Laporan Global Port Tracker terbaru yang dirilis hari ini oleh National Retail Federation (NRF) dan Asosiasi Hackett menerangkan bahwa kendati belanja konsumen meningkat, namun impor peti kemas AS diperkirakan 22% lebih rendah pada paruh pertama tahun 2023 dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Laporan tersebut menyoroti gangguan yang terjadi di pelabuhan Pantai Barat, meskipun insiden tersebut belum berdampak luas pada data nasional.
Wakil Presiden NRF untuk Rantai Pasokan dan Kebijakan Kepabeanan Jonathan Gold mengatakan, “Volume kargo lebih rendah dari tahun lalu tetapi pengecer memasuki musim pengiriman tersibuk tahun ini dengan membawa barang dagangan liburan. Hal terakhir yang dibutuhkan pengecer dan pengirim lainnya adalah gangguan berkelanjutan di pelabuhan”.
Awal pekan ini NRF mengeluarkan pernyataan yang meminta pemerintahan Biden untuk campur tangan menyusul laporan gangguan di terminal di Ports of Oakland dan Long Beach. Gangguan telah terjadi karena International Longshore and Warehouse Union dan Pacific Maritime Association telah gagal mencapai kesepakatan tenaga kerja baru setelah lebih dari satu tahun negosiasi.
“Jika tenaga kerja dan manajemen tidak dapat mencapai kesepakatan serta beroperasi dengan lancar dan efisien, pengecer tidak punya pilihan selain terus membawa kargo mereka ke gerbang Pantai Timur dan Pantai Teluk,” kata Gold. “Kami terus mendesak pemerintah untuk turun tangan dan membantu para pihak mencapai kesepakatan dan mengakhiri gangguan sehingga operasi dapat kembali normal. Kami memiliki cukup banyak masalah rantai pasokan yang tidak dapat dihindari selama dua tahun terakhir. Ini bukan waktunya untuk hal yang bisa dihindari.”
Ben Hackett, Pendiri Hackett Associates, mencatat perbedaan antara penurunan permintaan impor peti kemas dan pertumbuhan permintaan konsumen yang terus berlanjut. “Ekonom dan operator pelayaran semakin bertanya-tanya mengapa penurunan permintaan impor peti kemas sangat bertentangan dengan pertumbuhan permintaan konsumen yang berkelanjutan,” kata Hackett. Kendati jumlah tenaga kerja yang kuat dan peningkatan pendapatan pribadi, namun pengiriman peti kemas impor hanya mencapai tingkat pra-pandemi yang terlihat pada tahun 2019 dan diperkirakan akan tetap demikian di masa mendatang.
Pada bulan April, pelabuhan AS yang dicakup oleh Global Port Tracker menangani 1,78 juta Twenty-Foot Equivalent Units (TEU), mewakili peningkatan 9,6% dari bulan Maret tetapi penurunan signifikan sebesar 21,3% dari tahun ke tahun. Sementara angka bulan Mei belum dilaporkan, Global Port Tracker memproyeksikan penurunan 23% dari tahun ke tahun, sebesar 1,84 juta TEU. Perkiraan untuk Juni mencapai 1,91 juta TEU, turun 15,3% dari periode yang sama tahun lalu. Proyeksi ini menunjukkan bahwa paruh pertama tahun 2023 akan menyaksikan total 10,5 juta TEU, turun 22,3% dari paruh pertama tahun 2022.
Ke depan, Global Port Tracker memperkirakan penurunan volume impor untuk bulan-bulan yang tersisa tahun ini. Juli diperkirakan mencapai 1,99 juta TEU, turun 8,8% YoY, diikuti Agustus sebesar 2,02 juta TEU, turun 10,5%. September dan Oktober diproyeksikan memiliki volume impor masing-masing sebesar 1,95 juta TEU, yang menunjukkan penurunan masing-masing sebesar 4% dan 2,7%.
Kendati perkiraan setahun penuh belum diberikan, namun kuartal ketiga 2023 diperkirakan akan mencapai total 5,97 juta TEU, turun 7,9% dari periode yang sama tahun sebelumnya. Sembilan bulan pertama tahun 2023 diproyeksikan mengakumulasi 16,48 juta TEU, menandai penurunan 17,6% dibandingkan periode yang sama tahun 2022. Volume impor untuk keseluruhan tahun 2022 mencapai 25,5 juta TEU, sedikit menurun sebesar 1,2% dari rekor yang ditetapkan pada tahun 2021 mencapai 25,8 juta TEU.
