Skip to content

Masih Bingung Soal Standar Bahan Bakar Hijau, Sejumlah Pelayaran Tunda Pesanan Kapal Baru

Sejumlah perusahaan pelayaran terpaksa menunda pesanan kapal baru berbahan bakar ramah lingkungan (hijau) akibat ketidakpastian mengenai standar bahan bakar yang akan diterapkan di masa depan. Selain itu, pertanyaan mengenai ketersediaan bahan bakar tersebut secara konsisten dengan harga yang terjangkau juga menjadi faktor utama penyebab penundaan ini.

Menurut DNV, lembaga sertifikasi kapal Norwegia, per 31 Oktober 2024, sekitar 522 pesanan kapal baru berbahan bakar ganda terpaksa ditunda. Dari jumlah tersebut, 303 kapal dirancang untuk menggunakan bahan bakar LNG, 216 kapal berbahan bakar metanol, dua kapal berbahan bakar hidrogen, dan satu kapal berbahan bakar amonia. “Tidak ada satu pun bahan bakar atau teknologi yang mendominasi,” ujar Knut Orbeck-Nilssen, CEO bidang Maritim DNV.

Get Free Latest Magazine by Join Our Weekly Newsletter:Click here to join free weekly newsletter

Beberapa perusahaan pelayaran global, seperti Maersk, CMA CGM, dan COSCO, telah memesan ratusan kapal baru dalam beberapa tahun terakhir sebagai bagian dari upaya mereka untuk mengurangi emisi gas rumah kaca (greenhouse gas – GHG). Langkah ini sejalan dengan upaya dekarbonisasi sektor pelayaran, yang merupakan salah satu penyumbang polusi terbesar, dengan kontribusi sekitar 3% dari total GHG global. Namun, upaya dekarbonisasi ini memerlukan investasi besar—miliaran dolar per kapal, baik untuk pengadaan kapal maupun untuk biaya operasional bahan bakar ramah lingkungan yang relatif lebih mahal.

Organisasi Maritim Internasional (IMO) menargetkan industri pelayaran mencapai emisi nol pada tahun 2050. Sayangnya, sejauh ini, kebijakan dan panduan yang diberikan oleh pembuat kebijakan masih terbatas, sehingga masa depan pasar bahan bakar hijau tetap menjadi tanda tanya.

Meskipun demikian, tren pemesanan kapal baru berbahan bakar ramah lingkungan atau dengan mesin berbahan bakar ganda terus berkembang. Rebecca Galanopoulos, analis senior di penyedia perangkat lunak dan layanan maritim Veson Nautical, mencatat bahwa 65% dari pesanan kapal kontainer pada tahun 2024 adalah kapal dengan mesin berbahan bakar ganda. Angka ini menunjukkan peningkatan pesat dibandingkan tahun 2018, yang hanya mencapai 4%.

Butuh Investasi Besar untuk Alih Bahan Bakar

Industri pelayaran saat ini mengonsumsi sekitar 2,5 miliar barel bahan bakar minyak (marine fuel oil/MFO) per tahun, termasuk yang digunakan oleh sekitar 6.643 kapal pelayaran peti kemas di seluruh dunia. Untuk mengganti kapal-kapal tersebut dengan yang ramah lingkungan, diperkirakan dibutuhkan dana sekitar $100 miliar per tahun hingga 2050, menurut perhitungan Konferensi PBB tentang Perdagangan dan Pembangunan. Dana ini tidak hanya digunakan untuk pengadaan kapal baru, tetapi juga untuk pengeluaran bahan bakar ramah lingkungan yang harganya relatif lebih mahal.

Menurut DNV, perusahaan pelayaran peti kemas saat ini menjadi pelopor dalam penggunaan kapal ramah lingkungan. Ini tercermin dari jumlah pesanan kapal ramah lingkungan yang dua kali lipat lebih banyak dibandingkan dengan jenis kapal lainnya, seperti kapal pengangkut curah (bulker) atau tanker minyak.

CMA CGM, salah satu pelaku utama dalam industri pelayaran peti kemas, telah memesan sejumlah kapal ramah lingkungan, termasuk kapal yang menggunakan bahan bakar biodiesel. Perusahaan ini mencatat penurunan emisi karbon dioksida sebesar 50% per kontainer dengan menggunakan bahan bakar biodiesel. Selain itu, CMA CGM juga menambahkan biometana, yang dikenal sebagai gas alam terbarukan, ke dalam campuran bahan bakarnya.

“Kami menuju ke arah yang benar. Ini hanya akan menjadi portofolio opsi,” kata Heather Wood, Wakil Presiden CMA bidang Business Sustainability. Menurut Wood, CMA CGM telah menginvestasikan $15 miliar untuk pengadaan kapal baru yang dapat beroperasi dengan berbagai bahan bakar bersih.

Didominasi Bahan Bakar LNG

Saat ini, pemesanan kapal ramah lingkungan masih didominasi oleh kapal berbahan bakar LNG. Meskipun LNG merupakan bahan bakar fosil, menurut DNV, LNG dapat mengurangi emisi GHG hingga 23% karena pembakarannya lebih bersih dibandingkan dengan bahan bakar kapal tradisional. Namun, sejumlah pemerhati lingkungan masih khawatir tentang potensi kebocoran metana, gas yang berpotensi memperburuk pemanasan global, yang dapat terjadi dalam proses penggunaan LNG.

MSC Swiss, pemimpin industri pelayaran dengan armada lebih dari 800 kapal milik dan sewaan, berpendapat bahwa LNG memiliki rantai pasokan yang lebih andal dibandingkan dengan bahan bakar pengiriman rendah karbon lainnya. Seperti banyak perusahaan pelayaran lainnya, MSC telah memesan kapal berbahan bakar ganda berbasis LNG.

Diperlukan Regulasi Global demi Kepastian

Para pelaku industri pelayaran mendesak perlunya regulasi global yang dapat memberikan kepastian dan mendorong investasi dalam pasar bahan bakar hijau selama beberapa dekade mendatang. Mereka mengusulkan tenggat waktu global untuk menghentikan penggunaan bahan bakar fosil, insentif pemerintah untuk produksi dan penggunaan bahan bakar rendah karbon, serta penerapan sanksi bagi perusahaan yang tidak mengadopsi bahan bakar yang lebih bersih.

Beberapa perusahaan pelayaran besar, seperti CMA CGM, Maersk, Evergreen (Taiwan), dan COSCO (Tiongkok), telah mulai berinvestasi dalam bahan bakar alternatif seperti metanol hijau dan amonia—bahan bakar berbasis hidrogen yang diproduksi dengan energi terbarukan dari sumber seperti tenaga surya dan angin. Selain itu, COSCO dan CMA CGM juga tengah mengerjakan proyek untuk memproduksi, mengirimkan, dan memasok metanol hijau di pelabuhan-pelabuhan utama di Tiongkok. Sementara itu, MSC sedang memodifikasi kapal LNG barunya dengan tangki yang kompatibel dengan amonia, bahan bakar alternatif yang juga lebih ramah lingkungan.

Join Telegram Group Shipping & Logistics:

Source: Reuters