Skip to content

Sanksi AS Untungkan Galangan Korsel, Beberapa Pesanan di China Dibatalkan

Rencana kebijakan baru Amerika Serikat yang mengenakan biaya khusus bagi kapal-kapal perusahaan China dan kapal-kapal buatan China yang call ke Pelabuhan-pelabuhan AS diperkirakan akan berdampak pada penurunan pesanan di galangan-galangan China. Sementara pada sisi lainnya, galangan kapal Korea Selatan diperkirakan yang paling diuntungkan.

Demikian disampaikan beberapa analis sebagaimana dilaporkan sebuah media online yang berbasis di Korsel biz.chosun.com.

Get Free Latest Magazine by Join Our Weekly Newsletter:Click here to join free weekly newsletter

Bahkan, menurut media tersebut, beberapa perusahaan telah membatalkan pesanan kapalnya di beberapa galanagan Korsel.

ExxonMobil, perusahaan energi asal Amerika, dilaporkan baru saja membatalkan pemesanan dua kapal LNGBV (liquefied natural gas bunkering vessels) yang seharusnya dibangun di China. Meskipun ExxonMobil telah mengamankan slot, namun perusahaan ini tidak melakukan pemesanan akhir, yang mengarah pada pembatalan kontrak.

Pembatalan ini menjadi contoh pertama pesanan kapal China yang dibatalkan setelah sidang dengar pendapat publik yang diadakan oleh Perwakilan Dagang Amerika Serikat (USTR) pada 24 Maret (waktu setempat).

Pemerintah AS saat ini tengah mendorong kebijakan yang mengenakan biaya sebesar $1 juta untuk kapal-kapal dari perusahaan pelayaran China yang memasuki pelabuhan AS, dan $1,5 juta untuk kapal-kapal buatan China.

Total biaya yang dikenakan bisa mencapai $1 juta hingga $3 juta per call ke satu pelabuhan AS.

Kebijakan tersebut telah menuai kritikan, tidak hanya dari masyarakat internasional, tetapi juga publik AS sendiri. Ada kekhawatiran kebijakan ini akan meningkatkan biaya logistik dan memberikan dampak negatif pada ekspor energi serta produk pertanian dari AS.

Namun, beberapa pihak mendukung kebijakan ini, dengan harapan dapat mendorong pertumbuhan industri maritim AS.

Meskipun ExxonMobil tidak mengungkapkan alasan pasti di balik pembatalan tersebut, banyak analis meyakini kebijakan AS terkait kapal-kapal buatan China menjadi pemicunya.

Jika kebijakan ini benar-benar diterapkan, kapal-kapal China kemungkinan akan semakin sulit dipilih oleh perusahaan-perusahaan besar karena biaya tambahan yang tinggi.

Saat ini, banyak perusahaan yang sebagian besar kapalnya merupakan buatan China berupaya untuk melakukan diversifikasi armada mereka dengan memesan kapal baru non-China.

Berdasarkan data dari Clarkson Research, sekitar 70% pesanan kapal baru pada tahun lalu dimenangkan oleh galangan kapal China.

Korsel dan Jepang Diuntungkan

Jika permintaan kapal China menurun, galangan kapal di Korea Selatan dan Jepang berpotensi memperoleh manfaat. Menurut laporan dari Congressional Research Service (CRS), pada tahun 2023, China menyumbang 51% dari pengiriman kapal global, diikuti oleh Korea Selatan dengan 28,3%, dan Jepang sebesar 15,4%.

Namun dengan kebijakan AS tersebut, oderan kapal baru ke China diperkirakan menurun. Padahal, sejumlah kapal dengan spesifikasi tertentu hanya bisa dibangun di China dan Korsel.

“Kapal LNGBV besar yang dibatalkan oleh ExxonMobil hanya dapat dibangun di galangan kapal China dan Korea Selatan. Jadi, jika tidak jadi dibangun di galangan China, ExxonMobil pasti akan memesannya di Korsel,” tulis biz.chosun.com., mengutip pendapat seorang analis.

Join Telegram Group Shipping & Logistics:

“Namun, saat ini, galangan kapal Korea Selatan sudah memiliki pesanan yang banyak, sehingga sulit untuk mengamankan slot pembangunan kapal,” lanjutnya.