Skip to content

Krisis Ukraina: Bagaimana Dampaknya Terhadap Shipping

Situasi di Ukraina saat ini semakin menegangkan. Ribuan tentara Russia sudah siap diperbatasan. AS, Uni Eropa, dan Inggris mengingatkan bahaya yang akan timbul, termasuk implikasinya terhadap ekonomi global jika Russia benar-benar mewujudkan rencananya untuk invasi Ukraina. Bagaimana dampaknya terhadap industry shipping jika hal ini benar-benar terwujud?

Sejumlah Lembaga analis termasuk Maritime Strategies International, Alphatanker, JP Morgan,  dan Poten & Partners telah menyampaikan pandangannya tentang implikasinya terhadap shipping jika Russia benar-benar invasi Ukraina. Secara umum, lembaga-lembaga tersebut menyimpulkan invasi akan berdampak significant terhadap harga minyak, baik minyak mentah maupun bahan bakar, yang pada akhirnya berpengaruh terhadap industry shipping.

Get Free Latest Magazine by Join Our Weekly Newsletter:Click here to join free weekly newsletter

Kenaikan Bunker Cost

Dampak pertama yang akan dihadapi oleh industry pelayaran adalah kenaikan harga bahan bakar (bunker cost). Hal ini akan dialami oleh semua segmen pelayaran. Bunker cost selalu seirama dengan fluktuasi harga minyak mentah Brent.

“Situasi (krisis Ukraina) ini akan berdampak buruk terhadap pasar minyak,” kata Maritime Strategies International dalam Outlook Prospek Kapal Tanker Januari. “Ketegangan geopolitik seperti itu biasanya mendorong harga minyak naik,” tambah Maritime Strategies International.

Jika ekspor Rusia menjadi sasaran sanksi, efek harga minyak bisa sangat ekstrim. “Dampak utama dari sanksi apa pun terhadap ekspor Rusia adalah melonjaknya harga minyak mentah, yang berpotensi melebihi $100 per barel,” tulis Alphatanker (BRS Tanker) dalam laporan baru-baru ini.

Bahkan menurut JP Morgan, harga minyak mentah global bisa menembus angka $150 per barrel, jika krisis Ukraina semakin meruncing, apalagi jika Russia benar-benar melakukan invasi.

Jika ada sanksi, tulis Poten & Partners dalam laporan akhir pelan lalu, harga minyak akan meroket dalam jangka pendek karena Rusia adalah produsen besar dan pasar minyak sudah cukup ketat.

Kenaikkan harga bahan bakar memiliki dampak yang negatif terhadap indeks spot rate kapal tanker dan kapal curah kering. Hal yang sama terjadi pada kapal kontainer. Bahan bakar (bunker) merupakan komponen biaya terbesar dalam pelayaran kontainer.

Apalagi, krisis Ukraina ini terjadi di saat harga bunker sedang tinggi.

Minggu lalu, harga bahan bakar VLSFO (very low sulfur fuel oil) – bahan bakar dengan kaundungan sulfur terendah yakni 0,5%, – tercatat $694,50 per ton. Ini merupakan rekor teringgi dalam sejarah.  Harga ini bahkan lebih tinggi dari harga Januari 2020, saat harga VLSFO dinaikkan secara artifisial karena adanya penerapan aturan IMO 2020 soal transisi menjuju penggunaan bahan bakar rendah sulfur.

Sebelum tahun 2020, sebagaian besar kapal menggunakan bahan bakar HSFO (high sulfur fuel oil ) – bahan bakar dengan kandungan sulfur tinggi yakni 3,5%. Menurut data yang ada, industry pelayaran memang pernah mengalami rekor harga bahan bakar tertinggi pada tahun 2012 yakni ketika harga HSFO hampir setara dengan harga VLSFO saat ini.

Keuntungan untuk Product Tanker

Kendati sanksi terhadap ekspor energi Rusia nampaknya tidak mungkin dilakukan, namun beberapa analis tetap berspekulasi bagaimana jika ‘scenario’ itu bisa saja terjadi.

