Foto: Terusan Suez, jalur utama perdagangan Asia-Mediterania yang terganggu selama 2024
Naik turunnya tariff angkutan laut (freigh rate) dalam beberapa bulan terakhir tidak selalu seragam pada rute-rute gemuk perdagangan internasional, khususnya untuk rute Asia-Amerika dan Asia-Eropa. Beberapa rute mengalami kenaikan yang tajam, beberapa stagnan, dan beberapa malah mengalami penurunan.
Dalam beberapa minggu terakhir, menurut Drewry Shipping Consultant dan Lembaga Research Xeneta, freigh rate rute Asia – Mediterania (Eropa Selatan) mengalami kenaikkan signifikan, sebesar 22%. Sementara itu, freigh rate Asia-Eropa Utara naik 19%. Kendati secara persentase kenaikkan kedua rute ini tidak berbeda jauh, namun secara nilai cukup jomplang. Kenaikkan tersebut menyebabkan selisih antara kedua rute tersebut semakin besar yakni $700/FEU.
Tingginya freight Asia – Mediterania karena kebijakan kenaikan tariff beberapa waktu lalu menyusul peralihan rute dari Terusan Suez ke Tanjung Harapan Afrika, sebagai dampak dari konflik Laut Merah. Pengalihan rute tersebut menyebabkan biaya operasional meningkat signifikan dan memaksa pelayaran untuk menaikkan freight.
Peter Sand, Kepala Analis Xeneta, menjelaskan bahwa pola ini mulai terlihat sejak pertengahan 2024. Setelah sempat turun, tarif Mediterania kembali meningkat sejak November, dan diperkirakan tren ini akan berlanjut pada kontrak jangka panjang.
Di sisi lain, pasar Amerika, khususnya rute trans-Pasifik, menunjukkan dinamika yang berbeda. Meskipun trend volume perdagangan meningkat, freight Asia ke Pantai Barat AS (Asia-West Coast) malah turun 12%, sementara untuk Asia-Pantai Timur (East Coast) stagnan.
Simon Heaney dari Drewry Shipping Consultant mencatat bahwa tarif saat ini lebih rendah dibandingkan enam bulan lalu, meskipun permintaan meningkat menyusul kenaikan volume perdagangan dalam beberapa bulan terakhir.
Faktor Utama: Gangguan Operasional
Menurut analisis Drewry dan Xeneta, fluktuasi freight dalam setahun terakhir lebih disebabkan karena gangguan opersioanal dibanding karena meningkatnya volume perdagangan. Hal ini bisa dilihat pada perbandingan kenaikkan pada dua rute utama yakni kenaikan Asia – Eropa dan Asia-Amerika.
Kendati dalam beberapa bulan terakhir volume Asia – AS meningkat cukup tajam karena adanya rush (percepatan) pengiriman barang sebelum Pemerintahan Donald Trump memperlakukan tariff impor baru, akan tetapi freigh rate tidak mengalami kenaikan, malah mengalami penurunan. Freight Asia-Pantai Timur (East Coast) stagnan sementara Asia ke Pantai Barat AS (Asia-West Coast) malah turun 12%.
Hal berbeda terjadi pada rute Asia – Eropa, khususnya Asia – Mediterania. Menurut data Xeneta, freight pada rute ini terus mengalami kenaikkan sejak awal tahun, menyusul gangguan operasional di Terusan Suez karena konflik Laut Merah. Dalam tiga minggu terakhir ini misalnya, freight Asia – Mediterania kembali naik 22%.
Freight Mediterania diperkirakan tetap lebih tinggi, termasuk dibandingkan dengan rute Asia-Eropa Utara, sepanjang operasional Terusan Suez belum normal. Ketidakpastian konflik di Laut Merah akan memperpanjang pengalihan rute pelayaran dari Terusan Suez ke Tanjung Harapan Afrika.
Para analis juga menggarisbawahi gangguan operasional juga bisa berdampak pada kenaikan freigh rute Trans-Pasifik karena gangguan operasional. Jika rencana mogok pekerja pelabuhan yang dipelopori oleh International Longshoremen’s Association (ILA) pada Januari 2025 benar-benar terjadi, hal tersebut akan memicu stagnansi di pelabuhan, yang akhirnya akan berdampak pada kenaikkan freight, khususnya untuk rute Trans-Pasifik, baik Asia-West Coast maupun Asia -East Coast. Mogok tersebut bisa melumpuhkan operasional 36 pelabuhan di Amerika.

