Perusahaan pelayaran (liner) global melalui World Shipping Council (WSC), telah mengajukan proposal Green Balance Mechanism (GBM) kepada organisasi maritim dunia IMO (International Maritime Organization), yakni sebuah skema transisi penggunaan bahan bakar – dari bahan bakar fosil ke bahan bakar ramah lingkungan.
Proposal yang diajukan kurang lebih sebulan menjelang pertemuan Komite Perlindungan Lingkungan Laut – Marine Environment Protection Committee (MEPC) bertujuan untuk menjembatani kesenjangan harga antara bahan bakar yang paling ramah lingkungan dengan bahan bakar fosil.
Pertemuan Marine Environment Protection Committee (MEPC 81) akan dilaksanakan di London, Inggris, pada 18-22 Maret 2024.
Melalui skema GBM, biaya diambil dari bahan bakar fosil dan dialokasikan pada bahan bakar ramah lingkungan yang digunakan, sehingga rata-rata biaya bahan bakar menjadi sama. Semakin besar pengurangan emisi gas rumah kaca (GHG/Green House Gas) yang dihasilkan oleh suatu bahan bakar semakin besar alokasi keuangan yang diterima.
Dana yang dikumpulkan pada suatu tahun ditentukan oleh jumlah bahan bakar ramah lingkungan yang digunakan, sehingga memungkinkan adanya biaya yang relatif rendah pada awal transisi.
Biaya minimum yang diperlukan untuk mengimbangi perbedaan harga pada tahun tertentu akan dikumpulkan oleh IMO dan dialokasikan oleh badan PBB tersebut untuk kapal yang menggunakan bahan bakar ramah lingkungan yang memenuhi ambang batas gas rumah kaca tertentu.
“Green Balance Mechanism dapat disesuaikan dan sepenuhnya terintegrasi dengan standar intensitas bahan bakar gas rumah kaca,” jelas WSC dalam pernyataanya.
“Mekanisme ini dapat digunakan sebagai mekanisme penetapan harga gas rumah kaca yang ditargetkan, atau sebagai tambahan pada mekanisme yang terintegrasi,” lanjut WCW dalam pernyataan tersebut.
Sejumlah pimpinan pelayaran global turut memberikan pandangan terkait pentingnya skema tersebut dan agar bisa dibahas dalam pertemuan MEPC bulan depan.
“Penting untuk memiliki pendekatan baru terhadap penetapan harga gas rumah kaca yang akan mendorong permintaan bahan bakar yang lebih ramah lingkungan sejak awal transisi. Kami membutuhkan dukungan dari otoritas, vendor, dan pelanggan,” kata K.H. Wu, CEO Perusahaan Pelayaran Taiwan Evergreen.
Hal senada disampaikan oleh Soren Toft, CEO Mediterranean Shipping Company (MSC), perusahaan pelayaran peti kemas terbesar di dunia. Menurut Soren, produsen energi perlu berkomitmen untuk menyediakan bahan bakar alternatif untuk pelayaran. Karena itu, mereka perlu diberi insentif untuk memproduksinya.
“Usulan (proposal GBM) WSC ini memberikan insentif dengan menciptakan mekanisme untuk menyeimbangkan harga bahan bakar alternatif dengan bahan bakar yang menghasilkan emisi gas rumah kaca lebih tinggi di pasaran, sehingga mampu mempercepat permintaan,” jelas Toft.
Adapun agenda utama yang harus diselesaikan dalam pertemauan MEPC bulan depan adalah bagaimana langkah-langkah yang akan diambil menindaklanjuti dan mengimplementasikan perjanjian diplomatik tahun lalu untuk mencapai net-zero pada tahun 2050.
International Chamber of Shipping telah mengusulkan dana zero emisi atau zero-emission shipping fund (ZESF), yang disponsori bersama oleh Bahama dan Liberia. Dalam skema ZES, kontribusi dari kapal per ton CO2e yang dihasilkan akan digunakan untuk mengurangi kesenjangan biaya antara bahan bakar nol gas rumah kaca dan bahan bakar konvensional.
Delapan negara kepulauan kecil (SIDS/ small island developing states) di Pasifik dan Karibia telah memperbarui proposal yang telah mereka usulkan selama bertahun-tahun, yaitu retribusi wajib universal atas emisi efek gas rumah kaca atau emisi GHG (Green House Gas).
Negara-negara tersebut juga telah menetapkan posisi yang sama mengenai pencairan pendapatan, dengan pertimbangan sebagian besar dana akan disalurkan pada kebutuhan prioritas negara-negara yang paling rentan terhadap perubahan iklim.

