Kemenangan Donald Trump dalam pemilihan presiden AS kembali memicu sentimen positif di kalangan sejumlah perusahaan Asia, terutama di sektor-sektor yang diperkirakan akan diuntungkan dari kebijakan perdagangan yang lebih ketat terhadap China. Trump, yang kini kembali memimpin Gedung Putih, diperkirakan akan memperkeras kebijakan proteksionis dengan menaikkan tarif impor barang-barang China antara 60 hingga 100%.
Kebijakan ini, yang mengingatkan pada ketegangan perang dagang yang sempat terjadi selama periode pertama kepresidenannya, memberikan peluang bagi negara-negara non-China, termasuk beberapa negara Asia, untuk memperkuat hubungan dagang dengan Amerika Serikat.
Salah satu sektor yang paling merasakan dampak positif dari kemenangan Trump adalah industri galangan kapal di Korea Selatan. Pasca pengumuman hasil pemilu, saham sejumlah perusahaan galangan kapal Korea Selatan melonjak tajam.
Menurut laporan Bloomberg, harga saham Hanwha Ocean Co., salah satu pemain utama di industri galangan kapal, melonjak 30% hanya dalam dua hari setelah kemenangan Trump diumumkan. Perusahaan-perusahaan besar lainnya, seperti Hyundai Heavy Industries Co. dan Samsung Heavy Industries Co., juga mengalami lonjakan harga saham yang signifikan.
Dilaporkan, dalam telepon Trump dengan Presiden Korea Selatan, Yoon Suk Yeol, setelah pengumuman kemenangan, kedua kepala negara tersebut menyatakan harapan mereka untuk memperkuat kerja sama ekonomi dan perdagangan. Hal ini memicu optimisme pasar, karena banyak yang yakin bahwa kebijakan Trump akan menciptakan peluang bagi negara-negara non-China untuk menggantikan posisi China dalam rantai pasokan global, terutama di sektor-sektor yang tergantung pada perdagangan internasional, seperti industri galangan kapal.
Keuntungan bagi Negara-negara Asia Lainnya
Sentimen positif terhadap kemenangan Trump tidak hanya terbatas pada Korea Selatan. Negara-negara Asia lainnya juga diperkirakan akan mendapat keuntungan dari kebijakan perdagangan AS yang lebih ketat terhadap China. Sebagai contoh, produsen elektronik di India seperti Dixon Technologies, Kaynes Technology, dan Syrma SGS Technology mengalami kenaikan harga saham lebih dari 8,5%. Analis memprediksi bahwa India akan menjadi penerima manfaat utama dari tren China Plus One, di mana perusahaan global mencari alternatif selain China untuk mendiversifikasi rantai pasokan mereka.
Perusahaan-perusahaan India, dengan kekuatan demografi yang besar dan belanja infrastruktur yang terus berkembang, diyakini akan semakin menarik perhatian investor internasional. Hal ini sejalan dengan pandangan Charu Chanana, kepala strategi investasi di Saxo Markets, yang menyatakan bahwa strategi China Plus One dapat menguntungkan India, mengingat kekuatan struktural negara tersebut dalam bidang manufaktur dan teknologi.
Selain itu, negara-negara seperti Vietnam dan Australia juga merasakan dampak positif. Di Australia, saham BlueScope Steel Ltd. yang terdaftar di Sydney, yang memperoleh hampir setengah dari pendapatannya dari Amerika Utara, melonjak lebih dari 5%. Australia, yang menjadi salah satu pemasok utama baja ke AS, diuntungkan oleh kebijakan proteksionis Trump yang kemungkinan akan meningkatkan permintaan barang-barang produksi negara tersebut.
Secara keseluruhan, investor di Asia melihat peluang dalam kebijakan Trump yang lebih proteksionis. Billy Leung, seorang ahli strategi investasi di Global X ETFs, menyebutkan bahwa sektor-sektor mulai dari pertahanan hingga elektronik diuntungkan dengan adanya pembatasan impor dari China. “Bagi saya, ini bukan hanya soal pergeseran perdagangan, ini adalah perombakan sektoral yang lebih besar,” ujar Leung, mencerminkan keyakinan pasar bahwa sejumlah sektor dapat berkembang pesat meskipun ketegangan perdagangan global meningkat.
Namun, meski banyak perusahaan Asia yang menunjukkan kinerja positif, tidak semua saham mengalami kenaikan. Sejumlah investor masih waspada terhadap ketidakpastian yang mungkin timbul akibat kebijakan Trump yang dapat memperburuk hubungan antara AS dan China. Meskipun demikian, sebagian besar investor tetap optimistis bahwa kebijakan proteksionis Trump akan menciptakan peluang bagi perusahaan-perusahaan Asia untuk meraih keuntungan, terutama mereka yang mampu beradaptasi dengan cepat terhadap perubahan kondisi pasar global.

