Skip to content

COSCO Masuk Daftar Hitam AS

Amerika Serikat (AS) baru saja memasukkan perusahaan pelayaran terbesar China, COSCO, beserta dua perusahaan galangan kapal negara tersebut dalam daftar hitam (blacklist). Keputusan ini diambil setelah adanya dugaan keterlibatan ketiga perusahaan tersebut dalam aktivitas yang terkait dengan militer China, yaitu People’s Liberation Army (PLA).

COSCO Shipping Holdings Co. tercatat dalam pengajuan terbaru yang dipublikasikan di Federal Register pada hari Selasa, 7 Januari, 2024.

Get Free Latest Magazine by Join Our Weekly Newsletter:Click here to join free weekly newsletter

Berdasarkan pengajuan tersebut, Pentagon menilai, COSCO bersama dengan China State Shipbuilding Corp. dan China Shipbuilding Trading Co., sebagai perusahaan yang memiliki hubungan dengan militer China. Meskipun memasukkan perusahaan-perusahaan ini dalam daftar hitam, namun tidak serta-merta menjatuhkan sanksi langsung. Hanya saja, keputusan ini menghalangi perusahaan-perusahaan AS untuk melakukan transaksi bisnis dengan mereka. Ini menjadi sebuah langkah yang berdampak besar dalam dunia perdagangan internasional.

Langkah AS ini juga mencerminkan meningkatnya pengawasan terhadap sektor transportasi laut dan industri pembangunan kapal China dan menjadikan sektor maritim sebagai salah satu fokus dalam konflik geopolitik. Apalagi, pada saat yang sama, Donald Trump, yang terkenal dengan kebijakan anti China, tengah siap untuk kembali ke Gedung Putih.

Saat ini, China merupakan negara pemasok dan pembuat kapal terbesar dengan memproduksi lebih dari setengah kapal niaga global. Sementara itu, industri pembuatan kapal AS telah mengalami penurunan signifikan dalam beberapa dekade terakhir.

Pada kuartal pertama tahun lalu (Q1 2024), menurut pialang kapal BRS, galangan kapal China menyumbang hampir 60% dari total pesanan kapal global. Hal ini memicu kegelisahan di kalangan pejabat AS, terutama mengingat peran penting jalur pelayaran dan pelabuhan dalam geopolitik global. Dampak pandemi COVID-19, yang memperlihatkan kerapuhan sistem rantai pasokan global, semakin memperburuk kekhawatiran ini.

Dalam sebuah sidang Senat tahun lalu, AS mengungkapkan keprihatinannya terhadap dominasi industri galangan kapal China. Raja Krishnamoorthi, anggota Kongres Demokrat dari Illinois, menekankan bahwa untuk setiap 359 kapal kontainer yang dibangun oleh China, AS hanya mampu membangun satu kapal sejenis.

Selain COSCO dan kedua galangan kapal tersebut, Pentagon juga sudah masukan beberapa perusahaan besar China seperti Tencent Holdings Ltd., Contemporary Amperex Technology Co. Ltd., serta raksasa energi Cnooc Ltd. Dalam daftar hitam.

Saham COSCO Jatuh

Menyusul pengumuman ini, saham COSCO turun 4,4% di Hong Kong pada hari Selasa, jauh melebihi penurunan indeks saham acuan kota tersebut, sementara saham Cnooc juga mengalami penurunan sebesar 1,6%.

Meskipun keduanya tidak memberikan komentar terkait dengan keputusan ini, perlu dicatat bahwa COSCO dan Cnooc sebelumnya sudah menjadi target sanksi Washington. Pada 2019, COSCO dikenai sanksi AS karena keterlibatannya dalam pengangkutan minyak dari Iran, meskipun sanksi tersebut akhirnya dicabut pada 2020. Cnooc, yang merupakan perusahaan milik negara China, juga telah dimasukkan dalam daftar hitam AS pada 2021.

Cnooc memiliki beberapa aset strategis di AS, termasuk dua proyek minyak dan gas serpih di darat, serta beberapa proyek eksplorasi di perairan dalam dan blok eksplorasi di Teluk Meksiko. Ketegangan yang meningkat dengan Washington bisa memaksa perusahaan ini untuk menilai kembali kepemilikan mereka atas aset-aset tersebut, seperti yang disarankan oleh Bloomberg Intelligence dalam catatan akhir bulan lalu.

Join Telegram Group Shipping & Logistics:

Sumber: Bloomberg