Volume pesanan kontainer global ke Amerika Serikat mengalami penurunan drastis menyusul kebijakan tarif impor baru yang diumumkan Presiden AS Donald Trump. Penurunan signifikan ini juga tercermin pada ekspor dari AS ke berbagai negara, meski dalam skala yang lebih kecil.
Menurut TradeView Vizion, sebuah platform intelijen perdagangan global, dalam tujuh hari terakhir, pesanan peti kemas menuju AS turun hingga 67% dibandingkan minggu sebelumnya. Sementara itu, pesanan untuk ekspor dari AS turun sebesar 40%.
“Jika angka-angka ini mendekati kebenaran, kita sedang menyaksikan gangguan besar terhadap arus perdagangan global,” ungkap Lars Jensen, CEO konsultan logistik Vespucci Maritime, dalam unggahan LinkedIn-nya.
Ketidakpastian akibat memanasnya perang tarif mendorong sejumlah perusahaan pelayaran membatalkan jadwal pelayaran mereka. Salah satunya adalah layanan PN4 Pacific milik Premier Alliance, yang seharusnya diluncurkan pada Mei, kini ditangguhkan hingga pemberitahuan lebih lanjut.
Sejumlah aliansi pelayaran dan operator kontainer lainnya diperkirakan akan mengambil langkah serupa dalam beberapa hari mendatang, mengingatkan pada respons industri yang terjadi di awal pandemi COVID-19 lima tahun lalu.
Penurunan pesanan dan pembatalan pelayaran ini diyakini sebagai dampak langsung dari kebijakan tarif timbal balik (reciprocal tariff) yang diberlakukan Presiden Trump terhadap lebih dari 180 negara.
Gelombang tarif terbaru—yang disebut Trump sebagai “ledakan tarif”—saat ini sudah mulai diberlakukan, dengan fokus utama pada meningkatnya tensi dagang antara AS dan Tiongkok. Pada Rabu, 9 April 2025, Trump kembali menaikkan tarif impor atas produk-produk dari Tiongkok menjadi 125%, hanya beberapa jam setelah Beijing menetapkan tarif balasan sebesar 84% atas barang-barang dari AS.
Langkah ini semakin memperkeruh hubungan dagang antara dua ekonomi terbesar dunia. Namun, Trump memutuskan menunda pemberlakuan tarif tambahan untuk negara-negara lain selama 90 hari. Padahal, kebijakan tarif tinggi terhadap 56 negara dan Uni Eropa baru saja mulai berlaku 13 jam sebelumnya.
Pengumuman ini disampaikan Trump melalui akun media sosialnya, Truth Social, pada Rabu (9/4/2025) pukul 13.18 waktu setempat, sebagaimana dilaporkan oleh Bloomberg.
Secara keseluruhan, terdapat 60 negara yang oleh Trump dikategorikan sebagai “pelanggar perdagangan terburuk.” Negara-negara tersebut kini dikenakan tarif tambahan antara 11% hingga 50%, di luar tarif umum sebesar 10% yang diumumkan sepekan sebelumnya.
Khusus untuk Tiongkok, tarif tambahan diberlakukan setelah negara tersebut gagal memenuhi tenggat waktu untuk mencabut kebijakan tarif balasan terhadap AS.

