Bangladesh telah menjadi negara terbaru yang meluncurkan rencana untuk memperluas armada pelayaran komersial nasionalnya. Bangladesh Shipping Corporation milik negara otonom melaporkan bahwa mereka telah memesan kapal baru dari China dan sedang berdiskusi dengan Korea Selatan sebagai bagian dari rencana untuk peningkatan armadanya. Bangladesh akan bergabung dengan berbagai negara termasuk Australia, Indonesia, dan Vietnam yang ingin menambah armada dagang mereka sementara Afrika Selatan dan Thailand sama-sama membahas untuk memulai kembali operasi pelayaran nasional negaranya.
Sejak pendiriannya pada tahun 1972, Perusahaan Perkapalan Bangladesh saat ini mengoperasikan armada delapan kapal yang terdiri dari kapal tanker minyak mentah dan kapal curah. Salah satu kapalnya, Banglar Samriddhi, tetap berada di Ukraina sejak awal perang dan terkena rudal Rusia pada awal Maret.
“Kami telah menyelesaikan semua prosedur untuk pembelian empat kapal besar dari China,” ungkap Managing Director Shipping Secretary Mostafa Kamal dalam pertemuan para eksekutif baru-baru ini. “Kami juga telah melakukan diskusi lanjutan dengan Korea Selatan. Totalnya, saat ini kami memiliki empat proposal proyek pengembangan dan dua perjanjian yang ditandatangani untuk kapal baru. Target kami adalah menambah setidaknya 20 kapal yang lebih besar dari yang ada pada tahun 2030.”
Menurut laporan, empat kapal yang akan dibangun di China akan terdiri dari dua kapal tanker minyak mentah 100.000 dwt dan dua kapal curah 80.000 dwt. Pemerintah China akan membiayai kapal-kapal tersebut, yang dilaporkan menelan biaya USD 242 juta. Kapal akan dikirim dalam dua hingga dua setengah tahun ke depan.
China memberikan pembiayaan serupa ke Bangladesh pada tahun 2016 untuk mendanai pembangunan enam kapal yang dilaporkan menelan biaya sekitar USD 140.000. Mereka dibiayai dengan jangka waktu 20 tahun.
Keenam kapal yang dibangun oleh China dan dikirim pada tahun 2018 dan 2019 merupakan mayoritas dari armada saat ini. Perusahaan pelayaran yang memulai dengan dua kapal 50 tahun yang lalu, telah menambah 44 kapal tetapi sebagian besar (36 kapal) sudah pensiun karena usia atau kondisi pada akhir 1990-an. Sebelum kesepakatan sebelumnya dengan China, Bangladesh hanya memiliki dua kapal yang beroperasi.
Dalam presentasinya, manajemen perusahaan pelayaran menyoroti kinerja keuangan yang kuat dari perusahaan mereka selama pertumbuhan pelayaran saat ini. Bangladesh Shipping melaporkan peningkatan pendapatan sebesar 64% untuk 2022 sementara laba bersih naik lebih dari 200%. Seperti kebanyakan perusahaan perkapalan lainnya, laba baru-baru ini menurun tetapi terus berada jauh di atas tingkat historis yang membantu perusahaan mengejar upaya ekspansinya.
Untuk mendukung pertumbuhan pelayaran komersial di Bangladesh, pemerintah melaporkan akan memperluas program pelatihan maritimnya yang saat ini terdapat lima program yang sedang beroperasi dan berencana akan menambah tiga program lagi.
Kapal-kapal baru Bangladesh datang setelah perusahaan pelayaran Indonesia Pertamina International Shipping melaporkan bahwa mereka juga berencana untuk berinvestasi hingga USD 3 miliar dalam modernisasi dan perluasan armadanya. Mereka telah menandatangani perjanjian dengan NYK Line Jepang untuk membantu rencana ekspansi. Australia juga meluncurkan gugus tugas untuk membuat laporan mengenai cara memperluas armada pelayaran nasionalnya. Pada pertengahan 2023 mereka akan mengeluarkan rekomendasi untuk memenuhi janji kampanye pemerintah untuk menambah sebanyak 12 kapal ke armada niaga Australia.

