Skip to content

Kapal Kontainer Idle Capai Level Terendah, Hanya 0,6%

Industri pelayaran peti kemas global tengah berada di puncak utilisasi tertingginya sepanjang sejarah. Di tengah ketegangan geopolitik dan gangguan rantai pasok yang berkepanjangan, hanya 0,6 persen dari total armada global yang idle atau tidak beroperasi secara komersial.

Data ini terungkap dalam survei terbaru lembaga riset Alphaliner yang dilakukan hingga 2 Juni 2025. Dari total kapasitas armada global yang mencapai 32 juta TEU (twenty-foot equivalent unit), hanya 70 kapal dengan kapasitas gabungan 185.157 TEU yang dilaporkan idle.

Get Free Latest Magazine by Join Our Weekly Newsletter:Click here to join free weekly newsletter

“Ini menandakan sektor pelayaran saat ini benar-benar dalam kondisi terpakai penuh. Kalau ada yang tak beroperasi atau idle sifatnya hanya insidentil karena alasan operasional,” demikian pernyataan Alphaliner dalam laporan resminya.

Sejumlah dinamika global turut memperketat ketersediaan armada. Ketegangan perdagangan antara Amerika Serikat dan Tiongkok, misalnya, memicu lonjakan pengiriman di jalur Transpasifik. Perusahaan-perusahaan berlomba mengirimkan barang sebelum kemungkinan diberlakukannya kembali tarif impor pada Agustus mendatang.

Di saat bersamaan, konflik berkepanjangan di Laut Merah memaksa kapal-kapal mengubah rute pelayaran, menghindari wilayah rawan dan menempuh jalur lebih panjang memutari Tanjung Harapan di Afrika. Perubahan jalur ini diperkirakan memicu kenaikan kebutuhan akan kapasitas kapal hingga 8%.

Kemacetan di sejumlah pelabuhan utama juga memperlambat rotasi kapal, memperburuk tekanan terhadap kapasitas armada.

Alphaliner mencatat, permintaan paling kuat terjadi di segmen kapal besar. Kapal-kapal dengan kapasitas di atas 12.500 TEU kini hampir seluruhnya terserap pasar. Salah satu dari sedikit pengecualian adalah MSC Aries, kapal milik operator terbesar dunia MSC, yang hingga kini masih disita oleh otoritas Iran sejak tahun lalu.

Meski terlihat kokoh dari luar, pelaku industri mengingatkan bahwa kondisi ini bukan tanpa risiko.

“Meskipun saat ini sektor pelayaran mendapat keuntungan dari berbagai gangguan dan ketidakpastian global, belum jelas seberapa lama momentum ini bisa bertahan,” tulis Alphaliner.

Lembaga ini tetap memperingatkan potensi over supply jika kondisi pasar kembali stabil dan tidak ada faktor penyerap kapasitas yang baru.

Join Telegram Group Shipping & Logistics:

Rencana penerapan ulang tarif perdagangan oleh AS terhadap barang-barang Tiongkok pada akhir tahun, jika benar terjadi, juga dikhawatirkan akan mengubah pola distribusi global dan strategi penyebaran kapal di berbagai rute utama.