, jika perang antara Rusia dan Ukraina benar-benar pecah, ratusan kapal dry bulk yang saat ini mendapat angkutan dari sejumlah pelabuhan di Rusia dan Ukraina akan kehilangan muatan, akan idle.
Ada kemungkinan akan beralih ke sumber muatan baru. Misalnya China dan negara Eropa akan mencari sumber batu bara dari negara lain. Namun, volumenya pasti lebih kecil. Masih banyak kapal yang nantinya tidak akan dapat muatan.
Sumber: Drewry

