Ekspor Tiongkok mencapai rekor tertinggi pada tahun lalu, seiring dengan percepatan pengiriman barang oleh perusahaan-perusahaan untuk mengatasi lemahnya permintaan domestik dan mengantisipasi pengenaan tarif impor baru dari Amerika Serikat saat Presiden terpilih, Donald Trump, kembali menjabat di Gedung Putih.
Menurut data sebagaimana yang ditulis Bloomberg L.P, ekspor Tiongkok tercatat mencapai 25,5 triliun yuan (sekitar $3,5 triliun) pada tahun 2024, meningkat 7,1% dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara itu, impor hanya naik 2,3%, yang menghasilkan surplus perdagangan sebesar 7,1 triliun yuan bagi negara tersebut.
Nilai pengiriman barang Tiongkok meningkat hampir setiap bulan sepanjang tahun lalu, bahkan berhasil melampaui titik tertinggi yang tercatat selama pandemi. Permintaan yang kuat dari luar negeri telah menjadi salah satu pendorong pertumbuhan ekonomi Tiongkok, yang menghadapi tantangan akibat krisis perumahan yang berkelanjutan dan lemahnya konsumsi domestik.
Pertumbuhan ekspor Tingkok juga terlihat dari throughput beberapa Pelabuhan terbesarnya. Pelabuhan Shanghai, misalnya, menciptakan record dengan menjadi Pelabuhan pertama di dunia dengan throughput tahunan melampau 50 juta TEUs. Throughput pelabuhan tersebut mencapai 51,5 juta TEUs pada 2024, meningkat hampir 5% dibandingkan tahun sebelumnya dan 19% lebih tinggi dibandingkan dengan tahun 2019, sebelum pandemi.
Namun, ini mungkin merupakan salah satu puncak terakhir bagi perdagangan Tiongkok, terutama dengan Amerika Serikat. Trump, yang akan kembali menjabat minggu depan, telah berjanji untuk mengenakan tarif yang lebih tinggi pada barang-barang asal Tiongkok.
Kebijakan ini berpotensi mendorong perusahaan-perusahaan Tiongkok untuk mengalihkan ekspor mereka ke pasar lain, yang dapat membanjiri pasar dengan barang-barang murah dan memperburuk ketegangan perdagangan antara kedua negara.

