Dalam upaya untuk mengisi posisi kosong dan membangun banyak pesanan pembuatan kapal baru, Tiga Besar Galangan Kapal Korea Selatan telah mempekerjakan pekerja galangan dari Thailand, Vietnam, Filipina, dan negara-negara lain di Asia Tenggara. Jajaran pekerja tamu asing tiba di galangan, tetapi terdapat satu masalah yaitu sejumlah kecil dari mereka pergi begitu mereka tiba di negara tersebut.
Para pekerja tamu di Korea Selatan memenuhi syarat untuk bekerja melalui program visa E-7 negara tersebut. Mirip dengan sistem izin kerja negara lain, visa E-7 membatasi pemegangnya hanya untuk satu pemberi kerja. Kendati demikian, Tiga Besar galangan telah melaporkan beberapa orang yang hilang dari jajaran pekerja yang baru direkrut. Pada bulan April, tujuh pekerja Thailand meninggalkan HD Hyundai setelah hanya seminggu bekerja. Musim gugur yang lalu, sekitar 30 pekerja tamu Vietnam pergi dari HD Hyundai, bersama dengan empat lainnya di Hyundai Samho, menurut serikat pekerja galangan kapal di HD Hyundai. Pemberi kerja Korea diharuskan memberi tahu otoritas imigrasi mengenai pekerja yang pergi dan tidak kembali.
Serikat pekerja memberikan pernyataan dalam buletin edisi baru-baru ini bahwa, alasan perginya para pekerja asing ini adalah karena gaji yang relatif rendah dan pekerjaan yang sulit – dan dalam situasi tersebut, “desersi tidak mengejutkan”. Namun, seorang juru bicara HD Hyundai mengatakan kepada The Korea Times bahwa hal tersebut tidak benar, Ia menyampaikan bahwa beberapa pekerja telah pergi karena adanya masalah pribadi. “Kami menyediakan berbagai tunjangan kesejahteraan, termasuk layanan interpretasi, konseling, dan pola makan yang disesuaikan untuk membantu para pekerja beradaptasi dengan lingkungan baru mereka,” kata HD Hyundai dalam sebuah pernyataan.
Pekerja asing merupakan bagian yang meningkat dari tenaga kerja galangan kapal Korea. BussinessKorea mengatakan, sebagian besar galangan besar mendapatkan 10-20% tenaga kerja outsourcing (kontrak) mereka dari luar negeri. Mengingat meningkatnya peran pekerja dari Asia Tenggara dalam industri pembuatan kapal Korea, serikat pekerja logam Korean Confederation of Trade Unions (KCTU) telah memutuskan untuk mengubah kebijakannya dari menentang buruh migran menjadi mengorganisir buruh migran. Sebagai masalah praktis, seorang pemimpin serikat pekerja mengatakan kepada BusinessKorea, “serikat pekerja logam seharusnya tidak bersikap dingin kepada mereka tetapi merangkul mereka.”
Menurut Harian Korea JoongAng, pentingnya pekerja tamu dapat tumbuh lebih jauh seiring berjalannya waktu. Dengan ledakan konstruksi kapal yang sedang berlangsung, galangan kapal Korea Selatan kekurangan sekitar 2.000 pekerja. Kondisi kerja menantang, dan upahnya “tidak terlalu tinggi,” jelas peneliti Lee Kyung-woo dari Ulsan Research Institute. Puluhan ribu pekerja yang diberhentikan selama penurunan konstruksi pada tahun 2016-18 sebagian besar menjauh dan mencari opsi lain, dan mungkin perlu waktu hingga lima tahun untuk kembali ke stabilitas dan staf penuh di galangan.
