Skip to content

Transformasi SPMT dan Upaya Meningkatkan Pangsa Pasar Kargo Curah

Tranformasi yang dilakukan PT Pelindo Multi Terminal (SPMT) dalam dua tahun terakhir pasca merger telah menunjukan hasil yang positif. Setidaknya, hal tersebut terlihat pada waktu sandar kapal (port stay) serta waktu menginap barang (cargo stay) yang lebih pendek. Produktivitas pun meningkat, tidak hanya pada sisi terminal tetapi juga pada sisi pengguna (port user).

Para pengguna jasa mengakui dampak positif tersebut. Namun berharap Pelindo terus melakukan investasi dan transformasi lanjutan. Investasi dan transformasi juga diharapkan dilakukan melalui pembenahan infrastuktur dan modernisasi fasilitas, terutama fasilitas untuk bongkar muat komoditas unggulan.

Get Free Latest Magazine by Join Our Weekly Newsletter:Click here to join free weekly newsletter

Apalagi, potensi pasar kargo curah, khususnya komoditas unggulan seperti batu bara, CPO (crude palm oil), dan gas masih sangat besar. Sebagai operator terminal yang melayani bongkar muat komoditas-komoditas tersebut, SPMT memiliki peluang yang sangat besar untuk memperbesar market share dari komoditas-komoditas tersebut.

Potensi Pasar Menjanjikan  

Kargo nonpetikemas (curah) Indonesia sangat potensial, baik curah kering (dry bulk) maupun curah cair (liquid bulk). Ini tak terlepas dari tingginya volume beberapa komoditas unggulan seperti batu bara, CPO, dan gas. Ketiganya merupakan komoditas ekspor unggulan, pemberi devisa terbesar.

Indonesai merupakan negara eksportir batu bara terbesar kedua di dunia setelah Australia. Pada tahun lalu (2023), menurut data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), total produksi batu bara Indonesia mencapai 775,2 juta mt (metric ton), naik 12% secara year-on-year (YoY), dari 694 juta mt pada tahun 2022.

Dari jumlah tersebut, sebanyak 508 juta mt diekspor, dengan Tiongkok sebagai importir terbesar, mencapai 215,7 juta mt, dan disusul oleh India (108,40 juta mt). Sedangkan sebanyak 213 juta mt untuk kebutuhan dalam negeri. Hal ini menempatkan batu bara sebagai komoditas unggulan dalam angkutan dry bulk (curah kering).

Komoditas ekspor andalan Indonesia lainnya yaitu CPO. Pada tahun 2023, produksi CPO Indonesia mencapai lebih dari 50,07 juta ton, naik 7,15% secara YoY, dari 46,73 juta ton pada tahun 2022.

Yukki Nugrahawan Hanafi: “Bisnis logistik dan transportasi selalu dikonotasikan dengan petikemas. Padahal, yang nonpetikemas jauh lebih potensial.”

Hal yang sama terjadi pada komoditas gas. Volume produksi gas diperkirakan akan semakin meningkat. Apalagi, pemerintah, melalui SKK Migas menargetkan produksi gas sebesar 12 miliar kaki kubik per hari (12 MMSCFD) pada tahun 2030.

Yukki Nugrahawan Hanafi, Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Indonesia (KADIN) dan mantan Ketua Umum Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) mengakui potensi tersebut. Yukki menggarisbawahi, selain menjadi penyumbang utama pendapatan negara, komoditas-komoditas tersebut juga memberikan kontribusi yang signifikan bagi seluruh pelaku usaha transportasi dan logistik.

“Bisnis logistik dan transportasi selalu dikonotasikan dengan petikemas. Padahal, yang nonpetikemasjauh lebih potensial. Sebut saja komoditas batu bara dan hasil tambang lainnya, CPO, minyak dan gas. Volumenya jauh lebih besar,” kata Yukki.

Komoditas-komoditas tersebut, tegas Yukki, tidak hanya memberikan devisa besar bagi negara, tetapi juga untuk keberlangsungan pelaku usaha. “Tidak hanya bagi produsen atau ekportirnya, tetapi juga bagi usaha transportasi dan logistik, termasuk pengelola terminal dan pelabuhan,” kata Yukki dalam sebuah diskusi dengan Indonesia Shipping Gazette.

Hal senada disampaikan Carmelita Hartoto, Ketua Umum asosiasi pengusaha pelayaran nasional – Indonesia National Shipowners’ Association (INSA). Carmelita mengakui potensi komoditas-komoditas tersebut telah memberikan keuntungan besar bagi perusahaan pelayaran nasional, terutama untuk pelayaran break bulk (pengangkut batu bara) dan pelayaran tanker baik yang mengangkut CPO maupun minyak dan gas. Dan tentu juga bagi sektor terkait lainnya, termasuk pelabuhan sebagai tempat bongkar muat.

