Skip to content

Ratusan Kapal Pengangkut Gandum Tertahan di Laut Hitam

Ratusan kapal, termasuk kapal pengangkut gandum, dilaporkan saat ini masih tertahan di Laut Hitam. Sejumlah sumber mensinyalir kapal-kapal tersebut sengaja ditahan Rusia sebagai tindak lanjut kebijakan melarang ekspor gandum dari negara tersebut untuk merespons sanksi negara-negara Barat.

“Saat ini, hampir tidak ada pemuatan ekspor, termasuk gandum yang sangat dibutuhkan masyarakat global, dari pelabuhan-pelabuhan di Ukraina,” kata Jörg-Simon Immerz, Kepala Perdagangan Biji-bijian BayWa, sebagaimana ditulis kantor berita dpa.

Get Free Latest Magazine by Join Our Weekly Newsletter:Click here to join free weekly newsletter

Sementara itu, aktivitas ekspor dari Rusia juga terpantau sangat terbatas, lanjut Immerz.

Apa yang disampaikan Immerz diamini oleh Otoritas Maritim Panama (Panamanian Maritime Authority/PMA). Hingga hari Rabu minggu lalu, kata PMA, Angkatan Laut Rusia telah menahan 200-300 kapal meninggalkan Laut Hitam – kebanyakan dari mereka membawa gandum. Laporan lain mengatakan ada sekitar 100 kapal diblokir.

Noriel Arauz, salah satu pejabat penting PMA mengatakan sudah ada tiga kapal berbendera Panama telah diserang Rusia sejak invasi ke Ukraina dimulai. Satu kapal tenggelam dan dua lainnya rusak, sementara tidak ada yang terluka.

Surat kabar Inggris The Guardian melaporkan bahwa beberapa kapal lain telah diserang sejak invasi dimulai pada 24 Februari, termasuk dari Banglades dan Estonia, yang menewaskan satu orang.

Ganggu Supply Pangan Global

Perang di Ukraina sangat menggangu supply bahan pangan global, khususnya gandum, mengingat baik Rusia maupun Ukraina merupakan pemasok utama kebutuhan gandum global. Menyusul terjadinya perang, produktivitas gandum di Ukraina diperkirakan akan menurun drastis. Sementara, ekspor gandum Rusia juga dipastikan akan turun drastis menyusul kebijakan negara tersebut untuk membatasi ekspor sebagai balasan atas sanksi yang diberikan negara-negara Barat ke Rusia.

Pembatasan ekspor gandum dan pupuk dilaporkan masuk dalam list teratas kebijakan Moscow, sebagai balasan dari negara-negara Barat. Ini tentu sangat berpotensi terhadap pasokan pangan global dan beresiko tinggi terhadap inflasi.

Dalam setahun, Rusia diperkirakan memproduksi hampir 80 juta ton gandum. Dari jumlah stersebut, sekitar sekitar 30 juta ton diekspor. Sementara itu, Ukraina juga mengekspor sekitar 20 hingga 25 juta ton per tahun.

Memang, kebutuhan gandum global tidak hanya berasal dari Rusia dan Ukraina. Beberapa negara Uni Eropa juga merupakan pengekspor gandum, khususnya Jerman. Ekspor gandum UE diperkirakan mencapai 30 juta ton dalam setahun. Namun demikian, berhentinya ekspor dari Rusia dan Ukraina tetap mengganggu supply pangan, khususnya negara-negara yang selama ini rutin meng-impor dari kedua negara tersebut.

Menurut data UNCTAD (United Nations Conference on Trade and Development) negara-negara Afrika merupakan konsumen utama gandum dari Rusia dan Ukraina. Antara tahun 2018-2020, menurut UNCTAD, sekitar 33% impor gandum Afrika berasal dari Rusia, dan 12% dari Ukraina. Sekitar 25 negara berkembang di Afrika sangat bergantung pada impor gandum dari Rusia dan Ukraina.

Sementara itu, kenaikan biaya pengiriman memicu  kenaikan harga komoditas dan berpotensi terjadinya inflasi.

IMO Serukan Koridor Keselamatan Pelayaran

Dalam merespons situasi tersebut, IMO (International Maritime Organisation) telah mengeluarakan himbauan (blue corridors) agar kapal-kapal niaga bisa melewati Laut Hitam tanpa risiko serangan atau menabrak ranjau.

“Aksi militer yang sedang berlangsung di Laut Hitam dan Laut Azov menghadirkan ancaman serius terhadap keselamatan dan keamanan awak dan kapal yang beroperasi di kawasan tersebut,” kata IMO dalam sebuah pernyataan yang dirilis awal pekan ini.

Join Telegram Group Shipping & Logistics:

“Karena itu, dengan menegluarkan blue corridors ini, kami harap semua pihak untuk memprioritaskan keselamatan kapal-kapal dan crew kapal. Kami juga meminta semua pihak untuk tidak menahan kapal-kapal yang sedang lewat di Kawasan-kawasan tersebut,” kata IMO dalam pernyataannya.