Penjualan kapal bekas mencatat rekor baru pada tahun 2021. Menurut data Clarkson Research, sebanyak 2.507 transaksi penjualan kapal bekas dengan total nilai mencapai USD 47 miliar. Ini merupakan rekor baru, melewati rekor nilai transaksi penjualan pada tahun 2007 yang mencapai USD 46 miliar.
Dari total transaski tersebut, nilai penjualan kapal curah menduduki posisi teratas dengan total nilai transaski lebih dari USD 16,2 miliar. Kapal peti kemas berada di urutan kedua dengan nilai transaksi USD 13.1 miliar, kemudian kapal tanker sebesar USD 11.5 miliar, dan jenis kapal lainnya menyumbang USD 5,9 miliar.
Menurut catatan Clarkson, transaksi terus mengalami peningkatan dari awal hingga akhir tahun. Pada kwartal pertama (Q1), nilai transaksi mencapai USD 10 miliar. Kemudian, terus meningkat ke USD 13 miliar pada kuartal kedua, USD 11 miliar pada kuartal ketiga, dan USD 12 miliar pada kuartal keempat.
Dari sisi negara pembeli, Yunani merupakan negara yang paling aktif, dengan total transaksi mencapai USD 7.2 miliar, kemudian diikuti oleh China (USD 5.3 miliar) dan Norwegi (USD 2.7 miliar).
Orang Yunani juga mencatat penjualan terbanyak, dengan penjualan USD 9,9 miliar, diikuti Jepang (USD5.9 miliar) dan Cina (USD 4.2 miliar).
Angka-angka menunjukkan bahwa pemilik Cina merupakan ‘pembeli bersih’ terkemuka, menghabiskan lebih dari satu miliar lebih untuk memperoleh kapal daripada menjualnya. Namun, Clarkson mencatat bahwa secara keseluruhan, pemilik Eropa menghabiskan lebih banyak untuk membeli kapal daripada di Asia , yaitu USD 25 miliar versus USD 16 miliar.
Para analis mencatat bahwa trend transaksi pembelian kapal bekas terus berlanjut pada enam minggu pertama tahun ini meskipun ada harga kapal bekas terus melambung.
Dalam enam minggu pertama saja, nilai transaksi penjualan sudah mencapai $6,2 miliar. Jika trend ini terus berlanjut hingga akhir tahun, nilai transaksi diprediksi akan mencapai USD 53 miliar pada 2022. Ini akan menjadi rekor baru lagi.