Carmelita Hartoto: “Ke depan, potensi angkutan curah, baik curah kering maupun curah cair semakin besar.”

“Ada ratusan perusahaan pelayaran yang ikut menikmati potensi dari komoditas-komoditas tersebut dan mungkin ribuan pelabuhan dan terminal. Ke depan, potensinya semakin besar mengingat ada beberapa program pemerintah yang memungkinkan angkutan nonpetikemas tumbuh semakin besar,” kata Carmelita kepada Indonesia Shipping Gazette.

Dia menyebutkan beberapa program yang berpotensi mendukung pertumbuhan kargo nonpetikemas. “Program hilirisasi akan meningkatkan volume muatan raw material (bahan baku) untuk kebutuhan smelter. Pemerintah juga menargetkan peningkatan produksi minyak dan gas. Belum lagi proyek IKN (Ibu Kota Nusantara) yang tentu membutuhkan bahan baku untuk pembangunan,” jelas Carmelita.

Terkait kebutuhan proyek IKN, dalam sebuah kesempatan, Akbar Johan, Direktur Komersial Krakatau Steel yang sekaligus Ketua Badan Rantai Pasok KADIN dan Ketua Umum Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI), mengatakan IKN setidaknya membutuhkan 9 juta ton baja untuk pembangunan. “Itu baru baja, belum bahan bangunan lainnya,” katanya.

Transformasi: Efisiensi Layanan, Perluasan Market Share

Sebagai operator pelabuhan nonpetikemas terkemuka, SPMT sebenarnya sangat paham dengan potensi tersebut. Karena itu, sejumlah langkah transformasi yang dilakukan dalam dua tahun terakhir pasca merger terus dilakukan, sehingga bisa mendukung percepatan proses bongkar muat (efisiensi), peningkatan produktivitas, dan pada akhirnya perluasan market share.

Terkait dengan transformasi yang telah dilakukan,  Direktur Operasi SPMT Arif Rusman Yulianto menjelaskan hal tersebut berjalan dalam tiga tahap yaitu standardisasi, sistemisasi, dan integrasi. Transformasi dilakukan secara menyeluruh pada 6 pilar utama proses, sumber daya manusia, teknologi, peralatan, infrastruktur dan HSSE.

Arif Rusman Yulianto: “Transformasi yang dilakukan baik melalui PTOS-M maupun peningkatan status terminal menjadi dedicated, merupakan upaya meningkatkan pangsa pasar.”

“Saat ini kami berada pada level maturity 3 dan kami akan terus melakukan transformasi,” jelas Arif. Sepanjang tahun 2023, SPMT telah melakukan transformasi pada 24 cabang secara nasional, lanjutnya.

Ia menjelaskan, standardisasi dan digitalisasi dimulai dari perencanaan dan pengendalian, serta perbaikan arus lalu lintas, sehingga aktivitas bongkar muat bisa maksimal.

Untuk mendukung proses transformasi pelabuhan, SPMT menerapkan PTOS-M (Pelindo Terminal Operating System Multi Purpose), sebuah platform aplikasi operasional kargo nonpetikemas yang bekerja sesuai sistem berbasis perencanaan dan pengendalian. PTOS-M memiliki arsitektur yang terintegrasi dengan sistem lain seperti: portal pelanggan, sistem layanan kapal, dan sistem layanan keuangan.

Selain penerapan PTOS-M, SPMT juga telah melakukan transfromasi terminal dari terminal multipurpose menjadi dedicated terminal. Beberapa terminal sudah berstatus sebagai dedicated terminal termasuk Terminal Curah Cair (TCC) Ujung Baru, Terminal Curah Kering (TCK) Ujung Baru, TCK IKD 2 dan IKD 3 Pelabuhan Belawan; TCC CPO I dan CPO II Dermaga Pelabuhan Bagendang; TCK Dermaga C dan TCC Dermaga B Dumai; TCK Multiguna 2 Pelabuhan Tanjung Intan, TCC Jetty 1 dan 2 Pelabuhan Bumiharjo; dan TCC Martapura Baru Pelabuhan Trisakti.

“Transformasi yang dilakukan baik melalui PTOS-M maupun peningkatan status terminal menjadi dedicated, merupakan bagian dari strategi kami untuk menciptakan efisiensi layanan, peningkatan produktivitas, dan pada akhirnya meningkatkan pangsa pasar. Dengan satus dedicated, TCC diharapakan mampu meningkatkan pangasa pasar curah cair, dan TCK mampu meningkatkan pasar curah kering,” kata Arif.

