Setelah diskusi bertahun-tahun dan kemajuan yang lambat menuju digitalisasi dokumentasi yang digunakan selama pengangkutan kargo, Digital Container Shipping Association (DCSA) melaporkan terobosan besar yang akhirnya akan mewujudkan digitalisasi penuh bill of lading. Sembilan dari operator peti kemas terbesar di dunia telah menandatangani komitmen untuk mempercepat digitalisasi perdagangan peti kemas menggunakan standar sumber terbuka yang dikembangkan oleh DCSA.
DCSA mengatakan, beralih dari transfer bill of lading berbentuk kertas fisik dapat menghemat biaya langsung sebesar USD 6,5 miliar dan akan menghasilkan pertumbuhan perdagangan global yang jauh lebih luas. DCSA percaya bahwa sembilan operator yang meliputi MSC, Maersk, CMA CGM, Hapag-Lloyd, One, Evergreen, HMM, Yang Ming, dan Zim, akan berfungsi sebagai pelopor untuk mengarah pada penerapan bill of lading elektronik secara universal ( eBL) yang sudah lama dijanjikan namun masih sebatas konsep di industri.
DCSA melaporkan bahwa saat ini operator mengeluarkan sekitar 45 juta surat muatan kertas setiap tahun. Kendati ada langkah untuk meningkatkan digitalisasi yang dipicu oleh pandemi, namun DCSA memperkirakan hanya terdapat lebih dari 1% yang bersifat elektronik pada tahun 2021.
Menurut DCSA, mengubah transfer dokumen melalui eBL akan mempercepat digitalisasi yang akan menguntungkan pelanggan, bank, otoritas bea cukai/pemerintah, penyedia layanan pengiriman laut, dan semua pemangku kepentingan rantai pasokan maritim. Mereka mengutip studi baru-baru ini oleh McKinsey yang memperkirakan bahwa jika eBL di adopsi universal di seluruh industri, maka dapat membuka keuntungan ekosistem perdagangan sekitar USD 18 miliar serta pertumbuhan perdagangan global yang diperkirakan akan mencapai USD 30 – USD 40 miliar melalui penanganan dokumen yang lebih cepat dan pengurangan kesalahan manusia.
Thomas Bagge, Chief Executive Officer DCSA mengatakan, “Digitalisasi perdagangan internasional memiliki potensi besar bagi ekonomi dunia dengan mengurangi friksi dan sebagaimana perdagangan membawa kemakmuran dan eBL, maka akan semakin memungkinkan perdagangan dan membantu jutaan orang keluar dari kemiskinan. Hal ini menandakan dimulainya era baru dalam pengiriman peti kemas saat industri bertransisi ke otomatisasi berskala dan perdagangan digital sepenuhnya.”
Kesembilan operator menandatangani komitmen untuk mengubah setengah dari kegiatan bill of lading manual menjadi digital dalam waktu lima tahun serta berkomitmen untuk adopsi 100% pada tahun 2030.
Proses manual berbasis kertas memakan waktu, mahal, dan tidak ramah lingkungan bagi pemangku kepentingan di sepanjang rantai pasokan yang kompleks, kata DCSA. Mereka menunjukkan bahwa proses manual gagal ketika kargo di pelabuhan tidak dapat keluar karena bill of lading asli, atau dokumen hak milik, gagal tiba atau tidak dapat diproses secara manual tepat waktu.
Sebuah perusahaan nirlaba yang didirikan oleh operator laut utama, DCSA telah menghabiskan beberapa tahun terakhir bekerja dengan giat untuk mencapai tonggak sejarah ini. Mereka mempromosikan pengembangan standar kode sumber terbuka yang dikembangkan berdasarkan masukan dari operator. Misi mereka adalah mendorong kolaborasi sistematis dan membangun kerja sama antar semua anggota rantai pasokan dari pengangkut dan pengirim barang ke pelabuhan untuk mengurangi hambatan perdagangan.
