Pelindo Regional 2 Tanjung Priok dinilai sudah ‘on the track’ dalam mendukung terbangunnya ekosistem logistik (logistic ecosystem). Para stakeholders kepelabuhanan menilai pola komunikasi dalam membangun kemitraan yang diterapkan oleh managemen Pelindo Regional 2 Tanjung Priok saat ini sangat mendukung terbangunnya ekosistem logistik sebagaimana yang diorong oleh pemerintah.
Menurut para stakeholders, baik para mitra seperti perusahaan bongkar muat dan perusahaan pelayaran maupun para pengguna jasa seperti eksportir/importir dan perusahaan logistik (forwarding), kemitraan yang baik merupakan landasan utama dalam mendukung terciptanya ekosistem logistik sebagaimana yang diharapkan.
“Sebagai mitra Pelindo (Pelindo Regional 2 Tanjung Priok) dalam melakukan kegiatan bongkar muat, kami melihat apa yang dilakukan managemen Tanjung Priok, khusus nya di bawah kepemimpinan Adi Sugiri (EGM/Executive General Manager), sudah sangat ‘on the track’,” kata Capt Suwondo, Ketua DPW APBMI DKI Jakarta, kepada Indonesia Shipping Gazette baru-baru ini.
“Beliau (Adi Sugiri) selalu terbuka dalam membangun komunikasi. Jika kebijakan baru terkait bongkar muat selalu dikomunikasikan dengan kami terlebih dahulu. Jika ada masalah terkait operasional, selalu didiskusikan bersama agar mendaptakan solusi yang menguntungkan semua pihak. Kami tentu sangat mengapresiasi hal tersebut,” lanjut Capt Suwondo.
Hal senada disampaikan Sekretaris INSA Jaya Moh Erwin Y Zubir. Menurut Erwin, management Pelindo Regional 2 Tanjung Priok saat ini jauh lebih proaktif dalam membangun kemitraan dengan para pelaku usaha di pelabuhan, termasuk dengan perusahaan pelayaran.
“Pak EGM (Adi Sugiri) sering berkunjung ke kantor INSA, baik yang formal maupun non-formal, untuk mendiskusikan berbagai hal terkait kepelabuhanan. Beliau sangat terbuka dengan berbagai masukan dari kami,” kata Erwin.
“Kami sangat mengapresiasi hal tersebut. Membangun komunkasi yang baik dalam membangun kemitraan, menurut kami, merupakan faktor kunci dalam mendukung ekosistem logistik, khususnya eksistem logistik pada sub-sektor kepelabuhanan,” tegas Erwin.
Adil Karim, Ketua Umum ALFI DKI, tidak menampik ada banyak persoalan yang dihadapi oleh pelaku usaha di pelabuhan Tanjung Priok sebagai gerbang utama ekspor impor Indonesia. “Sebagai pelabuhan terbesar, Tanjung Priok memiliki kompleksitas bisnis yang tinggi dengan berbagai macam jenis usaha dan pelaku usaha. Permasalahan tentu sangat banyak, baik masalah kebijakan seperti tariff maupun masalah operasional di lapangan.”
Dengan kompleksitas tersebut serta peran Pelabuhan Priok yang begitu krusial, menurut Adil, tidaklah mengherankan jika masalah yang muncul juga begitu banyak. Juga, adalah sebuah keniscayaan jika pelabuhan ini selalu menjadi sorotan, tidak hanya pada level DKI saja, tetapi selalu menjadi sorotan nasional.
“Tak jarang pelabuhan ini juga menjadi komoditas politik,” kata Adil.
Karena itu, menurut Adil, diperlukan kepemimpinan yang mumpuni dalam menjalankan pelabuhan ini, dalam arti, bisa mengakomodir semua bisnis yang berjalan agar seirama, sehinga bisa menjadi sebuah ekosistem, khususnya ekosistem logistik.
“Sejauh ini sudah berjalan baik. Ini terindikasi dari minimnya gejolak dalam setahun terakhir. Itu tidak berarti tidak ada masalah. Masalah tetap ada, tetapi pola komunikasi yang baik dalam mencari solusi bisa meminimalisir hal tersebut. Dan itu sangat penting dalam mendukung ekosistem logistik yang dicita-citakan,” jelas Adil.
