Nilai tukar Rupiah yang melemah terhadap Dollar AS telah meningkatkan biaya impor bahan baku dan logistik di Indonesia. Dampaknya adalah kenaikan suku bunga pinjaman perbankan bagi sektor manufaktur. Sebagian industri telah memotong margin keuntungan mereka untuk menanggung biaya produksi yang meningkat, tetapi sektor manufaktur skala kecil terpaksa menaikkan harga produk akibat biaya produksi yang semakin tinggi.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita berharap bahwa inflasi dapat tetap terkendali dan faktor-faktor lain yang dapat meningkatkan biaya produksi, seperti kenaikan harga gas industri atau tarif listrik, tetap stabil. Dia yakin bahwa bank sentral memiliki alat untuk menjaga stabilitas, dan perbankan dapat mendukung sektor industri yang berperan penting dalam perekonomian.
Langkah utama untuk mendukung industri dalam negeri adalah meningkatkan penggunaan produk dalam negeri, meningkatkan penguasaan produk dalam negeri di pasar domestik, dan mengurangi impor. Kementerian Perindustrian juga mendorong realisasi komitmen belanja pemerintah untuk tahun 2023 dan melakukan berbagai inovasi, seperti digitalisasi sertifikasi Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN), untuk mendukung penggunaan produk dalam negeri.
Selain itu, pemerintah juga mempertimbangkan larangan dan pembatasan impor terhadap kelompok barang tertentu untuk mendukung produksi dalam negeri. Kondisi ini diakibatkan oleh penguatan Dollar AS terhadap Rupiah, kenaikan harga barang di luar negeri, dan biaya logistik yang meningkat. Akibatnya, para importir mengurangi volume impor dan menaikkan harga produk. Daya beli masyarakat juga mengalami penurunan, sehingga industri yang mengimpor bahan baku harus menyesuaikan produksi mereka.

