Dominasi China di sektor galangan kapal saat ini menjadi sorotan global, terutama setelah adanya rekomendasi hasil investigasi United States Trade Representative (USTR). Masyarakat internasional kemudian banyak yang bertanya-tanya, kenapa China begitu berkembang pesat dalam industri ini dalam beberapa tahun terakhir sehingga berada dalam posisi yang begitu dominan saat ini.
Panel bertajuk “Shipbuilding – A Macro View” di Event Sea Asia 2025 yang diselenggarakan di Singapura pada 25-27 Maret kemarin juga menjadikan hal ini sebagai salah satu topik diskusi.
Salah satu pembicara, Adam Kent, Direktur Pelaksana Maritime Strategies International (MSI), sebagaimana dilaporkan oleh seatrade-maritime.com, mengungkapkan galangan kapal China berhasil menguasai sekitar 75% market share pesanan baru global sepanjang tahun lalu (2024). Bahkan, untuk kapal-kapal curah kering dan kapal peti kemas, pangsa pasarnya lebih tinggi lagi, mencapai sekitar 80%.
Hal ini, menurut Kent, merupakan sebuah perkembangan yang sagat luar biasa, mengingat pada tahun 2000, China hanya menguasai 10% dari total pesanan global. Artinya, hanya dalam tempo 25 tahun, negara tersebut telah berubah dari pemain kecil menjadi kekuatan terbesar yang mendominasi pasar global.
Kent menyebutkan setidaknya ada enam faktor kunci yang membuat China berada dalam posisi tersebut. Pertama, dukungan pemerintah yang kuat. Pemerintah China, baik pemerintah pusat maupun daerah, telah menjadikan industri galangan kapal sebagai sektor strategis.
“Selama beberapa dekade, ada banyak dukungan dari pemerintah daerah dan pusat, termasuk selama periode krisis pasar global pada 2012-2016. Hal ini memungkinkan galangan kapal China untuk berkembang pesat,” jelas Kent
Kedua, harga yang kompetitif. Galangan kapal di China telah berhasil menarik pemilik kapal dengan menawarkan harga yang jauh lebih rendah daripada galangan kapal Jepang atau Korea. Menurut Kent, harga yang ditawarkan bisa mencapai dua digit lebih rendah, meski terkadang hal ini mempengaruhi kualitas.
Namun, berdasarkan hasil pembicaraan Kent dengan sejumlah perusahaan pelayaran, selama 15 tahun terakhir, kesenjangan kualitas telah menyusut secara signifikan, sehingga kapal yang diproduksi di China kini hampir setara kualitasnya dengan yang diproduksi di negara-negara lain.
Ketiga, fleksibilitas desain dan peralatan. Galangan kapal di Korea cenderung mengkhususkan diri dalam desain kapal seri standar, sementara galangan kapal di China menawarkan fleksibilitas yang lebih besar. Pemilik kapal bisa memilih desain dan peralatan yang diinginkan, dan galangan kapal China akan berusaha untuk memenuhi permintaan tersebut.
Meskipun demikian, Kent juga mencatat fleksibilitas ini sedikit berkurang belakangan ini seiring dengan lonjakan pesanan. Namun, secara umum galangan kapal China tetap lebih fleksibel dibandingkan dengan galangan kapal Korea dan Jepang.
Keempat, diversifikasi tipe kapal. Galangan kapal China, yang awalnya fokus pada kapal curah kering, kini telah mulai memperluas portofolio mereka dengan membangun berbagai jenis kapal, baik kapal container maupun kapal-kapal pendukung kegiatan offshore seperti offshore supply vessel (OSV/), Platform Support Vessel (PSV), maupun kapal-kapal lainnya.
Kelima, peningkatan produktivitas. Kent mengungkapkan penurunan sektor konstruksi di China telah menyebabkan peralihan tenaga kerja terampil, seperti pengelas, ke sektor galangan kapal. Hal ini berkontribusi pada peningkatan produktivitas, di mana galangan kapal di China bahkan mampu menyelesaikan kapal enam bulan lebih cepat dari jadwal semula.
Dan keneam, dukungan keuangan yang kuat. Sebelum 2009, pembiayaan pembangunan kapal sebagian besar dikuasai oleh bank-bank Eropa. Namun, saat ini, bank-bank Asia, terutama bank-bank China, memainkan peran dominan dalam pembiayaan pembangunan kapal, bahkan selama periode sulit.
Ini memberi galangan kapal di China akses ke sumber daya keuangan yang kuat, mendukung ekspansi mereka di pasar global.
Dengan dukungan kuat dari pemerintah, biaya produksi yang lebih rendah, fleksibilitas desain, serta pembiayaan yang menguntungkan, galangan kapal di China semakin sulit untuk disaingi oleh pemain besar lain seperti Jepang dan Korea. Apalagi, dengan galangan kapal AS yang saat ini menguasai kurang dari 1% dari pasar global.
“Galangan kapal China telah menutup celah dalam pembangunan kapal, dan kini semakin sulit bagi pesaing besar lainnya untuk bersaing,” pungkas Kent.

