Skip to content

Premi Asuransi Pelayaran ke Israel Melonjak Tiga Kali Lipat

Foto: Pelabuhan Haifa, yang sebagian kepemilikannya dipegang oleh Grup Adani asal India, dilaporkan tetap beroperasi normal dalam sepekan terakhir.

Premi asuransi – asuransi risiko perang – untuk pelayaran ke wilayah Israel melonjak tiga kali lipat dalam sepekan terakhir, seiring eskalasi konflik antara Iran dan Israel.

Get Free Latest Magazine by Join Our Weekly Newsletter:Click here to join free weekly newsletter

Hal tersebut disampaikan sejumlah perusahaan pelayaran, khususnya perusahaan pelayaran yang melayani rute ke sejumlah pelabuhan di Israel, sebagaimana Reuters.

Saat ini, biaya premi untuk pelayaran selama tujuh hari ke pelabuhan-pelabuhan di Israel berada di kisaran 0,7% hingga 1,0% dari nilai kapal. Angka itu jauh di atas tarif normal yang hanya sekitar 0,2% pada pekan sebelumnya.

Meski belum melampaui lonjakan ekstrem lebih dari 2% yang tercatat pada November 2023, saat serangan mendadak Hamas menewaskan lebih dari 1.200 orang di Israel dan memicu invasi ke Gaza, kenaikan premi kali ini tetap dinilai signifikan. Perusahaan pelayaran harus mengeluarkan puluhan ribu dolar per hari ketika masuk di wilayah.

“Besaran premi per call ke Israel bervariasi,” ujar David Smith, Kepala Divisi Kelautan pada perusahaan pialang asuransi McGill and Partners, sebagaimana dikutip Reuters.

“Tarif bisa naik hingga 1% tergantung jenis kargo, kepemilikan kapal, dan pelabuhan tujuan,” lanjutnya.

Israel selama ini sangat bergantung pada pelabuhan laut untuk memenuhi kebutuhan impornya. Tiga pelabuhan utama sebagai gerbang utama arus barang masuk barang dan titik utama distribusi adalah Pelabuhan Ashdod di selatan yang berdekatan dengan Gaza, Pelabuhan Haifa di utara, serta Pelabuhan Eilat di Laut Merah.

Namun, situasi di lapangan menunjukkan tanda-tanda kerentanan. Kilang minyak terbesar di Israel milik Bazan Group di Haifa terpaksa ditutup sejak 16 Juni lalu, setelah fasilitas pembangkit listriknya mengalami kerusakan akibat serangan balasan dari Iran.

Meski begitu, aktivitas pelabuhan di Haifa disebut masih berjalan normal. Pada selasa, 18 Juni, menurut data pelacakan MarineTraffic, terdapat sekitar 30 kapal tercatat berlabuh di sekitar Teluk Haifa menurut. Sebagian besar merupakan kapal general cargo. Seorang sumber dari opetrator pelabuhan Haifa menyebutkan bahwa seluruh terminal di pelabuhan tersebut tetap beroperasi penuh.

Kekhawatiran pelaku industri pelayaran tidak hanya berasal dari risiko konflik antara Israel dan Iran. Kelompok Houthi di Yaman, yang didukung Iran, turut memperkeruh situasi. Meski telah menyepakati gencatan senjata terbatas dengan Amerika Serikat dan Inggris, kelompok bersenjata tersebut tetap menyatakan akan menargetkan kapal-kapal yang terafiliasi dengan Israel.

Pada Maret lalu, milisi Houthi bahkan mengumumkan semacam “blokade maritim” terhadap pelabuhan Haifa, sebagai respons atas konflik berkepanjangan di Jalur Gaza.

Join Telegram Group Shipping & Logistics:

Dalam kondisi seperti ini, para pelaku industri logistik dan pelayaran internasional menghadapi dilema berat: tetap mengirim kapal ke Israel dengan premi asuransi yang kian mahal, atau menempuh rute lain yang mungkin lebih panjang dan tak kalah berisiko.