Transformasi tersebut tercatat mampu memberikan dampak yang significant terhadap kinerja. Port stay dan cargo stay semakin pendek, sementara throughput terus menunjukkan trend peningkatan.

Pada tahun 2023, jelas Sekretaris Perusahaan SPMT Fiona Sari Utami, kenerja hampir semua jenis kargo mengalami pertumbuhan. Throughput curah kering, termasuk batu bara, naik 5,9% YoY, menjadi 55,1 juta ton. Hal yang sama terjadi pada curah cair yang naik sebesar 8,9% menjadi 30,3 juta ton, sedangkan gas meningkat 49,8 persen menjadi 13,1 juta MMBTU.

Memang, angka-angka tersebut belum optimal jika dibandingkan dengan potensi market yang ada. Namun, transfromasi yang dilakukan, setidaknya mampu mendorong pertumbuhan market share.

Modernisasi Peralatan, Tariff Harus Competitive

Beberapa pengguna jasa yang dihubungi mengakui hasil positif dari program transformasi yang dilakukan SPMT. PTOS-M dinilai sangat mempercepat proses layanan kepelabuhanan sehingga bisa mempercepat proses bongkar muat maupun receiving dan delivery. Demikianpun dengan program dedicated terminal. Produktivitas merekapun meningkat.  

Teddy Herlambang: “Kalau bisa tariff bongkar muat batu bara lebih murah, peralatan harus segera dimodernisasi.”

“Proses layanan, khususnya layanan stuffing dan stripping yang dilakukan PTP (anak usaha SPMT) semakin cepat dengan adanya system yang baru,” kata Irsyad Pahlevi, Wakil Ketua Asosiasi Perusahaan Bongkar Muat (APBMI) Sumatera Selatan.  “Kami mendukung jika ada system yang membuat layanan lebih cepat dan kerja lebih efisien,” lanjutnya.

“Hanya saja, perlu dipikirkan langkah antisipatif jika system mengalami masalah.”

Hal senada disampaikan Teddy Herlambang, Ketua Indonesia Shipping Agencies Association Jambi (ISAA Jambi). Menurutnya, penerapan system baru di Pelabuhan Talang Duku Jambi telah memangkas waktu sandar kapal secara signifikan. “Pelindo telah menunjukkan peningkatan dalam pelayanan berkat transformasi yang dilakukan melalui digitalisasi,” komentar Teddy.

Namun Teddy mengharapkan Pelindo agar menerapkan tariff yang lebih kompetitif serta menyiapakan peralatan yang lebih modern dengan produktivitas yang lebih cepat.

“Kalau bisa tariff bongkar muat batu bara lebih murah, atau paling tidak sama dengan tariff di berberapa TUKS di sini. Demikianpun peralatan, harus segera dimodernisasi. Di sini banyak TUKS memiliki peralatan (conveyor) yang lebih canggih dengan kecepatan bongkar muat yang jauh lebih cepat. Padahal tariff mereka lebih murah.”

Pelabuhan Talang Duku milik Pelindo di Jambi tetap menjadi pelabuhan (terminal) terbesar di propinsi tersebut. Namun, belum menjadi pemain dominan untuk komoditas batu bara di antara ratusan TUKS di sepanjang Sungai Batanghari.

Hal serupa bisa ditemukan di Pelabuhan Bengkulu. Pelabuhan ini belum optimal memenuhi permintaan batu bara untuk kebutuhan ekspor. Luis, pemilik salah satu perusaan angkutan mengakui belum memenuhi semua permintaan ekspor batu bara dari propinsi tersebut. Salah satu faktornya karena produktivitas pelabuhan belum memadai padahal dari sisi supply sudah mencukupi.  

Bengkulu sebenarnya mampu men-supply sekitar 7 juta ton/tahun, namun produktivitas pelabuhan Bengkulu baru mencapai 4 juta ton/tahun. “Seharusnya Pelindo segerea meremajakan conveyor lama yang produktivitasnya kurang maksimal,” kata Luis.

Join Telegram Group Shipping & Logistics:

Investasi yang sama dibutuhkan juga untuk mendukung bongkar muat CPO. Terminal CPO di Pelabuhan Teluk Bayur misalnya perlu segera diperluas, mengingat kapasitas yang ada saat ini dikwatirkan tidak memadai untuk melayani pertumbuhan throughput CPO yang sudah mencapai 3.5 juta ton/tahun.