Industri pelayaran memiliki peran yang sangat penting dalam pemulihan ekonomi paska pandemi Covid-19. Karena itu, pelayaran, terutama industry pelayaran di Eropa, tidak boleh diabaikan atau harus dijadikan sebagai komponen penting dalam reformasi kebijakan perdagangan. Hal tersebut disampaikan oleh sejumlah narasumber dalam diskusi Leadership Insights Live, baru-baru ini sebagaimana dilaporkan International Chamber of Shipping (ICS).
Diskusi ini juga mendorong Uni Eropa (UE) untuk meningkatkan peran industri pelayaran (shipping) dalam reformasi perdagangan. Apalagi, menurut Sekjend ICS Guy Platten, pelayaran UE telah memberikan kontribusi terbesar dalam perdagangan di kawasan tersebut.
Pada kuartal pertama tahun ini (Q1 2022), total perdagangan UE mencapai 824 juta ton barang di mana 81% melalui transportasi laut.
Namun, langkah-langkah protektif mengancam akan merusak dorongan perdagangan global yang dapat membantu pemulihan ekonomi dari pandemi COVID-19. Ketua Komite Perdagangan Internasional Parlemen Eropa (European Parliament’s Committee on International Trade) Bernd Lange, mengatakan selama pandemi, pembatasan perdagangan termasuk ekspor menjadi hal yang biasa.
“Kita dihadapkan pada situasi di mana sistem perdagangan berbasis aturan ini, katakanlah sistem perdagangan berbasis kekuatan, akan menjadi lebih massif,” kata Bernd Lange.
“Kita harus melawan kecenderungan permainan kekuasaan dalam perdagangan ini,” lanjutnya.
Mengamini hal tersebut, Platten menggarisbawahi peraturan yang ketat dalam perdagangan, katakanlah dengan menerapkan tariff barriers, akan memangkas pertumbuhan ekonomi sebuah negara. Sebaliknya, penghapusan tariff (non-tariff barriers) akan mendukung pertumbuhan ekonomi sebuah negara.
Mengutip laporan hasil perhitungan ICS, Platten menjelaskan potensi keuntungan bagi ekonomi sebuah negara jika memotong hambatan tarif dalam perdagangan. Dalam skenario laporan yang paling ambisius, hal ini dapat menyebabkan kenaikan PDB sebuah negara hingga 3,4%.
Ruosi Zhang, Konselor Divisi Perdagangan Layanan dan Investasi WTO, menggarisbawahi poin tersebut. Menurutnya, UE masih memiliki banyak keuntungan dari liberalisasi lebih lanjut dalam transportasi laut.
Di luar Eropa, Platten mengatakan bahwa semua negara akan memperoleh keuntungan dari pengurangan proteksi sektor pelayaran/maritim, terlepas dari sejauh mana pertumbuhan ekonomi mereka. Menurutnya, sangat penting untuk memberikan fokus yang sama pada hal ini yaitu menghapus pembatasan tarif dan non-tarif. Kombinasi reformasi domestik dan negosiasi multilateral sangat penting, kata Platten.
Win-win Solution demi Fair Trade
Lange mengatakan temuan studi ICS “sangat penting” karena UE menghadapi peningkatan pembatasan perdagangan secara global yang “berdampak pada impor dan ekspor dan merugikan bisnis dan ekonomi nasional”. Dia menekankan bahwa sebagai blok perdagangan terbesar dunia, UE bergantung pada perdagangan yang adil dan terbuka. Perdagangan menyumbang 30% dari PDB UE dan menyerap sekitar 36 juta tenaga kerja.
UE, saat ini sedang berusaha membangun kembali sistem berbasis aturan dan berupaya untuk memodernisasi aturan-aturan WTO, kata Lange. Menurutnya, sistem tersebut sedang berada “di bawah tekanan” dan keterlibatan mitra dagang UE sangat kecil. UE terus mendorong mitranya, termasuk India dan AS, agar sistem tersebut ditinjau dan aturan baru dikembangkan.
Lange juga merekomendasikan perlunya perjanjian perdagangan bebas dengan Meksiko, Chili dan Australia untuk mengurangi pembatasan dagang, kontrol ekspor, dan tarif.
Sementara itu, Pascal Kerneis, Managing Director European Services Forum (ESF) menggarisbawahi bahwa WTO sebenarnya sudah mencapai langkah yang signifikan dalam upaya mengurangi hambatan perdagangan non-tarif. Pada Desember lalu, 67 anggota WTO mencapai kesepakatan untuk menyederhanakan layanan perdagangan dan memangkas sejumlah aturan yang menghambat perdagangan. Menurut Pascal Kerneis, ini sebuah langkah maju mengingat upaya tersebut selalu gagal selama bertahun-tahun. ESF sendiri termasuk satu lembaga yang tak henti-hentinya mengadvokasi hal tersebut dalam satu decade terakhir.
Ke-67 negara tersebut termasuk beberapa negara dengan kontribusi perdagangan terbesar seperti Uni Eropa, Inggris, AS dan Cina. Negara-negara ini mewakili 90% dari semua perdagangan jasa. Kesepakatan itu, kata dia, akan membantu penyederhanaan regulasi dan mengurangi hambatan prosedural untuk menavigasi penanda asing dan ekspor ke luar negeri, khususnya untuk UKM. Diharapkan untuk memotong biaya perdagangan sebesar £133bn setahun.
Tantangan dan Upaya Pelayaran
Ketua (Presiden) Asosiasi Pelayaran Eropa – European Community Shipowners’ Association (ECSA) – Philippos Philis, mengatakan organisasinya “sangat menyambut baik” kebijakan Perdagangan UE yang baru dan mendorong upaya untuk memasukan Perjanjian Perdagangan Bebas (Free Trade Agreements) dengan negara-negara tetangga dan memprioritaskan pengamanan akses pasar yang bebas dan non-diskriminatif pada sektor transportasi laut.
Mengingat industri pelayaran dan transportasi sebagai tulang punggung aktivitas perdagangan Philippos Philis minta UE agar sektor ini harus selalu dilibatkan dalam setiap negosiasi dan pembahasan terkait kebijakan perdagangan, baik yang sifatnya multilateral maupun bilateral. “Kami minta UE agar jangan pernah mengeluarkan sector (transportasi dan pelayaran) dalam setiap negosiasi dagang dengan pihak ketiga,” tegasnya.
Saat ini, di samping upaya agar segera pulih dari dampak pandemi, ekonomi global, termasuk pada sektor pelayaran, juga dihadapkan pada isu lingkungan. Industri transportasi dan pelayaran diminta untuk mepercepat langkah dekarbonisasi. Menurut Zhang dan Philippos Philis, pelayaran sudah ada dalam jalurnya sendiri menuju dekarbonisasi.
Philis mencatat bahwa ketika upaya dekarbonisasi berlanjut, kemungkinan juga akan ada peningkatan permintaan komoditas termasuk bijih besi, tembaga dan kobalt. “Sehingga, dekarbonisasi pada sektor ini menjadi semakin penting.”
Philis mengatakan bahwa industri pelayaran “berkomitmen untuk memberikan kontribusi yang adil dan mendukung ambisi UE untuk berkontribusi pada kemajuan global yang keberlanjutan serta mendukung rantai pasok yang bertanggung jawab melalui kebijakan perdagangannya.
Sumber : International Chamber of Shipping

