Skip to content

Tariff Trump Turunkan Traffic Peti Kemas Global 1%: Drewry

Kebijakan tariff Donald Trump diproyeksi akan menurunkan traffic peti kemas global secara signifikan. Hal ini mendorong perusahaan pelayaran kembali melakukan penyesuaian strategi, salah satunya dengan kembali melakukan blank sailing.

Dalam laporan terbarunya, konsultan maritim terkemuka Drewry memproyeksikan traffic kemas global akan turun sekitar 1% pada tahun 2025, atau setara dengan volume 1,8 juta TEUs jika dihitung berdasarkan traffic tahun lalu yang mencapai 183,2 juta TEU.

Get Free Latest Magazine by Join Our Weekly Newsletter:Click here to join free weekly newsletter

Sejarah mencatat, hanya dua kali sebelumnya dunia menyaksikan penurunan serupa: saat krisis keuangan global 2009 dengan penurunan 8,4%, dan pada 2020 ketika pandemi COVID-19 memangkas volume hingga 0,9%. Drewry, yang telah memantau pergerakan peti kemas sejak 1979, menyebut situasi saat ini sebagai tanda tekanan struktural dalam rantai pasok global.

Dalam laporan terbaru tersebut, Drewry menyoroti bagaimana turunnya permintaan dari pengirim barang menciptakan kelebihan kapasitas di pasar. Hal ini berpotensi menurunkan tarif pengiriman dan memicu pembatalan pelayaran serta penghentian operasional kapal (blank sailing) karena operator mencoba menyeimbangkan kembali pasokan dan permintaan.

Meski ada jeda 90 sebelum tariff tersebut diterapkan, Trump baru-baru ini menyatakan beberapa tarif terhadap China kemungkinan akan tetap diberlakukan. Drewry memperingatkan, jika dua pertiga dari tarif tetap aktif, maka impor dari China bisa anjlok hingga 40%.

Situasi ini mendorong importir untuk melakukan frontloading – mendatangkan barang lebih awal sebelum tarif diberlakukan kembali. Namun, langkah ini bisa menjadi pedang bermata dua. Ketika semua pengiriman menumpuk dalam waktu singkat, pelabuhan-pelabuhan utama berisiko mengalami kepadatan.

Masalah-masalah seperti pembatalan pelayaran mendadak dan kelangkaan peti kemas kosong yang pernah terlihat saat pandemi, bisa kembali terulang pada pertengahan tahun.

Pertarungan tarif ini telah menyebabkan embargo barang antara dua ekonomi terbesar dunia. Dampaknya terasa luas, mengguncang rantai pasokan dan mengganggu keseimbangan pasar. Menurut data dari Vizion, pada periode awal April, yang dihitung sejak Donald Trump umumkan tariff hingga 14 April, pemesanan peti kemas global turun hampir 10% secara YoY, dibandingkan tahun lalu. Pemesanan impor dari AS bahkan anjlok lebih dari 22% YoY, sementara pemesanan dari China ke AS merosot hingga 44%.

Operator pelayaran pun mulai merasakan dampaknya. Hapag-Lloyd melaporkan penurunan pemesanan trans-Pasifik hingga 30%, sementara Evergreen Marine menyebutkan volume ekspor-impor China telah terpangkas hingga 70%.

Untuk bertahan, banyak operator mulai mengalihkan rute mereka ke jalur yang dianggap lebih menguntungkan, seperti Asia-Eropa, sembari membatalkan pelayaran dan menyusun ulang rotasi kapal.

Bahkan, jika ada kesepakatan antara Beijing dan Washington pada akhir Mei, aktivitas perdagangan tidak akan langsung pulih. Drewry memperkirakan dibutuhkan waktu hingga 50 hari sebelum lalu lintas peti kemas kembali normal di Pelabuhan New York-New Jersey. Untuk Midwest dan Houston, estimasi pemulihan berkisar antara 30–45 hari.

Join Telegram Group Shipping & Logistics:

Namun tantangannya tak berhenti di pelabuhan. Infrastruktur pendukung seperti gudang dan transportasi darat juga belum tentu siap menampung lonjakan aktivitas. Di salah satu pelabuhan utama di Pantai Timur AS, misalnya, pihak otoritas dilaporkan tengah berupaya keras untuk menjaga agar para buruh dan sopir truk tetap bekerja dengan mencari segala jenis kargo ekspor yang tersedia.