Skip to content

Di Balik Toga LABORA: Antara Ambisi, Integritas, dan Ujian Dunia Nyata

Wisuda STML 2026 bukan sekadar seremoni kelulusan, melainkan titik tolak bagi para lulusan untuk menavigasi disrupsi global, memperkuat UMKM, dan membuktikan bahwa kejujuran tetap relevan di tengah kompetisi yang kian tajam

Sabtu, 25 April 2026, aula utama Hotel Santika Harapan Indah, Bekasi, perlahan dipenuhi oleh wajah-wajah yang menyimpan beragam cerita. Di balik toga dan senyum yang tertata, ada perjalanan panjang yang tak selalu mudah untuk diceritakan.

Get Free Latest Magazine by Join Our Weekly Newsletter:Click here to join free weekly newsletter

Hari itu, Sekolah Tinggi Manajemen LABORA (STML) melepas 200 lulusan—35 dari program sarjana dan 165 dari program pascasarjana—ke dunia yang jauh lebih riuh dibanding ruang kelas yang mereka tinggalkan.

Wisuda, pada satu sisi, adalah ritual yang berulang. Bagi STML, ini adalah kali ke-29 untuk program sarjana dan ke-34 untuk pascasarjana. Angka-angka itu menandai keberlanjutan, sesuatu yang tidak selalu mudah dipertahankan dalam dunia pendidikan tinggi yang sering kali tergoda mengikuti arus tren. Namun, di balik rutinitas seremoni, selalu ada konteks yang membuat setiap wisuda terasa berbeda.

Tema yang diangkat, tentang membangun UMKM dan ekonomi kreatif yang tangguh melalui inovasi, digitalisasi, dan kepemimpinan berintegritas—tidak lahir dari ruang hampa. Ia mencerminkan kegelisahan yang kini menjadi milik banyak orang: bagaimana bertahan, bahkan berkembang, di tengah ketidakpastian global.

Arwan Selmianto, SM, MM, Wakil Ketua INSA Jaya

Di antara para wisudawan, tampak sosok-sosok yang tidak lagi asing dengan tekanan dunia kerja. Sejumlah lulusan pascasarjana datang dari institusi strategis negara—Kementerian Keuangan, Direktorat Jenderal Pajak, Bea dan Cukai, hingga Badan Pemeriksa Keuangan. Ada pula yang berasal dari perusahaan pelat merah seperti Pelindo dan Angkasa Pura II.

Mereka bukan pemula yang baru mencari arah, melainkan para profesional yang memilih kembali belajar, seolah menyadari bahwa pengalaman saja tidak lagi cukup.

Salah satunya adalah Arwan Selmianto, Wakil Ketua INSA Jaya. Arwan yang saat ini berkarier di PT Jasa Armada Indonesia (JAI), anak perusahaan BUMN Pelabuhan PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) menyandang gelar magister managemen (MM).

Lulusan Berintegritas

Pendikan Ketua STML, DR. Achmad Yani, dalam sambutannya memilih untuk tidak terjebak pada euforia seremoni. Ia justru mengingatkan sesuatu yang sederhana, namun sering kali terlewatkan.

“Dunia tidak kekurangan orang pintar,” katanya. “Tetapi sangat membutuhkan orang-orang yang jujur.”

Kalimat itu mungkin terdengar seperti nasihat yang kerap diulang. Namun, dalam realitas yang semakin kompetitif, kejujuran justru menjadi nilai yang paling mudah dikompromikan. Ketika kecepatan dan hasil sering kali menjadi tolok ukur utama, integritas perlahan terdorong ke pinggir.

STML, menurut Achmad, berupaya menempatkan integritas sebagai inti, bukan pelengkap. Sebuah tujuan yang terdengar idealistis, tetapi justru karena itu menjadi penting untuk diperjuangkan.

Nada serupa disampaikan oleh Ketua Pembina Yayasan STML, Monica. Ia berbicara tentang wibawa yang tidak lahir dari jabatan, melainkan dari sikap. Tentang manusia yang tidak seharusnya dibedakan oleh latar belakang agama, suku, atau ras. Dalam pandangannya, kepemimpinan tidak bisa dilepaskan dari integritas—keduanya adalah satu kesatuan.

Di tengah derasnya pembicaraan tentang teknologi, inovasi, dan disrupsi, fokus pada UMKM terasa seperti upaya untuk kembali ke akar. Sektor usaha mikro, kecil, dan menengah selama ini telah menjadi penopang ekonomi Indonesia, terutama saat krisis melanda. Namun, tantangan yang mereka hadapi hari ini tidak lagi sama.

