Skip to content

Perusahaan Pelayaran Masih Enggan Lewati Laut Merah meski Ada Gencatan Senjata Israel-Hamas

Perusahaan pelayaran global masih enggan melintasi Laut Merah dan Terusan Suez, meski baru-baru ini diumumkan adanya gencatan senjata antara Israel dan Hamas. Sebagian besar perusahaan pelayaran memilih rute alternatif yang lebih panjang, melalui Tanjung Harapan di Afrika, untuk menghindari potensi risiko yang masih ada di kawasan tersebut.

Dua perusahaan pelayaran terbesar di dunia, Maersk dan Hapag-Lloyd, dalam wawancara dengan Reuters pada Kamis, 16 Januari, mengungkapkan bahwa mereka belum berencana untuk segera melintasi Laut Merah meskipun gencatan senjata telah diumumkan. Kedua perusahaan tersebut menyatakan akan terus memantau situasi di Timur Tengah dan hanya akan kembali menggunakan rute Laut Merah jika kondisi keamanan dinilai aman.

Get Free Latest Magazine by Join Our Weekly Newsletter:Click here to join free weekly newsletter

“Kesepakatan baru saja dicapai. Kami akan menganalisis dengan cermat perkembangan terbaru dan dampaknya terhadap situasi keamanan di Laut Merah,” ujar juru bicara Hapag-Lloyd kepada Reuters. Sementara itu, juru bicara Maersk menambahkan, “Masih terlalu dini untuk berspekulasi mengenai waktu yang tepat untuk kembali berlayar melalui Laut Merah.”

Sejak Juni, Hapag-Lloyd telah memberikan peringatan bahwa gencatan senjata tidak serta merta akan mengembalikan perjalanan kapal melalui Terusan Suez. Mereka mengkhawatirkan ancaman serangan dari kelompok militan Houthi yang berbasis di Yaman, yang dapat mengganggu jalur pelayaran utama tersebut. Penyesuaian jadwal pelayaran diperkirakan akan memakan waktu antara empat hingga enam minggu.

Join Telegram Group Shipping & Logistics:

Gangguan yang terjadi di Timur Tengah telah memaksa perusahaan-perusahaan pelayaran untuk mengubah rute kapal mereka, yang sering kali mengharuskan mereka mengambil jalur lebih panjang melewati Tanjung Harapan di Afrika. Langkah ini tidak hanya meningkatkan biaya angkutan, tetapi juga berdampak pada kelancaran pengiriman barang secara global.