Keuntungan perusahaan pelayaran CMA CGM pada kuartal pertama (Q1) 2023 mengalami penurunan dibanding periode yang sama tahun lalu (2022). Hal ini sebagai dampak langsung penurunan pendapatan menyusul turunnya volume angkutan pada satu sisi sementara pada sisi lainnya pendapatan dari ocean freigh juga mengalami penurunan yang signifikan.
Menurut laporan yang baru saja di-release, pada Q1 2023, CMA CGM membukukan pendapatan sebesar US$ US$12.7 miliar, turun sekitar 30% dibanding pendapatan Q1 2022.
Penurunan pendapatan tersebut berdampak pada penurunan keuntungan bersih perusahaan. Keuntungan bersih CMA CGM tercatat hanya sebesar $2 miliar, turun cukup dalam dibanding keuntungan pada periode yang sama tahun lalu yang mencapai $7,2 miliar.
Volume peti kemas Q1 turun 5,3 persen menjadi 5 juta TEU sementara pendapatan rata-rata per TEU turun 37 persen menjadi $1.766/TEU.
“Setelah dua tahun yang luar biasa, industri kami telah memasuki fase normalisasi karena perlambatan pertumbuhan global serta inflasi yang terus berlanjut di banyak bagian dunia,” kata Chairman dan CEO CMA CGM Group Rodolphe Saade. .
“Terlepas dari konteks yang memburuk ini, hasil kuartal pertama kami sangat solid. Itu adalah buah dari investasi kami dalam dua tahun terakhir yang mencapai kurang lebih US$30 miliar. Investasi ini memungkinkan kami untuk terus memperluas dan memperkuat jangkauan solusi transportasi dan logistik kami untuk pelanggan kami,” lanjut Saade.
Saade menjelaskan tren kuartal keempat tahun 2022 terus berlanjut pada kuartal pertama tahun 2023, dengan kondisi pasar yang menantang di industri transportasi dan logistik. Permintaan barang terus melambat, mendorong normalisasi cepat tarif angkutan (spot rate).
Pendapatan dari operasi pelayaran maritim mencapai $8,9 miliar, turun 40,3 persen dari kuartal pertama 2022. Pendapatan dari operasi logistik mencapai $3,9 miliar pada kuartal pertama tahun ini.
Pendapatan dari aktivitas lain (terminal pelabuhan, CMA CGM Air Cargo, media, dll.) meningkat sebesar 5,3 persen menjadi $405 juta.
CMA CGM melihat pada sisa tahun 2023, trend penurunan akan terus berlanjut.
“Prakiraan ekonomi makro untuk tahun 2023 mengantisipasi pertumbuhan PDB global yang moderat sepanjang tahun, mengingat tekanan inflasi yang menyeret turun belanja konsumen di negara-negara OECD. Namun, hal ini mungkin akan stabil di akhir tahun. Kendati demikian, penambahan kapasitas pada kuartal menatang diperkirakan akan terus berdampak pada penurunan freight rate,” kata Saade.

