Menyusul hasil hitungan sementara yang menunjukkan kemenangan Donald Trump dalam Pemilihan Presiden Amerika Serikat, harga saham sejumlah perusahaan pelayaran mengalami penurunan. Hal ini dipicu oleh kekhawatiran pasar terkait kebijakan Trump yang memperketat impor, termasuk dari China.
Menurut laporan sejumlah media, saham tiga perusahaan pelayaran pengangkut peti kemas, yakni Maersk, NYK, dan Hapag-Lloyd, masing-masing tercatat turun sebesar 8%, 9%, dan 10%. Sentimen negatif pasar dipicu oleh janji Trump untuk memperketat impor, termasuk impor dari China.
Selama kampanye pemilu, Trump berjanji untuk menaikkan tarif impor barang secara drastis, terutama barang dari Tiongkok. Jika kebijakan ini terlaksana, diperkirakan akan ada dampak negatif pada volume pengiriman barang menggunakan peti kemas, khususnya di jalur perdagangan lintas Pasifik.
Berbeda dengan sektor pelayaran, saham perusahaan-perusahaan minyak justru mengalami lonjakan. Hal ini terkait dengan janji Trump untuk membuka lebih banyak kesempatan bagi peningkatan aktivitas pengeboran minyak di AS. Produksi minyak bumi AS saat ini berada pada tingkat tertinggi dalam sejarah, dan pasar memperkirakan bahwa produksi akan meningkat lebih tinggi lagi jika produsen minyak menghadapi lebih sedikit pembatasan. Di sisi lain, potensi sanksi yang lebih ketat terhadap Venezuela dan Iran dapat mengurangi ekspor minyak global bersih di bawah pemerintahan Trump, menurut analis di Goldman Sachs.
Pada perdagangan awal hari Rabu (6/11), saat tanda-tanda kemenangan Trump mulai terlihat, saham perusahaan energi, pengeboran, dan tanker AS mencatatkan kinerja yang kuat. Saham Transocean, perusahaan pengeboran terbesar, melonjak hampir 3%; operator tongkang darat Kirby naik lebih dari 6%; Chevron naik 3%; dan Exxon mengalami kenaikan sebesar 1,5%.

