Pelabuhan Hamburg bersama dengan beberapa operator utamanya telah menemukan cara baru untuk menangani kemacetan pelabuhan dan backlog serta emisi yang dihasilkan selama pengiriman peti kemas di kompleks pelabuhan yang luas. Mulai 1 November, sebuah proyek akan diluncurkan dengan Unifeeder, yang menyebut Hamburg sebagai pusat pelabuhan transshipment terbesar, mengangkut peti kemas menggunakan kapal laut alih-alih melalui jalan antar terminal.
Kendati terdapat sedikit penurunan dibandingkan dengan tahun 2020, namun Hamburg menangani hampir hampir 9 juta TEU pada tahun 2021, masih menempatkan pelabuhan tersebut pada peringkat 20 pelabuhan dunia. Tahun lalu, terdapt lebih dari 3.500 kapal peti kemas di pelabuhan termasuk lebih dari 200 kapal ultra-besar yang mengangkut setidaknya 18.000 TEU. Selain menjadi tujuan utama terutama pada rute pelayaran Asia, Hamburg juga merupakan salah satu pelabuhan transshipment terkemuka di Eropa Utara. Pejabat pelabuhan menyoroti bahwa secara total, Pelabuhan Hamburg memiliki sekitar 3,3 juta TEU transshipment pada tahun 2021. Kendati tidak seluruhnya diankut antar terminal, namun mereka melaporkan bahwa sejumlah besar peti kemas diangkut dengan truk setiap hari antara terminal utama di berbagai lokasi terminal di sekitar pelabuhan.
Alexander Geisler, Managing Director DIHLA DAKOSY Interessengemeinschaft Hamburger Linienagenten (DIHLA) mengugnkapkan, “Transshipment berbasis kapal dapat membawa beberapa ribu kontainer keluar dari jalan setiap tahun. Setiap kontainer yang dapat kami angkut melalui jalur air dapat mengurangi emisi CO2,”. Perusahaan pelayaran Denmark Unifeeder adalah pemrakarsa, bersama dengan spesialis perangkat lunak Hamburg DAKOSY dan DIHLA, yang berpartisipasi dalam menciptakan proses digital yang juga mencakup penanganan bea cukai untuk mengangkut peti kemas di pelabuhan dengan kapal. Mereka merancang manifes transshipment elektronik baru yang menetapkan kerangka kerja untuk proses digital dan penanganan bea cukai kapal transshipment.
Unifeeder menyoroti bahwa ia memiliki hingga 85 kunjunganterminal per minggu dengan operasinya saat ini yang memberinya kapasitas untuk memfasilitasi transfer ini. Layanan ini akan menyediakan transfer peti kemas dengan kapal pengumpan antara terminal HHLA CTA, CTT, dan CTB, serta Eurogate dan, dalam waktu dekat, Terminal Süd-West. Selama percobaan tiga bulan, mereka melaporkan bahwa mereka sudah dapat mengangkut sekitar 50 kontainer per bulan. Melihat lebih jauh ke depan, Unifeeder berusaha untuk mengalihkan 50% operasi transshipment dari truk ke operator feeder.
Menurut pejabat pelabuhan, manfaat yang diproyeksikan termasuk memberikan bantuan kepada infrastruktur pelabuhan dengan mengurangi jumlah perjalanan truk antar terminal, waktu tunggu yang lebih singkat di terminal, dan terkait penurunan emisi CO2. Seperti banyak pelabuhan, Hamburg telah melaporkan kekurangan pengemudi truk yang memenuhi syarat, yang mereka harap dapat diatasi dengan kapal pengumpan.
“Kami telah merasakan efek dari penurunan jumlah pengemudi truk muda selama bertahun-tahun,” ungkap Florian Pein, Area Director Eropa Barat dan Tengah di Unifeeder. “Hal ini semakin menyebabkan kurangnya sumber daya transshipment dan menyebabkan waktu tunggu yang lama di Pelabuhan Hamburg,”
Perusahaan melihat potensi tinggi untuk mengalihkan sejumlah besar kontainer dari jalan ke jalur air. DAKOSY mengungkapkan, model integrasi baru yang dikembangkan untuk Sistem Komunitas Pelabuhan menarik minat yang lebih luas dan mulai November akan tersedia lebih luas untuk perusahaan yang beroperasi di Pelabuhan Hamburg.
