Terminal Petikemas Koja (TPK Koja) tengah menjalani transformasi besar sebagai respons terhadap dinamika industri kepelabuhanan yang semakin kompleks dan kompetitif. Di tengah berbagai investasi teknologi dan infrastruktur, pembenahan sumber daya manusia (SDM) menjadi langkah strategis utama yang diambil manajemen demi menjawab tantangan sekaligus meraih peluang baru.
Hal tersebut menjadi topik utama pokok bahasan, baik yang dilontarkan oleh para pembicara maupun tanggapan dari para peserta dalam Town Hall Badge 2 TPK Koja pada Senin, 28 Juli, 2025.
General Manager KSO TPK Koja, Ali Mulyono, menegaskan bahwa keberhasilan transformasi tidak hanya bergantung pada pengadaan peralatan baru yang canggih, namun juga bagaimana kesiapan sumber daya manusianya. Bahankan, menurut Ali, pembenahan sumber daya manusia (SDM) menjadi kunci utama karena sangat dibutuhkan dalam mengawal berbagai perubahan yang sedang berlangsung.
“Tantangan dan ancaman ke depan semakin kompleks. Mimpi kita adalah bagaimana mengubah tantangan itu menjadi peluang. Untuk itu, kualitas manusia harus ditingkatkan,” ujar Ali saat memberikan kata sambutan dalam acara Town Hall tersebut.
Ali mengungkapkan, investasi yang sedang dilakukan, seperti pengadaan quay container crane (QCC) dan rubber tyred gantry (RTG), harus berjalan seiring dengan peningkatan kompetensi SDM agar transformasi tidak timpang.
“Kami sadar, teknologi tidak akan berdampak signifikan bila tidak dibarengi kesiapan manusianya,” tambahnya.
Investasi Infrastruktur dan Peralatan Baru
Selain pembenahan infrastruktur, seperti pendalaman kolam, TPK Koja juga sedang mempersiapkan kedatangan 3 unit QCC, 4 RTG, dan beberapa peralatan lainnya. Hal ini menjadi bagian dari strategi TPK Koja untuk meningkatkan daya saing di tengah ketatnya persaingan pelabuhan di kawasan Tanjung Priok.
Para pemegang saham, baik PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) maupun Hutchison Ports Indonesia (HPI) mengamini rencana investasi tersebut dan mendukung langkah managemen TPK Koja untuk melakukan peningkatan SDM.

CEO Hutchison Ports Indonesia (HPI), Seto Baskoro, mengatakan proses pengadaan tiga unit QCC dan empat unit RTG telah rampung. Alat-alat tersebut dijadwalkan tiba pada September dan mulai beroperasi pada November 2025.
“Investasi ini penting agar kita tetap kompetitif. Selain alat baru, tantangan kita juga datang dari dinamika global seperti kebijakan tarif dan perubahan jalur pelayaran,” kata Seto.
Selain tantangan tersebut, Seto juga menggarisbawahi soal regulasi pengelolaan yard occupancy ratio (YOR) agar tidak melebihi 65 persen serta persaingan internal antara terminal di Pelabuhan Tanjung Priok. Dalam menghadapi tantangan-tantangan tersebut, TPK Koja harus menyiapkan diri, antara lain dengan pengadaan peralatan baru yang lebih modern dan canggih, sehingga bisa membantu meningkatkan produktivitas.
Namun, menurut Seto, betapa pun peralatan itu tersedia tidak akan maksimal, jika tidak dibarengi dengan SDM yang kompeten dan terlatih serta didukung oleh soliditas internal yang kuat. “TPK Koja harus adaptif dan produktif. Dan fondasinya adalah kompetensi SDM serta kekompakan antara manajemen dan seluruh insan perusahaan,” tambahnya.
Sementara itu, Direktur Utama PT Pelindo yang diwakili oleh Cucu Kuswoyo (Grup Head Manajemen Portofolio Anak Perusahaan Pelindo) menyampaikan apresiasi atas pencapaian TPK Koja dalam menjaga produktivitas terminal di atas 1 juta TEUs per tahun.
“Kinerja keuangan yang solid di tengah tekanan global adalah capaian luar biasa. Tapi kita tidak boleh puas. KPI operasional tetap harus ditingkatkan. SDM adalah kunci untuk menjawab semua tantangan,” ujar Cucu.
Ia juga menekankan pentingnya menjadikan tantangan sebagai peluang. Mengacu pada pengalaman masa lalu saat implementasi UU No. 17/2008, yang sempat dianggap ancaman namun kini terbukti mendukung pertumbuhan Pelindo. Cucu mengajak semua pihak untuk tetap optimistis.
“TPK Koja adalah rumah bersama. Kita semua punya tanggung jawab untuk menjaganya agar tetap relevan dan unggul di industri ini,” tegasnya.

Restrukturisasi Oraganisasi dan Golden Handshake
Salah satu langkah nyata pembenahan SDM adalah restrukturisasi organisasi. Dalam lima tahun ke depan, sekitar 50 persen tenaga kerja TPK Koja diperkirakan memasuki usia pensiun. Kondisi ini mendorong manajemen untuk mengantisipasi melalui penataan struktur dan program pensiun dini sukarela atau golden handshake.
Deputy General Manager SDM dan Administrasi, Wiluyo Karyanto, menjelaskan bahwa restrukturisasi dilakukan untuk menciptakan organisasi yang lebih ramping, gesit, dan adaptif. Salah satu langkahnya adalah merampingkan struktur DGM dari lima menjadi empat divisi.
“Golden handshake bukan sekadar pelepasan pegawai, tetapi juga memberikan pelatihan dan pembekalan untuk masa pasca-kerja. Ini adalah bentuk apresiasi dan perencanaan SDM jangka panjang,” ujarnya.
Meski demikian, manajemen tetap waspada terhadap potensi gangguan operasional bila banyak pegawai di satu divisi memilih program tersebut. Untuk itu, skenario antisipatif dan perencanaan SDM disiapkan guna menjaga keberlangsungan pelayanan.
Menuju Terminal Unggul dan Adaptif
TPK Koja merupakan salah satu terminal peti kemas strategis di Pelabuhan Tanjung Priok, yang dikelola secara kerja sama antara PT Pelindo dan Hutchison Ports (HPI). Dalam beberapa tahun terakhir, terminal ini berhasil menunjukkan kinerja stabil di tengah tekanan eksternal, mulai dari perubahan regulasi, digitalisasi, hingga gejolak geopolitik.
Dengan strategi restrukturisasi SDM, investasi infrastruktur, dan dukungan pemegang saham, TPK Koja diarahkan tidak hanya untuk bertahan, tetapi juga menjadi terminal yang unggul dan adaptif dalam menghadapi masa depan industri maritim nasional.
“Transformasi ini bukan sekadar pengadaan alat, tapi tentang membangun fondasi manusia yang siap menyongsong masa depan,” tutup Ali.

