Pemerintah Korea Selatan telah menguraikan serangkaian langkah baru yang rencananya akan diambil untuk lebih mendukung industri galangan kapal dan mempertahankan posisi kompetitifnya. Selain pertumbuhan pesanan baru yang kuat, industri galangan kapal juga menghadapi kesulitan berupa harga baru dan kenaikan biaya serta meningkatnya kekurangan tenaga kerja.
Industri galangan kapal Korea Selatan bersaing ketat dengan galangan kapal China untuk menduduki posisi teratas dalam jumlah pesanan baru. Pada tahun 2021 lalu, pesanan baru di galangan kapal utama Korea Selatan dilaporkan melebihi target tahunannya mencapai 52,3 juta ton kotor kompensasi (CGT) sekaligus menjadi yang tertinggi sejak tahun 2013. Dalam tujuh bulan pertama tahun ini, galangan kapal Korea membukukan tambahan pesanan sebanyak 11 juta ton, naik sebesar 46% dibandingkan dengan tahun lalu.
Pada sebagian besar tahun 2022, Korea Selatan mampu tetap unggul atas pesaingnya, Cina yang sebagian besar disebabkan oleh pertumbuhan pesanan operator LNG, namun Korea Selatan juga harus menghadapi kesulitan terutama masalah kenaikan biaya dan kekurangan baja sehingga berdampak pada profitabilitasnya. Sementara itu, Cina turut berpartisipasi di segmen operator gas serta mengembangkan teknologi baru.
Berusaha mempertahankan keunggulannya sebagai galangan kapal bernilai tinggi, pemerintah Korea Selatan mengumumkan serangkaian langkah baru untuk mengatasi tekanan pada industri ini. Pemerintah menyatakan keprihatinan atas “gerakan pengetatan ikat pinggang yang intens,” oleh negara-negara di seluruh dunia dalam menghadapi kenaikan inflasi dan kekhawatiran akan resesi. Sebagai tanggapan, kementerian keuangan mengatakan pemerintah akan menginvestasikan dana sekitar USD 100 juta pada tahun 2023 guna membantu industri ini mengembangkan teknologi baru. Pemerintah tetap fokus pada kapal ramah lingkungan dan teknologi otomasi dengan menetapkan target pangsa pasar 75% pada tahun 2030. Pemerintah juga berupaya untuk membangun keahlian dalam operator gas, menetapkan tujuan untuk mendiversifikasi pesanan guna memenangkan usaha penyimpanan terapung (FSRU).
Salah satu perhatian utama industri galangan kapal adalah meningkatnya kekurangan pekerja seiring dengan bertambahnya usia tenaga kerja. Kementerian tenaga kerja misalnya melaporkan bahwa persentase pekerja berusia 20-an dan 30-an di industri ini telah turun dari setengahnya menjadi sekitar sepertiga angkatan kerja hanya dalam waktu lima tahun. Dalam periode yang sama, jumlah pekerja usia 60-an meningkat dua kali lipat menjadi lebih dari 6% angkatan kerja.
Industri galangan kapal memperkirakan kekurangan 7.500 pekerja untuk memenuhi pesanan mereka saat ini dan pada kuartal kedua tahun depan kekurangan pekerja diperkirakan akan melebihi 10.000.
Pemerintah menyebutkan upah rendah sebagai salah satu faktor utama yang berkontribusi terhadap kekurangan pekerja serta persaingan yang kuat dari industri lain. Mereka lebih lanjut mengutip kekhawatiran atas meningkatnya penggunaan subkontraktor di industri galangan kapal, yang menurut pemerintah hanya menghasilkan 50% hingga 70% dari upah pekerja galangan kapal lainnya. Mulai Juni 2022, masalah upah dan kondisi kerja menyebabkan aksi mogok berkepanjangan di Daewoo Shipbuilding & Marine Engineering oleh subkontraktor yang semakin menekan kondisi keuangan perusahaan.
Kementerian keuangan mengumumkan bahwa pemerintah akan memperbaiki kesepakatan yang tidak adil antara kontraktor dan subkontraktor serta mengubah sistem upah yang ada untuk mempertimbangkan tugas dan keterampilan. Pemerintah juga ingin mengurangi penggunaan subkontraktor oleh industri dengan mengatasi kekurangan tenaga kerja saat ini.
Menanggapi tekanan dari industri galangan kapal, pemerintah mengatakan sedang mengambil langkah-langkah untuk mempermudah perekrutan dan mempertahankan pekerja asing dan meningkatkan kondisi kerja untuk menarik anak muda Korea ke industri ini. Pemerintah meningkatkan ketersediaan visa dan juga memungkinkan pekerja asing membawa keluarganya ke Korea. Mereka juga mendukung program pelatihan baru dan meningkatkan subsidi untuk pelatihan kejuruan guna menarik lebih banyak orang Korea ke industri galangan kapal. Tujuannya adalah untuk memenuhi permintaan pesanan saat ini sambil juga membantu transisi industri ke teknologi “galangan pintar” baru untuk mengatasi kekurangan tenaga kerja dan efisiensi pembuat kapal.
