Krisis container shortage selama merebaknya pandemi covid-19 telah memicu tingginya angka pemesanan container box (peti kemas) baru pada tahun lalu. Menurut data Lembaga Research Drewry, total pesanan baru pada 2021 mencapai 7,18 juta TEUs. Ini merupakan rekor baru dalam sejarah industri ini.
Angka ini tumbuh 62% dari rekor sebelumnya yakni pada tahun 2018 dan tumbuh 130% dari jumlah tahun 2020.
Rekor produksi peti kemas sejalan dengan rekor lonjakan harga. Menurut Drewry, rekor harga tahun lalu hampir mencapai USD 4.000/TEU, hampir dua kali lipat dari harga normal pra-pandemi. Namun saat ini, baik jumlah produksi maupun harga sudah mengalami penurunan yang signifikan.
“Peak season-nya (masa puncaknya) sudah lewat. Jumlah pemesanan tahun ini sudah turun drastis. Demikian pula harganya, sudah turun,” kata Drewry dalam pernyataanya.
Menurut data Triton International (NYSE: TRTN) dan Textainer (NYSE: TGH) – dua perusahaan lessor container dunia — harga peti kemas baru telah turun menjadi sekitar USD 3.400/TEU.
“Harga peti kemas baru telah turun. Volume produksi tahun lalu yang sangat tinggi diperkirakan sudah bisa mengatasi masalah container shortage. Permintaan produksi tahun ini (2022) sudah turun drastis. Dan itu berdampak pada penurunan harga,” kata John O’Callaghan selaku kepala operasi Triton dalam sebuah konferensi para analis baru-baru ini.
Drewry mengamini hal tersebut. Bahkan menurutnya, trend penurunan (order pemesanan baru) sudah dimulai sejak kuartal ke-4 tahun lalu (Q4 2021). Total pemesanan pada Q4 2021 tercatat sebanyak 1,76 juta TEUs, turun sebesar 14% dari 2,05 juta TEUs pada Q3.
Drewry memperkirakan bahwa produksi tahun ini akan mencapai 4,5 juta- 4,8 juta TEUs, turun sebesar 33%-37% dari tahun 2021. Tingkat persediaan peralatan di pabrik peti kemas juga telah pulih.
Harga Peti kemas Bekas Masih Tinggi
Sementara harga peti kemas baru mengalami penurunan dari posisi puncaknya, harga peti kemas bekas yang lebih tua di pasar barang bekas tidak mengalami penurunan, ungkap Triton dan Textainer.
Ketika kemacetan mulai benar-benar hilang, maka lebih banyak peti kemas akan dilepaskan untuk melayani saat antrian kapal berkurang, sehingga membuat lebih banyak peti kemas yang lebih tua tersedia untuk dijual kembali, yang pada gilirannya akan menurunkan harga jual kembali. Namun hal tersebut belum terjadi.
“Harga jual peti kemas bekas (lama) tetap tinggi sepanjang kuartal keempat karena permintaan yang kuat dan penurunan ketersediaan peti kemas untuk dijual kembali,” ujar O’Callaghan.
“Pelanggan bertahan pada peti kemas lama itu sejauh mereka bisa. Mereka ingin menunda pengembalian peti kemas tersebut hingga kontrak berakhir,” kata CEO Textainer Olivier Ghesquiere dalam konferensi tersebut.
“Dengan berlanjutnya tingkat penggunaan yang tinggi dan kemacetan di seluruh dunia, kami akan terus menghadapi kesulitan untuk mengembalikan peti kemas tersebut dalam volume yang besar. Itu juga berarti bahwa pasar penjualan kembali tetap kekurangan pasok, dan harga tetap sangat tinggi.”
Kendati antrean kapal yang menunggu untuk berlabuh di Los Angeles dan Long Beach baru-baru ini mereda, Ghesquiere tampaknya tidak akan mengakhiri kemacetan pelabuhan dalam waktu dekat.
“Saya sangat yakin bahwa kemacetan akan tetap berlanjut tahun ini. Sebenarnya, menyelesaikan masalah ini bukan dengan menambah kapasitas kapal atau jumlah kontainer.Karena masalah sebenarnya ada di logistik sisi darat,” kata Ghesquiere.

