Nilai perdagangan global pada tahun 2024 diperkirakan mencatatkan rekor baru. Menurut laporan dari United Nations Conference on Trade and Development (UNCTAD), total perdagangan global diprediksi mencapai $33 triliun, meningkat $1 triliun dibandingkan dengan proyeksi sebelumnya.
Peningkatan ini didorong oleh pertumbuhan ekonomi yang stabil, terutama dibandingkan tahun lalu yang mencatat perlambatan. Salah satu pendorong utama adalah kuatnya permintaan impor dari sejumlah negara maju.
UNCTAD juga melaporkan sektor teknologi menunjukkan kinerja luar biasa, didukung oleh tingginya permintaan di negara-negara berpendapatan tinggi. Perdagangan jasa juga meningkat signifikan, sebesar 7%, sekitar $0.5 trillion.
Sebaliknya, komoditas unggulan negara-negara berkembang mengalami kinerja yang kurang optimal. Perdagangan energi dan logam masing-masing turun 7% dan 3%.
UNCTAD memperkirakan momentum perdagangan akan tetap kuat menjelang tahun 2025. Namun, lembaga ini juga menyoroti beberapa tantangan yang berpotensi menghambat pertumbuhan. Salah satunya adalah rencana kenaikan tarif oleh pemerintahan AS, yang dapat mengganggu rantai pasok global dan memengaruhi mitra dagang utama seperti Tiongkok, India, Vietnam, dan Jerman.
“Ancaman tarif saja sudah cukup untuk menciptakan ketidakpastian, melemahkan perdagangan, investasi, dan pertumbuhan ekonomi,” ungkap UNCTAD dalam laporannya. Risiko lain termasuk potensi tarif balasan terhadap barang-barang AS, peningkatan subsidi untuk industri domestik di berbagai negara, serta pembatasan impor terkait kebijakan perubahan iklim di Eropa. Di sisi lain, tanda-tanda perlambatan, seperti penurunan harga angkutan peti kemas, juga menjadi perhatian.