Jika sanksi terhadap ekspor energi Rusia dikenakan, maka negara-negara Eropa mau tidak mau harus mencari sumber energi baru. “Eropa perlu menemukan sumber minyak mentah dan/atau produk alternatif,” kata Poten.

“Meskipun mungkin ada masa transisi, orang akan berharap bahwa negara-negara Eropa akan meningkatkan pembelian produk untuk mencegah kekurangan. Ini akan memberikan dorongan jangka pendek yang signifikan ke pasar kapal tanker produk trans-Atlantik,” lanjut Poten.

Poten berhipotesis tanker-tanker berukuran medium (MR Tanker) akan mendapat manfaat. MR tanker adalah kapal tanker yang lebih kecil dengan kapasitas 25.000-54.999 DWT yang menangani kargo regional.

“Pasokan tambahan mungkin bersumber dari Timur Tengah dan Asia. Ini akan memberi manfaat bagi tanker-tanker LR1 (kapasitas: 55.000-79.999 DWT) dan LR2 (80.000-199.999 DWT),” tambah Poten.

Alphatanker (BRS Tanker) sepakat dengan Poten soal potensi keuntungan bagi LR tanker, tetapi tidak sepakat jika hal ini akan memberikan potensi bisnis untuk MR tanker. “Rusia adalah pengekspor diesel besar ke Eropa dan jika aliran tersebut dihentikan, Eropa harus mengimpor dari kilang East of Suez. Ini akan memberikan peluang bagi LR tanker, bukan MR tanker,” kata BRS.

Efek Terhadap Crude Tanker

Menurut Poten, ekspor minyak mentah Rusia saat ini mencapai 6,5 juta barel per hari, di mana sebagian  besar terdistribusi dengan pipa, termasuk: pipa Samudra Pasifik Siberia Timur ke pasar Cina, dan pipa Druzhba ke Eropa Timur. Sebagian besar kargo tanker minyak mentah Rusia dimuat di Laut Baltik (ke Eropa Timur Laut) dan Laut Hitam (ke Eropa Selatan).

Jika terjadi sanksi boikot terhadap ekspor China, maka Eropa akan beralih ke negara-negara OPEK Timur Tengah, lanjut Poten. “Namun, ini akan menciptakan dilema besar bagi OPEC, apakah mereka bersedia meningkatkan pengiriman ke Eropa ketika salah satu mitra mereka, Rusia, menjadi sasaran sanksi.”

Jika demikian yang terjadi, menurut Poten, permintaan terhadap tanker VLCC – tanker besar dengan kapasitas 2 juta barel – akan meningkat, sementara permintaan terhadap Aframaxes (750.000 barel) dan Suezmaxes (1 juta barel) akan turun. Pengiriman minyak mentah dari Timur Tengah kebanyakan menggunakan VLCC, sementara dari Rusia ke Eropa menggunakan tanker yang lebih kecil.

Efek terhadap Kapal LNG

Ketergantungan Eropa terhadap LNG Rusia bisa menjadi alasan utama mengapa sanksi terhadap ekspor Rusia dilihat sulit untuk diterapkan. Sekitar 35%-40% kebutuhan gas Eropa berasal dari Rusia, termasuk yang dikirim dengan system pipa lewat Ukraina. Sekitar 50% konsumsi gas Jerman, misalnya, berasal dari Rusia.

Jika sanksi diterapkan, hal tersebut akan memicu peningkatan pengiriman LNG dari AS atau negara lainnya. Beberapa media bahkan melaporkan AS sedang dalam pembicaraan dengan eksportir LNG Qatar tentang mengalihkan lebih banyak pasokan ke Eropa, untuk mengantisipasi kemungkinan dampaknya jika Rusia invasi Ukraina.

Join Telegram Group Shipping & Logistics:

Jika hal ini benar-benar terjadi, ini akan memberikan efek pada kapal-kapal LNG.