Rencana pengenaan biaya tambahan bagi kapal-kapal perusahaan pelayaran China (Tiongkok) serta kapal-kapal buatan galangan Tiongkok yang dioperasikan pelayaran lain (non-Tiongkok) yang akan call di Pelabuhan-pelabuhan AS saat ini menjadi salah satu isu utama dalam masyrakat shipping global. Kebijakan tersebut disinyalir akan sangat berdampak pada kinerja industry ini ke depannya.
Sebagaimana dilaporkan sebelumnya, usulan yang diajukan oleh United States Trade Representative (USTR) tersebut bertujuan mengurangi dominasi China dalam industry shipping, khususnya industry galangan kapal di mana China saat ini begitu dominan. AS mensinyalir, Beijing telah menerapkan kebijakan yang tidak fair yang menguntungakn galangan kapal China.
Kebijakan ini juga sekaligus untuk membantu mendorong kebangkitan maritim AS, khususnya industry galangan kapal sesuai dengan tema kampanye Donald Trump untuk membangkitkan industry domestic, termasuk galangan kapal.
Para pelaku industry pelayaran menilai kebijakan ini memiliki dampak yang sangat besar, mengingat ada begitu banyak kapal buatan China yang beroperasi di pasar.
Berbicara pada Forum Global Sea Asia yang diselenggarakan di Singapura pada 25-27 Maret, 2025, Roar Adland, Kepala Riset Global untuk SSY, mengatakan galangan kapal di Tiongkok saat ini menguasai sekitar 59% dari total pesanan kapal baru global, sementara galangan kapal di AS hanya 0,2%.
Biaya yang dikeluarkan untuk setiap kapal yang call di Pelabuhan AS besarannya akan bervariasi. Menurut Adland, meskipun rincian biaya per kunjungan pelabuhan masih belum sepenuhnya jelas, diperkirakan biaya tersebut akan berkisar antara $500.000 hingga $3,5 juta.
Pelayaran Non-Container Lebih Terdampak
SSY telah berupaya untuk mengukur sektor mana yang paling terdampak oleh kebijakan tersebut. Sejumlah faktor yang menjadi tolok ukur adalah pangsa perdagangan AS untuk masing-masing sektor serta jumlah armada non-Tiongkok yang dapat menggantikan kapal-kapal Tiongkok.
Berdasarkan analisis ini, sektor-sektor tersebut diklasifikasikan dalam tiga kategori berdasarkan sistem lampu lalu lintas: hijau, kuning, dan merah.
Sektor Hijau: Sektor yang masuk dalam kategori hijau adalah kapal curah Capesize, yang hanya melayani 2% armadanya di pasar AS.
Sektor Kuning: Di kategori kuning terdapat kapal curah Panamax dan Handysize, kapal tanker Suezmax, serta kapal pengangkut LNG. Untuk sektor-sektor ini, Adland menilai pemilik kapal bisa mengalihkan aset-aset buatan Tiongkok ke badan hukum lain atau menjual beberapa kapal buatan Tiongkok.
Sektor Merah: Sektor yang berada dalam kategori merah, yang mana perdagangan AS-nya lebih besar daripada yang bisa ditangani oleh armada non-Tiongkok, termasuk kapal VLCC, Aframax, kapal tanker produk bersih MR, kapal curah supramax, dan kapal kontainer.
Menurut Adland, meskipun hampir seluruh kapal kontainer diperkirakan akan terkena dampak, namun tidak sebesar yang akan dialami oleh kapal-kapal jenis lainnya. Dia mengambil controh untuk kapal dengan bongkar 5.000 TEU. Dengan biaya tambahan sebesar $2 juta, maka biaya tambahan per container nya setara dengan $400 per TEU.
“Biaya ini masih berada dalam batas volatilitas perdagangan, yang memungkinkan pasar untuk menyerap kenaikan tersebut,” jelas Adland.
Namun berbeda dengan kapal curah Supramax dengan kapasitas muatan 50.000 ton. Dengan biaya tambahan $2 juta/call, maka biaya per unitnya $40 per ton. “Untuk menutup biaya tersebut, pelayaran harus melipatgandakan biaya muatan. Dan ini tentu tidak akan diterima pasar,” jelas Adland sebagaimana dikutip seatrade-maritime.com.

