Skip to content

Maersk: Kekacauan Terkait Kemacetan Rantai Pasokan Akan Terus Berlanjut Hingga Pertengahan 2022.

  • by

A.P. Moller – Maersk memperkirakan bahwa kekurangan peti kemas akan berlanjut dalam waktu dekat di sub-continent India (regional Asia Selatan), karena berbagai faktor terus memengaruhi kemampuan perusahaan pengangkutan untuk mereposisi peti kemas.

Raksasa asal Denmark ini mengidentifikasi faktor-faktor seperti peningkatan inspeksi bea cukai peti kemas beku sebagai tindakan pencegahan terhadap Covid-19, kurangnya tenaga kerja karena pembatasan pandemi di pelabuhan laut dan darat, dan penundaan jadwal kapal karena waktu tunggu yang lama di luar pelabuhan utama.

Get Free Latest Magazine by Join Our Weekly Newsletter:Click here to join free weekly newsletter

Berdasarkan sebuah studi RedCore, Maersk memperkirakan pasar logistik darat di daerah tersebut akan tumbuh didorong oleh meningkatnya permintaan produk konsumen. Di India, pasar diperkirakan akan tumbuh pada tingkat tahunan gabungan sebesar 8% selama lima tahun ke depan.

Pada bulan November, Purchasing Manager Index (PMI) manufaktur India mencapai level tertinggi selama 10 bulan di angka 57,6. Hal ini didorong oleh penjualan domestik yang merupakan sumber utama pertumbuhan karena pesanan ekspor mengalami sedikit peningkatan.

Sambil menguraikan alasan di balik berlanjutnya kekurangan peti kemas, Maersk juga mengatakan bahwa situasi operasional saat ini tetap sangat menantang, tercermin dari adanya lebih dari 90 kapal perusahaan pengangkutan yang saat ini berlabuh di luar Los Angeles dan Long Beach menunggu untuk menurunkan muatan.

Situasi tetap menantang di seluruh pelabuhan AS karena kurangnya kapasitas truk dan sasis. Demikian pula, waktu tunggu di luar pelabuhan utama di Inggris terus tinggi karena kurangnya pengemudi truk.

Maersk melanjutkan, “Pelabuhan utama di seluruh jaringan global kami tetap tertekan karena kemacetan infrastruktur dan kekurangan tenaga kerja. Kami terus melihat bahwa 10-20% dari kapasitas global sedang diserap karena peningkatan waktu tunggu. Ini terlepas dari semua kapasitas kapal yang dikerahkan, dan karenanya kapasitas kapal yang efektif tetap sangat terbatas, menyebabkan terlewatnya pelayaran. ”

Jalur peti kemas yang berbasis di Kopenhagen ini memperkirakan bahwa waktu tunggu di pelabuhan utama di sub-continent India dan Timur Tengah, seperti Kolombo, Chittagong, Salalah, Jebel Ali, Nhava Sheva, Mundra, Jeddah, dan Port Qasim, adalah kurang dari dua hari, sementara sejumlah besar pelabuhan global memiliki waktu tunggu kapal selama tiga hingga lima hari ke atas.

Join Telegram Group Shipping & Logistics:

“Kami memperkirakan kekacauan rantai pasokan akibat kemacetan Pelabuhan ini akan berlanjut hingga pertengahan tahun 2022. Kami sedang berusaha mengembangkan proses baru untuk memprediksi waktu transit yang lebih akurat untuk memberikan lebih banyak kejelasan, akurasi, dan kontrol kepada pelanggan kami, ”pungkas Maersk.