Skip to content

Perang Israel-Iran: Tariff Tanker Naik Dua Kali Lipat

Ketegangan di Teluk makin mengancam industri pelayaran dunia. Industri pelayaran minyak adalah sub-sektor yang langsung terkena dampak. Tariff harian kapal-kapal tanker langsung melonjak tajam begitu perang dimulai. Apalagi, jika perang ini meluas menjadi konflik kawasan, dampaknya pada industry pelayaran dipastikan semakin besar.

Sejumlah sumber, sebagaimana ditulis dalam laporan Bloomberg, ekskalasi akan sangat bergantung pada keterlibatan Amerika Serikat. AS dikabarkan tengah mempersiapkan skenario serangan militer terhadap Iran, memicu kekhawatiran akan pecahnya konflik berskala regional yang bisa melumpuhkan jalur pelayaran strategis dunia.

Get Free Latest Magazine by Join Our Weekly Newsletter:Click here to join free weekly newsletter

Mengutip sejumlah sumber yang mengetahui rencana tersebut, Bloomberg,melaporkan Washington bersiap untuk menyerang. Dan laporan terbaru, Presiden Donald Trump memberikan jeda waktu dua minggu.

Di sisi lain, Sumber New York Times bahkan menyebut Teheran telah menyiapkan opsi ekstrem, yakni meletakkan ranjau di sepanjang Selat Hormuz yakni jalur utama tanker minyak global, jika AS benar-benar terlibat dalam perang.

Pasar Tanker Naik Dua Kali Lipat

Dampaknya langsung terasa di pasar angkutan laut. Tarif harian kapal Very Large Crude Carrier (VLCC) melonjak hingga hampir US$ 55 ribu, lebih dari dua kali lipat dibanding seminggu lalu yang hanya berada di kisaran US$ 20 ribuan. Kapal tanker tipe Long Range 2 (LR2) juga tak kalah tajam: tembus US$ 45 ribu per hari, tertinggi sejak Juli 2024.

Kenaikan ini bukan sekadar angka. Sekitar 60–65 persen dari armada VLCC dan LR2 dunia melayani rute Timur Tengah. “Inilah wilayah paling rentan terhadap gejolak geopolitik,” demikian laporan Jefferies, firma investasi global sebagaimana dikutip Bloomberg.

Ministry of Shipping Yunani, yang negaranya memiliki salah satu armada komersial terbesar dunia, mengeluarkan imbauan kepada seluruh kapal berbendera Yunani agar menghindari perairan Iran. Peringatan ini menyebut risiko historis terhadap kebebasan navigasi, khususnya di perairan Iran, Selat Hormuz, dan Teluk Oman.

Premi Naik, Sinyal GPS Terganggu

Lonjakan risiko ini membuat pasar asuransi juga ikut bergejolak. Menurut data dari Marsh McLennan, salah satu pialang asuransi laut terbesar dunia, premi asuransi lambung dan mesin untuk kapal yang melintasi Selat Hormuz naik lebih dari 60 persen dalam beberapa hari. Untuk kapal tanker senilai US$ 100 juta, biaya asuransi kini tembus US$ 200 ribu, naik dari sebelumnya US$ 125 ribu.

Sementara itu, gangguan elektronik makin marak. UK Maritime Trade Operations (UKMTO) dan Joint Maritime Information Center (JMIC) yang dipimpin Angkatan Laut AS telah mengeluarkan beberapa peringatan tentang pemalsuan GPS dan anomali sinyal navigasi. Pelabuhan Bandar Abbas, Iran, disebut sebagai salah satu titik terparah.

Salah satu insiden yang mengundang kecurigaan terjadi awal pekan ini. Dua kapal tanker bertabrakan di dekat selat. Salah satunya diketahui mengirim data posisi yang tak konsisten. Diduga, ada gangguan navigasi yang disengaja.

Para Pemain Besar Bicara

Di tengah ketidakpastian, pelaku industri pelayaran berkumpul dalam ajang tahunan Marine Money Week 2025 di New York. Tema besar tahun ini tak terelakkan: Iran, Israel, dan risiko perang laut.

Beberapa eksekutif senior mencoba meredam kecemasan. CEO DHT Holdings, Svein Moxnes Harfjeld, mengatakan belum ada preseden historis penutupan total Selat Hormuz. Hal senada diungkap Lois Zabrocky, CEO International Seaways. Menurutnya, negara-negara besar seperti Tiongkok dan India, yang bergantung pada pasokan minyak dari Timur Tengah, akan berusaha mati-matian agar jalur itu tetap terbuka.

Lars Barstad, CEO Frontline, menggambarkan situasi pasar sebagai Mexican standoff -“kebuntuan Meksiko”,  antara pemilik kapal dan penyewa,  saling menunggu langkah pertama.

Sementara itu, Knut Traaholt dari Flex LNG menilai Iran tak akan nekat memblokade selat. “Itu sumber devisa utama mereka,” ujarnya. John Boots, CFO CoolCo, mengingatkan bahwa bahkan saat Perang Iran-Irak dan dua Perang Teluk, selat tetap bisa dilalui.

Join Telegram Group Shipping & Logistics:

Namun demikian, bukan berarti ancaman tak nyata. CEO BW LPG, Kristian Sørensen, menyebut upaya mereka saat ini adalah mengamankan pengiriman kargo LPG dari kawasan—sekaligus menjajaki jalur alternatif dari Amerika Serikat.