Total laba pelayaran kontainer global pada Q2 mencapai USD4,4 miliar, turun 56% dari USD 9,9 miliar pada Q1. Laba diprediski kembali turun pada kisaran USD 1,9 – 2,5 miliar pada Q3.
Setelah mencatat lonjakan laba luar biasa selama masa pandemi, industri pelayaran kontainer global kini harus menghadapi kenyataan baru: tren penurunan yang berkelanjutan. Kuartal kedua (Q2) 2025 menandai penurunan laba untuk ketiga kalinya secara berturut-turut, dan proyeksi ke depan pun belum menunjukkan titik terang.
Menurut analis pelayaran John McCown, laba bersih industri pelayaran kontainer Q2 2025 anjlok menjadi USD4,4 miliar dollar AS. Angka itu mencerminkan penurunan tajam sebesar 56% dibanding Q1 yang mencapai USD 9,9 miliar, dan merosot 63,7 persen jika dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Penurunan ini, sebagaimana disebut McCown dalam laporan terbarunya, bukan sekadar dampak fluktuasi pasar. Sejumlah faktor struktural dan geopolitik turut berperan. Salah satunya adalah kebijakan tarif yang diberlakukan kembali oleh Pemerintahan Trump, yang secara signifikan menghambat arus perdagangan global, khususnya volume peti kemas yang masuk ke Amerika Serikat.
Kebijakan Tarif dan Pergeseran Jalur Perdagangan
Pengenaan tarif tambahan oleh Amerika Serikat telah mengakibatkan perubahan mendasar dalam jalur perdagangan internasional. Menurut National Retail Federation, volume impor peti kemas AS diperkirakan turun 5,6% pada tahun 2025. Penurunan ini menciptakan efek domino di seluruh jaringan pelayaran, terutama rute yang menghubungkan Asia-Pasifik dengan Amerika Utara.
Kendati volume pengiriman ke wilayah Amerika Utara selain AS serta ke Afrika menunjukkan peningkatan, hal itu belum mampu menutup celah penurunan yang terjadi di pasar utama.
Secara global, volume peti kemas memang masih tumbuh sebesar 4,1 persen pada kuartal kedua, tetapi angka ini menandai perlambatan jika dibandingkan kuartal-kuartal sebelumnya.
Tak hanya berdampak pada arus barang, tarif baru ini juga menciptakan inefisiensi operasional. Biaya logistik meningkat, jadwal pengiriman terganggu, dan rantai pasok pun menjadi semakin rapuh.
Rencana terbaru dari Perwakilan Dagang Amerika Serikat (USTR) yang akan memberlakukan bea tambahan terhadap kapal buatan Tiongkok atau yang dioperasikan oleh operator Tiongkok pada Oktober mendatang, dikhawatirkan akan memperburuk tekanan biaya.
Q3 2025: Trend Penurunan Berlanjut
Tekanan dari berbagai arah ini membuat margin keuntungan perusahaan pelayaran kian tergerus. Pada Q2 2025, margin laba bersih industri tercatat hanya 6,1%, turun dari 12,5% pada Q1, dan jauh di bawah puncaknya saat pandemi.
Sebagai perbandingan, pada Q3 2024 lalu, industri mencatat laba kolektif sebesar 26,4 miliar dollar AS. Lonjakan saat itu sebagian besar didorong oleh harga pengiriman yang naik tajam akibat gangguan di Laut Merah. Namun seperti dicatat McCown, fenomena luar biasa tersebut bersifat sementara, dan mekanisme pemulihan dari krisis semacam itu tidak dapat dengan mudah direplikasi dalam situasi normal.
McCown memprediksi laba bersih industri akan terus menurun pada Q3 2025, kemungkinan berada di kisaran 1,9 miliar hingga 2,5 miliar dollar AS. Penurunan ini tidak hanya mencerminkan dampak kebijakan perdagangan, tetapi juga akibat dari strategi ekspansi kapasitas yang agresif oleh para pelaku industri.
Jaga Keseimbangan Supply – Demand
Dalam beberapa tahun terakhir, perusahaan pelayaran berlomba memesan kapal baru, memanfaatkan keuntungan besar pascapandemi. Namun, dengan melimpahnya kapasitas dan melemahnya permintaan, tekanan terhadap tarif dan margin pun semakin tak terhindarkan.
Kini, sinyal-sinyal penyesuaian mulai terlihat. Fokus industri perlahan bergeser menuju pengendalian kapasitas dan penyelarasan dengan pola permintaan baru. Buku pesanan kapal yang masih tebal menjadi tantangan tersendiri, namun juga peluang untuk mengatur ulang keseimbangan antara penawaran dan permintaan.
Di tengah ketidakpastian yang masih membayangi industri pelayaran global, satu hal menjadi semakin jelas: era pertumbuhan tanpa hambatan telah usai.
McCown mendorong para pemain industry ini untuk lebih adaptif, cermat membaca arah angin kebijakan global, dan berhati-hati dalam mengambil langkah ekspansi. Hanya dengan pendekatan strategis yang seimbang, industri pelayaran bisa berharap untuk bertahan, dan mungkin bangkit kembali.