Adil mencotohkan program penataan lahan eks-JICT 2 yang saat ini sedang dilakukan, di mana area ini tidak lagi menjadi trucking buffer area. Truk-truk tidak boleh lagi menunggu di area tersebut dan harus pindah ke Inggom. “Ini tidak berarti tidak ada penolakan. Cuma, Pelindo (Regional 2 Tanjung Priok) pasti sudah mensosialisasikannya dengan baik sehingga berjalan smooth,” jelas Adil.
Adi Sugiri, EGM Pelindo Regional 2 Tanjung Priok, dalam sebuah kesempatan mengakui membangun komunikasi yang baik memang menjadi hal yang selalu dilakukannya di manapun.
“Saya selalu berkeyakinan, sebagus apapun program, jika tidak di-deliver dengan baik, tidak akan memberikan hasil yang optimal. Demikianpun jika ada masalah. Sebesar apapun masalahnya, selalu ada solusi jika dikomunikasikan dengan baik,” katanya.
Perlu Dilanjutkan dalam Dua Program Berikut
Para pelaku usaha tersebut berharap agar pola komunikasi dalam membangun kemitraan tersebut tetap berlanjut ke depannya, khususnya terkait dua isu berikut yang diperkirakan berpotensi menuai pro kontra, yakni soal pembayaran konsesi dan program pengembangan Priok pasca terbitnya RIP baru (Rencana Induk Pelabuhan Tanjung Priok Terintegrasi).
Saat ini Pelindo, sedang intens mebahas soal kontribusi PBM (Perusahaan Bongkar Muat) terkait kontribusinya dalam pembayaran konsesi. Pelindo berharap agar perusahaan bongkar muat berpartisipasi dalam pembayaran konsesi senilai 2.5% dari pendapatan pelabuhan kepada pemerintah.
APBMI sebagai asosiasi yang menaungi para PBM berharap agar Pelindo Regional 2 Tanjung Priok terus membuka komunikasi dalam pembahasan masalah tersebut. Kendati tidak sepenuhnya menjadi ranahnya dalam membuat keputusan final, APBMI berharap agar Regional 2 Tanjung Priok tetap menjadi pintu masuk dalam menerima masukan-masukan dari APBMI.
“Hingga saat ini komunikasi dengan EGM berjalan terkait pembahasan tersebut berjalan baik. Kami tentu berharap agar ini tetap terpelihara sehingga bisa menghasilkan keputusan yang berkeadilan bagi semua pihak,” kata salah satu pengurus DPW APBMI DKI.
Hal serupa perlu dilakukan dalam program pengembangan Pelabuhan Tanjung Priok pasca diterbitkannya Rencana Induk Pelabuhan (RIP) Tanjung Priok sesuai dengan Keputusan Menteri Perhubungan No KM 11 Tahun 2024 tentang Rencana Induk Pelabuhan Tanjung Priok dan Marunda Terintegrasi.
RIP Baru tersebut tentunya nanti akan berpengaruh terhadap pengembangan Pelabuhan Tanjung Priok ke depannya. Bahkan, managemen sudah mulai merancang sejumlah program pengembangan sebagai tindak lanjut dari RIP baru tersebut.
Dalam sembuah diskusi dengan Indonesia Shipping Gazette, Manager Komersial Pelindo Regional 2 Tanjung Priok Gerry Guardiano menjelaskan stidaknya ada empat (4) key-point pengembangan Priok ke depannya.
Pertama, penataan lahan daratan existing pelabuhan; kedua, pengembangan Terminal Kalibaru New Priok, ketiga, relokasi penumpang, cruise, dan Roro dari Tanjung Priok ke Sunda Kelapa, dan keempat, relokasi kargo dari Sunda Kelapa ke Tanjung Priok.
“Tentunya, akan dilakukan secara bertahap,” jelas Gerry.
Adil Karim mendorong agar Pelindo perlu mensosialisasikan program-program tersebut kepada seluruh stakeholder. “Program-program tersebut tentu memiliki implikasi terhadap semua stakeholders, baik pemilik barang, pelayaran, PBM, dan bahkan buruh bongkar muat (TKBM),” kata Adil.
Namun Adil optimis hal ini bisa berjalan. “Kuncinya pola komunikasi dalam membangun kemitraan. Jika pola yang sekarang bisa dilanjutkan, saya yakin program-program tersebut bisa berjalan. Mungkin ada riak-riak kecil, tetapi bisa diatasi dengan komunikasi yang baik,” jelas Adil.

