Skip to content

Freight Rate Curah Kering Melemah, Pembangunan Kapal Baru Turun hingga 70%

Dalam tiga bulan terakhir, kontrak pembangunan kapal curah kering (dry bulker) tercatat mengalami penurunan signifikan, yakni 70% di bawah rata-rata tahunan. Menurut BIMCO (Baltic and International Maritime Council), penurunan ini disebabkan oleh beberapa beberapa faktor. Disamping karena tingginya biaya untuk pembangunan kapal (dry bulker) itu sendiri, juga karena freight kargo curah yang melemah tajam.

Analis BIMCO Filipe Gouveia memprediksi situasi ini akan berdampak pada nilai kontrak tahunan selama 2024 akan lebih rendah jika dibanding 2023.

Get Free Latest Magazine by Join Our Weekly Newsletter:Click here to join free weekly newsletter

Menurut BIMCO, kendati pada awal tahun hingga pertengahan kuartal tiga (Q3) pasar masih kuat, namun dalam beberapa bulan terakhir mengalami pelemahan yang cukup tajam. Ada dua faktor yang menyebabkan pelemahan tersebut. Pertama, karena permintaan impor China yang menurun. Kedua, karena kembali normalnya Terusan Panama yang memicu freigh kembali normal – dari sebelumnya melambung karena gangguan jalur terusan tersebut.

Pada bulan Oktober misalnya, Baltic Dry Index (BDI) turun 15% dibandingkan bulan sebelumnya dan kembali turun lebih dalam pada bulan November. Bahkan, jika dibanding tahun lalu, BDI bulan November turun 16%.

Kontrak pembangunan kapal Panamax dan Supramax mengalami penurunan signifikan dibanding jenis capesize. Pada tahun 2024, pembangunan kapal  jenis capesize tetap tumbuh yakni sebesar 42% dari segi kapasitas.

BIMCO lebih lanjut menjelaskan, di tengah penurunan permintaan dan tarif, para pemilik kapal masih dihadapkan pada ketidakpastian besar di pasar, baik terkait regulasi maupun prospek bisnis jangka panjang. Salah satu faktor yang mempengaruhi adalah potensi pelambatan pertumbuhan permintaan curah kering dalam beberapa tahun mendatang.

“Pengiriman batu bara yang mulai mencapai puncaknya dan meningkatnya produksi baja daur ulang berpotensi menurunkan permintaan bijih besi, yang berpengaruh langsung pada pengiriman curah kering,” jelas BIMCO.

Selain itu, ketidakpastian mengenai bahan bakar alternatif yang akan digunakan oleh kapal baru menjadi isu penting. Pembuat kapal dan operator harus memutuskan bahan bakar mana yang akan dipilih, serta mempertimbangkan ketersediaannya di berbagai pelabuhan di seluruh dunia.

Penurunan juga dipengaruhi oleh tingginya investasi perusahaan pelayaran pada jenis kapal lainnya, seperti kapal tanker, peti kemas, dan LNG. Hal ini membuat kapasitas galangan kapal penuh sehingga berdampak pada ketidakpastian bagi pemesan kapal curah kering.

Faktor lainnya adalah karena tersedianya kapal bekas yang masih layak dengan harga yang menurun. Sejak Agustus 2024, harga kapal curah bekas berusia lima tahun turun sekitar 7%. Kendati turun, harganya relatif mahal, karena masih berada pada level 90% dari harga kapal baru.

Join Telegram Group Shipping & Logistics:

Source: BIMCO