Raksasa pelayaran global, Maersk, mewanti-wanti adanya oversupply kapal yang akan berdampak pada penurunan keuntungan pelayaran yang semakin dalam tahun ini. Maersk juga menggarisbawahi, lonjakan freight rate saat ini sebagai dampak dari krisis yang terjadi di Laut Merah tidak berdampak signifikan terhadap harga saham pelayaran. Setidaknya itu terlihat pada harga saham Maersk yang terus mengalami penurunan.
Situasi ini mendorong Maersk untuk menghentikan program buy back sahamnya.
Hal ini sangat kontras dengan optimisme beberapa analis dan investor. Apalagi, saham-saham perusahaan pelayaran petikemas tergolong saham dengan kinerja terbaik di bursa saham Eropa di awal tahun ini, menyusul kenaikan freight rate sebagai dampak krisis di Laut Merah.
Sama seperti perusahaan pelayaran lainnya, Maersk terpaksa mengalihkan kapal-kapalnya ke rute yang lebih panjang melalui Tanjung Harapan Afrika. Beberapa analis memperkirakan waktu perjalanan yang lebih lama dan tarif angkutan yang lebih tinggi akan mengimbangi jumlah kapal-kapal baru yang sudah dan segera dioperasikan, sehingga keseimbangan pasar tetap terjaga.
Namun, CEO Maersk Vincent Clerc tidak begitu sependapat dengan pandangan-pandangan tersebut. Menurutnya, krisis Laut Merah tidak sebanding dengan skala gangguan yang disebabkan oleh pandemi Covid-19. Kenaikkan freight dan peningkatan keuntungan pelayaran selama pandemi juga ditopang oleh banyak faktor termasuk lockdown, perubahan perilaku konsumen, dan kongesti di pelabuhan.
“Ini sangat berbeda, karena kenaikan harga hanya ditentukan oleh transit time (waktu berlayar) yang lebih lama. Jika nantinya pelayaran melalui Terusan Suez kembali normal, harga akan langsung turun,” kata Clerc sebagaimana ditulis Reuters.
Maersk, yang dipandang sebagai barometer perdagangan dunia, mengatakan sepertiga volume peti kemasnya terkena dampak gangguan di Laut Merah.
Jumlah Kapal Terlalu Banyak
Sebagaimana dilaporkan sebelum-sebelumnya, peningkatan pendapatan Perusahaan-perusahaan pelayaran selama pandemi (2021-2022), telah mendorong mereka jor-joran dalam melakukan investasi pengadaan kapal baru. Kapal-kapal baru yang sudah mulai beroparasi sejak akhir tahun lalu diperkirakan bisa menutup kebutuhan pasar karena meningkatnya permintaan sebgai dampak dari krisis Laut merah.
Namun, menurut Clerc, kapal-kapal yang mulai beroperasi pada awal tahun akan mulai menciptakan kondisi oversupply mulai tahun 2024 dan akan semakin terasa pada 2025 dan mungkin hingga tahun 2026.
“Kita akan melihat jumlah kapal di dunia terlalu banyak dibandingkan dengan jumlah kontainer yang perlu diangkut. Bahkan, kalaupun dalam setahun ke depan kita masih terpaksa menggunakan rute Afrika (Tanjung Harapan), kita akan tetap mengalami kelebihan kapasitas dan tekanan terhadap harga akan terus berlanjut,” jelas Clerc.
Pada bulan lalu, Maersk berupaya untuk tetap berlayar melalui Laut Merah. Namu ada pesan Angkatan Laut AS tidak dapat menjamin keamanan pelayaran di wilayah tersebut.
“Tidak terjadi apa-apa dalam sekali pelayaran tidak akan bisa dijadikan patokan bahwa pelayaran sudah aman. Kami perlu yakin bahwa pada hari kami kembali ke Laut Merah, itu karena kami yakin kami dapat melakukannya secara permanen, jelas Clerc.
Harga saham Maersk kembali turun sebesar 15% dalam perdagangan pekan ini, sementara saham pesaingnya Hapag-Lloyd turun sekitar 9%.
Dengan kondisi-kondisi tersebut, Maersk menargetkan keuntungan (EBITDA) tahun ini (2024) jauh lebih rendah dari tahun lalu (2023). Maersk hanya menargetkan EBITDA sebesar $1-6 miliar pada tahun 2024, jauh lebih rendah dari EBITDA tahun lalu (2023) yang tercatat mencapai $9,6 miliar.