Digitalisasi telah mengubah cara orang berbisnis. Pasar kini terbuka lebar, tetapi juga semakin kompetitif. Batas geografis nyaris tidak lagi relevan, digantikan oleh batas baru: kemampuan beradaptasi.

Wakil Menteri UMKM dan Ekonomi Kreatif, Irene Umar, sedang orasi ilmiah terkait ekonomi kreatif

Kepala LLDIKTI Wilayah III menegaskan bahwa perguruan tinggi tidak bisa lagi hanya menjadi ruang produksi pengetahuan. Ada tuntutan yang lebih besar: menghadirkan dampak nyata.

Ilmu, katanya, tidak boleh berhenti sebagai capaian akademik. Ia harus hidup di tengah masyarakat, terutama dalam mendampingi UMKM dan ekonomi kreatif agar mampu bertahan dan berkembang.

Pernyataan ini seolah mengingatkan kembali fungsi dasar kampus yang kerap terlupakan. Bahwa pendidikan bukan sekadar proses transfer ilmu, melainkan juga bagian dari upaya membangun ekosistem sosial yang lebih kuat.

Kreatif, Berjiwa Entrepreneurship

Perspektif yang lebih luas datang dari Wakil Menteri UMKM dan Ekonomi Kreatif, Irene Umar. Dalam orasi ilmiahnya, ia menekankan pentingnya mengawinkan kreativitas dengan teknologi. Menurutnya, masa depan ekonomi Indonesia akan sangat ditentukan oleh kemampuan generasi muda mengolah ide menjadi nilai ekonomi yang konkret.

Kreativitas, dalam konteks ini, tidak lagi cukup sebagai ekspresi. Ia harus menjadi produk yang mampu bersaing, tidak hanya di pasar lokal tetapi juga global.

Dunia, katanya, kini semakin terhubung. Produk dari sebuah kota kecil di Indonesia memiliki peluang yang sama untuk dikenal di pasar internasional. Namun, peluang itu hanya bisa dimanfaatkan jika disertai kualitas, inovasi, dan keberanian untuk berbeda.

Di tengah berbagai pidato dan pesan yang disampaikan, ada satu momen yang terasa lebih hening: ketika apresiasi diberikan kepada para orang tua. Di balik setiap lulusan, ada dukungan yang sering kali tidak terlihat—pengorbanan, doa, dan harapan yang terakumulasi selama bertahun-tahun.

Pendidikan, seperti yang disampaikan perwakilan LLDIKTI Wilayah III, adalah investasi jangka panjang. Hasilnya tidak selalu instan, tetapi hari itu menjadi salah satu bukti bahwa proses panjang tersebut tidak sia-sia.

Sejarah STML sendiri adalah cerita tentang ketekunan. Berawal dari sebuah lembaga pelatihan pada 1982, institusi ini berkembang melalui berbagai fase hingga menjadi seperti sekarang. Lebih dari 5.000 alumni telah dilahirkan, masing-masing membawa cerita dan kontribusinya sendiri.

Namun, yang dijaga bukan hanya keberlangsungan institusi, melainkan juga nilai-nilai yang menyertainya. Melalui Doktrin LABORA, STML menanamkan prinsip tentang pengabdian, kesetaraan, dan kemanusiaan—nilai-nilai yang mungkin terdengar ideal, tetapi justru menjadi penting di tengah dunia yang semakin pragmatis.

Pada akhirnya, wisuda adalah sebuah penanda. Ia menutup satu bab, sekaligus membuka bab berikutnya yang jauh lebih kompleks. Setelah toga dilepas, para lulusan akan kembali ke dunia yang tidak selalu ramah pada idealisme.

Sebagian akan kembali ke pekerjaan lama dengan perspektif baru. Sebagian lain akan memulai langkah pertama mereka. Ada pula yang memilih jalur wirausaha, mencoba peruntungan di sektor UMKM atau ekonomi kreatif yang penuh tantangan.

Namun, di balik semua kemungkinan itu, ada satu benang merah yang mengikat: harapan.

Harapan bahwa mereka tidak sekadar menjadi bagian dari sistem, tetapi mampu memberi makna di dalamnya. Harapan bahwa ilmu yang diperoleh tidak berhenti di ruang kelas, melainkan mengalir dan memberi dampak. Dan yang tak kalah penting, harapan bahwa integritas tetap menjadi pegangan—bahkan ketika tidak ada yang melihat.

Join Telegram Group Shipping & Logistics:

Di dunia yang terus berubah, mungkin itulah taruhan terbesar mereka.