Menteri keuangan India Niramala Sitharaman telah mengajukan Survei Ekonomi pra-anggaran untuk 2021-22 di Parlemen yang memberikan pandangan mengenai status ekonomi negara tersebut.
Berdasarkan survei, pertumbuhan Produk Domestik Bruto India diproyeksikan tumbuh antara 8% dan 8,5%, dengan asumsi bahwa “tidak akan ada lagi gangguan ekonomi terkait pandemi yang melemahkan, monsun normal, penarikan likuiditas global yang signifikan, rata-rata harga minyak global berada di kisaran USD 70-USD 75, dan seiring waktu meredanya gangguan rantai pasokan global.” Survei juga membuktikan bahwa penyumbatan rantai pasokan dalam bentuk kekurangan peti kemas laut dan kenaikan biaya pengiriman akan tetap ada untuk beberapa waktu saat ini.
Selain itu, survei tersebut menyoroti situasi kekurangan peti kemas yang ditangkap oleh Drewry’s Composite World Container Index yang mencapai USD 9.698,33 per peti kemas 40 kaki pada 20 Januari 2022. Nilai tersebut lebih tinggi USD 6.656 dari rata-rata lima tahun dan 82% lebih tinggi dari tahun sebelumnya. Periode kenaikan harga yang berkepanjangan menunjukkan bahwa gangguan di pasar peti kemas internasional masih jauh dari selesai dan akan terus berdampak pada perdagangan laut.
Terdapat tren kenaikan tarif angkutan laut selama periode yang sama untuk rute utama laut internasional. Tarif angkutan laut meningkat sebesar 300% hingga 350% yang merupakan akibat dari kekurangan peti kemas dan kurangnya ruang di kapal peti kemas. Selain itu, survei juga menyoroti bahwa sejak 2019, produksi peti kemas baru melambat sementara terdapat peningkatan pembuangan peti kemas selama periode yang sama. Pertumbuhan peti kemas secara keseluruhan mengalami penurunan dari 11% pada 2019 menjadi 5% pada 2021. Kemacetan pengiriman akan terus menerus menjadi masalah kecuali produksi di seluruh dunia ditingkatkan secara signifikan.

