Indonesia menawarkan tambahan volume impor dari AS untuk memangkas gap neraca perdagangan, sementara pada sisi lain, Indonesia minta tariff impor sekecil mungkin untuk beberapa komoditas unggulan ekspor Indonesia
Pemerintah Indonesia mulai melangkah aktif dalam upaya meredakan ketimpangan neraca perdagangan dengan Amerika Serikat (AS). Dalam kunjungan kerja ke Negeri Paman Sam, delegasi Indonesia yang dipimpin oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengajukan sejumlah tawaran strategis, termasuk meningkatkan volume impor dari AS. Di sisi lain, Indonesia juga meminta agar tarif masuk untuk komoditas unggulan ekspor tanah air bisa ditekan serendah mungkin.
Langkah ini menjadi bagian awal dari negosiasi besar yang ditujukan untuk menciptakan hubungan dagang yang lebih adil dan saling menguntungkan antara kedua negara. Airlangga menyebutkan, Indonesia termasuk salah satu negara pertama yang diterima oleh AS untuk memulai dialog dagang, sebuah sinyal positif di tengah dinamika global yang semakin kompetitif.
Dalam 60 hari ke depan, pemerintah Indonesia menargetkan rangkaian pertemuan intensif dengan para pejabat tinggi AS yang diharapkan dapat menghasilkan perjanjian perdagangan konkret. Sejauh ini, delegasi Indonesia telah melakukan pertemuan dengan US Secretary of Commerce Howard Lutnick dan US Trade Representative Jamieson Greer. Di waktu yang sama, Menteri Luar Negeri Sugiono bertemu dengan US Secretary of State Marco Rubio.
“Indonesia termasuk negara yang diterima lebih awal. Beberapa negara lain seperti Vietnam, Jepang, dan Italia juga sudah memulai pembicaraan serupa,” ujar Airlangga dalam konferensi pers virtual, Jumat kemarin.
Tawaran Indonesia: Impor Lebih Banyak, Iklim Investasi Lebih Ramah
Dalam pembicaraan awal ini, Indonesia menyodorkan strategi untuk memangkas surplus perdagangan terhadap AS. Pemerintah bersedia meningkatkan impor barang dari AS, terutama pada sektor energi dan pertanian. Beberapa komoditas yang siap dibeli Indonesia meliputi LPG, crude oil, gasoline, serta produk agrikultur seperti gandum dan kedelai.
Tak hanya itu, pemerintah juga berkomitmen mempermudah iklim usaha bagi perusahaan-perusahaan AS yang sudah maupun akan beroperasi di Indonesia. Berbagai bentuk insentif dan kemudahan perizinan tengah disiapkan untuk meningkatkan daya tarik investasi AS di tanah air.
“Kami juga menawarkan akses terhadap produk mineral kritis, membuka pintu untuk produk hortikultura asal AS, dan mendorong kerja sama investasi dalam skema business to business (B to B),” tambah Airlangga.
Di luar aspek perdagangan barang, Indonesia turut menekankan pentingnya kerja sama di sektor pengembangan sumber daya manusia (SDM), khususnya dalam bidang pendidikan, sains, teknologi, hingga ekonomi digital.
Permintaan Indonesia: Tarif Rendah Komoditas Unggulan
Sebagai bagian dari kesepakatan dagang yang tengah dirancang, Indonesia berharap AS dapat menurunkan tarif impor untuk komoditas ekspor unggulan Indonesia seperti garmen, alas kaki, furnitur, dan udang. Selama ini, produk-produk tersebut dikenai tarif yang jauh lebih tinggi dibandingkan negara-negara pesaing, baik dari kawasan ASEAN maupun luar ASEAN.
Sebagai contoh, meski AS memberikan diskon tarif sementara sebesar 10%, produk tekstil dan garmen asal Indonesia tetap dibebani tarif protektif antara 10% hingga 37%. Kondisi ini membuat produk Indonesia relatif kurang kompetitif di pasar AS.
“Tarif yang tinggi ini akhirnya dibebankan pada konsumen dan eksportir. Jika tidak ada perubahan, maka posisi tawar produk kita akan terus melemah,” jelas Airlangga.
Dengan negosiasi yang baru saja dimulai ini, Indonesia berharap bisa mengukir kesepakatan yang tak hanya menguntungkan secara ekonomi, tetapi juga memperkuat posisi Indonesia di kancah perdagangan global.

